Wednesday, September 3, 2014

Review EC.F (2)

Manusia Eksistensi Bertubuh

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. Setyo Wibowo dalam pertemuan kedua EC STF Driyarkara.

Relasi antara jiwa dan raga memang sulit dipahami. Secara garis besar terdapat pertentangan dalam memandang relasi jiwa dan raga ini. Namun meskipun demikian, materi ini adalah salah satu pokok penting dalam memahami hakikat manusia.

·           Pandangan mengenai jiwa dan raga
1.    Kata To Soma (bahasa latin corpus) merujuk pada realitas sensibel sejauh diperlawankan dengan realitas intelligibel. Yang dimaksud dengan realitas sensibel artinya bisa diinderai dengan panca indera (dilihat, dibau, dicecap, didengar, dsb)
2.       Kaum phytagorisian berbicara mengenai tubuh sebagai “kuburan”. Bahwa tubuh diperlukan supaya jiwa bisa merasakan sesuatu. Disini dipandang eksistensi sebenarnya dari manusia adalah jiwa.
3.      Platon  menekankan bahwa jiwa terikat pada tubuh, bahwa jiwa kita terantai pada tubuh. Bagi Platon yang disebut “tubuh” adalah 4 elemen ; air, api, tanah, udara.
4.     Aristoteles menyatakan bahwa jiwa dan tubuh adalah satu substansi yang tak terpisahkan, keduanya hanya dua aspek dari satu substansi yang sama. Jiwa adalah “struktur internal” dari tubuh. Tubuh itulah yang kalau dianalisis secara mendalam adalah jiwanya
5.    Descartes manyatakan bahwa tubuh adalah “res extensa”, yakni sesuatu yang memiliki keluasan (panjang, lebar, dan kedalaman) sedangkan jiwa adalah sesuatu yang berbeda,
6.  Stoa mengajarkan bahwa jiwa adalah tubuh, jiwa bersifat korporal. Oleh karena itu kalau jiwa bisa digerakkan, maka ia adalah ragawi.

·      Pandangan Materia dan Forma
ü  Dalam khasanah klasik, mengacu pada pemikiran Aristoteles, materiia diperlawankan dengan forma. Materia merujuk pada potensialitas, pada daya yang ada pada sesuatu. Sementara Forma merujuk pada aktualitas sesuatu. Istilah materia dan forma hanyalah istilah dalam pikiran kita untuk membicarakan dua aspek dari satu hal yang sama.

Ilustrasi berikut mungkin dapat memudahkan untuk memahami pemikiran klasik ini : 
bila kita dihadapkan pada sebatang kayu, maka kita bisa mengatakan bahwa potensialitasnya bisa menjadi bahan bakar, bisa menjadi patung, bisa menjadi alat pukul. Jadi kayu bisa disebut sebagai materia sejauh ia memiliki kemampuan dijadikan bahan bakar, kemampuan diubah menjadi patung, dan kemampuan dijadikan alat pukul. Sejauh potensialitasnya untuk menjadi sesuatu yang lain, kayu itu sendiri sudah merupakan sesuatu. Sejauh kayu itu sebuah aktualitas, sehingga formanya sendiri adalah ke-kayu-an itu sendiri.

Maka sekali lagi: distingi materia / potensi dan forma / aktus hanyalah pemilihan dalam pikiran kita yang membuat kita mengerti bagaimana sesuatu menjadi sesuatu yang lain.
ü  Dalam khasanah modern, kata materia  dan forma  dipertentangkan. Materia merujuk pada sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Dan ini diperlawankan dengan jiwa (res cogitans)  yaitu sesuatu yang tidak memiliki massa dan sesuatu yang berfikir. Pemikiran ini berkembang terutama berdasarkan pemikiran Descarte. Ia berpendapat bahwa saat berhadapan dengan sesuatu ada forma yang menjadi semacam batas bagi sesuatu itu di dalam ruang tertentu.
ü  Dalam agama-agama, kata materi (materia) lebih dekat dengan hal yang dianggap menjadi nafsu kedagingan. Orang yang materialistik dianggap tidak mempedulikan jiwa atau rohnya (manusia pneumatikos).

·      Pandangan Mengenai Materialisme
§  Dalam kajian Ontologis, materialisme artinya doktrin yang mengajarkan bahwa satu-satunya hal yang ada hanyalah materi. Artinya sesuatu yang bersifat individual, bisa dipresentasikan, bisa bergerak, dan ada di suatu ruang tertentu
§  Dalam kajian prikologis, materialisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa segala yang kita sebut sebagai “kesadaran” hanyalah epifenomen. Artinya kesadaran hanyalah fenomena pinggiran saja, yang tidak memiliki konsistensi dari dirinya sendiri

Kajian Ontologis dan Psikologis ini sama-sama menolak dualitas jiwa-badan, roh-materi. Kajian ini hanya menerima badan / materi.

§   Dalam kajian fisikalisme, menyatakan bahwa fenomen mental hanyalah “datang, menempel saja”. Dan fenomena mental bergantung sepenuhnya pada fisis.
§   Materialisme Historis ciptaan Engels merujuk pada doktrin Karl Marx yang menerangkan bahwa fakta hubungan ekonomis adalah sebab paling menentukan dalam sejarah dan hidup sosial manusia
§   Materialisme Dialektis mengajarkan bahwa alam semesta ini sebuah totalitas yang terbentuk dari materi-materi yang saling terlibat, saling bergerak dan berevolusi.

·         Dua Pendapat Besar Tentang Eksistensi Manusia
Dalam memahami eksistensi manusia, secara umum terdapat 2 pendapat besar. Masing-masing pendapat ini mendapat dukungan dari para filsuf. Secara ringkas kedua pendapat tersebut disajikan dalam tabel berikut :

Dualisme
Monoisme
ü Dualisme pararel, didukung dengan pendapat Leibniz
ü Monoisme formal, didukung dengan pendapat Hylemorfisme Aristoteles, teori Holisme dan panpsikisme
ü Dualisme dengan primas/prioritas pada jiwa, didukung dengan pendapat Orfisme, Pythagoras, Descartes, Agama-agama, Platon
ü Materialisme, didukung dengan pendapat Demokritos, Stoa, Materialisme modern, fisikalisme
ü Dualisme dengan primas/prioritas pada tubuh, didