Manusia
Eksistensi Bertubuh
Tulisan ini adalah sebuah review yang
dibuat berdasarkan pemaparan Dr. Setyo Wibowo dalam pertemuan kedua EC STF
Driyarkara.
Relasi antara jiwa dan raga memang sulit dipahami. Secara garis
besar terdapat pertentangan dalam memandang relasi jiwa dan raga ini. Namun
meskipun demikian, materi ini adalah salah satu pokok penting dalam memahami
hakikat manusia.
·
Pandangan mengenai jiwa dan raga
1. Kata
To Soma (bahasa latin corpus) merujuk pada realitas sensibel sejauh
diperlawankan dengan realitas intelligibel. Yang dimaksud dengan realitas
sensibel artinya bisa diinderai dengan panca indera (dilihat, dibau, dicecap,
didengar, dsb)
2.
Kaum
phytagorisian berbicara mengenai tubuh sebagai “kuburan”. Bahwa tubuh
diperlukan supaya jiwa bisa merasakan sesuatu. Disini dipandang eksistensi
sebenarnya dari manusia adalah jiwa.
3. Platon menekankan bahwa jiwa terikat pada tubuh,
bahwa jiwa kita terantai pada tubuh. Bagi Platon yang disebut “tubuh” adalah 4
elemen ; air, api, tanah, udara.
4. Aristoteles
menyatakan bahwa jiwa dan tubuh adalah satu substansi yang tak terpisahkan,
keduanya hanya dua aspek dari satu substansi yang sama. Jiwa adalah “struktur
internal” dari tubuh. Tubuh itulah yang kalau dianalisis secara mendalam adalah
jiwanya
5. Descartes
manyatakan bahwa tubuh adalah “res extensa”, yakni sesuatu yang memiliki
keluasan (panjang, lebar, dan kedalaman) sedangkan jiwa adalah sesuatu yang
berbeda,
6. Stoa
mengajarkan bahwa jiwa adalah tubuh, jiwa bersifat korporal. Oleh karena itu
kalau jiwa bisa digerakkan, maka ia adalah ragawi.
·
Pandangan Materia dan Forma
ü
Dalam khasanah klasik, mengacu pada pemikiran Aristoteles, materiia diperlawankan dengan forma. Materia merujuk pada potensialitas, pada daya yang ada pada
sesuatu. Sementara Forma merujuk pada
aktualitas sesuatu. Istilah materia dan
forma hanyalah istilah dalam pikiran
kita untuk membicarakan dua aspek dari satu hal yang sama.
Ilustrasi berikut mungkin dapat
memudahkan untuk memahami pemikiran klasik ini :
bila kita dihadapkan pada sebatang kayu, maka kita bisa mengatakan
bahwa potensialitasnya bisa menjadi bahan bakar, bisa menjadi patung, bisa
menjadi alat pukul. Jadi kayu bisa disebut sebagai materia sejauh ia memiliki
kemampuan dijadikan bahan bakar, kemampuan diubah menjadi patung, dan kemampuan
dijadikan alat pukul. Sejauh potensialitasnya untuk menjadi sesuatu yang lain,
kayu itu sendiri sudah merupakan sesuatu. Sejauh kayu itu sebuah aktualitas,
sehingga formanya sendiri adalah ke-kayu-an itu sendiri.
Maka sekali lagi: distingi materia / potensi dan forma / aktus hanyalah pemilihan dalam
pikiran kita yang membuat kita mengerti bagaimana sesuatu menjadi sesuatu yang
lain.
ü
Dalam khasanah modern, kata materia dan forma dipertentangkan. Materia merujuk pada sesuatu yang memiliki massa dan menempati
ruang. Dan ini diperlawankan dengan jiwa (res
cogitans) yaitu sesuatu yang tidak
memiliki massa dan sesuatu yang berfikir. Pemikiran ini berkembang terutama
berdasarkan pemikiran Descarte. Ia berpendapat bahwa saat berhadapan dengan
sesuatu ada forma yang menjadi
semacam batas bagi sesuatu itu di dalam ruang tertentu.
ü
Dalam agama-agama, kata materi (materia) lebih dekat dengan hal yang dianggap menjadi nafsu
kedagingan. Orang yang materialistik dianggap tidak mempedulikan jiwa atau
rohnya (manusia pneumatikos).
·
Pandangan Mengenai Materialisme
§
Dalam
kajian Ontologis, materialisme artinya doktrin yang mengajarkan bahwa
satu-satunya hal yang ada hanyalah materi. Artinya sesuatu yang bersifat
individual, bisa dipresentasikan, bisa bergerak, dan ada di suatu ruang
tertentu
§
Dalam
kajian prikologis, materialisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa segala
yang kita sebut sebagai “kesadaran” hanyalah epifenomen. Artinya kesadaran
hanyalah fenomena pinggiran saja, yang tidak memiliki konsistensi dari dirinya
sendiri
Kajian Ontologis
dan Psikologis ini sama-sama menolak dualitas jiwa-badan, roh-materi. Kajian
ini hanya menerima badan / materi.
§ Dalam kajian fisikalisme, menyatakan
bahwa fenomen mental hanyalah “datang, menempel saja”. Dan fenomena mental
bergantung sepenuhnya pada fisis.
§ Materialisme Historis ciptaan Engels
merujuk pada doktrin Karl Marx yang menerangkan bahwa fakta hubungan ekonomis
adalah sebab paling menentukan dalam sejarah dan hidup sosial manusia
§ Materialisme Dialektis mengajarkan
bahwa alam semesta ini sebuah totalitas yang terbentuk dari materi-materi yang
saling terlibat, saling bergerak dan berevolusi.
·
Dua Pendapat Besar Tentang Eksistensi
Manusia
Dalam memahami
eksistensi manusia, secara umum terdapat 2 pendapat besar. Masing-masing
pendapat ini mendapat dukungan dari para filsuf. Secara ringkas kedua pendapat
tersebut disajikan dalam tabel berikut :
Dualisme
|
Monoisme
|
ü
Dualisme
pararel, didukung dengan pendapat Leibniz
|
ü
Monoisme
formal, didukung dengan pendapat Hylemorfisme Aristoteles, teori Holisme dan
panpsikisme
|
ü
Dualisme
dengan primas/prioritas pada jiwa, didukung dengan pendapat Orfisme,
Pythagoras, Descartes, Agama-agama, Platon
|
ü
Materialisme,
didukung dengan pendapat Demokritos, Stoa, Materialisme modern, fisikalisme
|
ü
Dualisme
dengan primas/prioritas pada tubuh, didukung dengan pendapat Nietzsche
|
Apakah Dualisme?. Pendapat dualisme adalah pendapat yang
memisahkan antara jiwa dan tubuh sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pendapat
dualisme ini adalah cara paling sederhana dalam memahami eksistensi manusia. Lebih
dari pada itu, pendapat dualisme adalah pendapat yang menjamin adanya immortalitas
jiwa. Dengan kata lain, setelah kematian, tubuh menghilang, namun jiwa tetap
memiliki eksistensi. Ini pula yang menjadi dogma beberapa agama besar. Adanya kehidupan
setelah kematian, ataupun reinkarnasi begitulah cara pandangan dualisme ini
dapat dengan mudah dipahami
Melalui pandangan
dualisme ini juga kita dapat melihat bagaimana manusia dianggap memiliki jiwa
yang kompleks. Karena keberadaan jiwa dianggap adalah entitas yang terpisah,
maka sangat mudah untuk menyimpulkan “sesuatu yang tidak bernyawa”. Misalnya: ketika kita melihat tutup ketel
air yang bergerak karena mendidih, maka tidak mungkin kita menyatakan bahwa
ketel itu bergerak karena memiliki jiwa. Karena pendapat dualisme menganggap 2
hal itu terpisah
Selanjutnya,
kebalikan dari pendapat dualisme adalah monoisme.
Pendapat monoisme merujuk bahwa hanya terdapat 1 prinsip saja. Monoisme formal
misalnya terlihat dalam pendapat Aristoteles. Dalam Hylemorphisme, Aristoteles
berpendapat bahwa jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan, sehingga ketika tubuh
mati maka jiwa juga hilang. Tanpa merujuk apakah jiwa atau badan yang menjadi
prinsip utama, Aristoteles menekankan kesatuan formal dari keduanya. Begitu pula
dengan pendapat monoisme dalam materialisme modern. Menurut pendapat ini segala
fenomen psikis dan spiritual bisa diterangkan lewat mekanisme material belaka. Pikiran,
rasa senang, jatuh cinta, bisa dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul
kimiawi (hormon) belaka.
Notes :
ü
Bagi
manusia, terkadang raga menjadi objek peragaan. Sehingga raga menjadi
pengejaran jati diri. Banyaknya fenomena operasi plastik menunjukan hal ini
ü
Banyak
istilah abstrak yang munculdari kata-kata Yunani berkenaan dengan tubuh :
Contoh :
1. Kardio
(jantung) : membentuk istilah olahraga untuk kardio. Sehingga istilah ini
dipahami olahraga untuk jantung
2. Khole
(cairan) : membentuk istilah melankolis. Sehingga istilah ini dipahami sebagai
orang yang melankolis disebabkan oleh kebanyakan cairan hitam di dalam tubuhnya
3. Hustera
(rahim) : membentuk istilah histeris. Sehingga istilah ini dipahami sebagai
perilaku khas wanita akibat tidak teraturnya reaksi rahim. Sebenarnya istilah
histeris ini diasosiasikan untuk perbuatan wanita
4. Pathos
(afeksi) ; membentuk istilah Pathetik. Sehingga istilah ini dipahami sebagai
sebuah perilaku yang mengharapkan afeksi.
ü
Bangsa
Yunani meyakini bahwa para Dewa memiliki tubuh. Tubuh ini disusun oleh elemen
ke 5, yang berbeda dengan elemen yang terdapat dalam dunia manusia. Elemen ini
bernama Ether. Kata ether berasal dari kata aether yang berarti esensi.
ü
Menurut
pendapat Aristoteles, jiwa bertumbuh. Pertumbuhan jiwa ini dibagi kedalam 3
kelompok :
1.
Dalam
rahim : masih bersifat vegetatif
2.
Usia 3
tahun : bersifat seperti hewan
3.
Usia 7
tahun : jiwa rasional tumbuh
Namun, meskipun
ia merumuskan demikian, pada akhirnya pertumbuhan jiwa tidak selalu mengikuti
perkembangan usia.
ü
Konflik
dalam jiwa biasanya dipengaruhi oleh hal berikut :
1. Rasio : pertimbangan
2. Kehendak : rasa takut, marah, bangga,
dll
3. Nafsu : makan, seks (atau dikenal
sebagai istilah ephitumia (ephi-tumos)
No comments:
Post a Comment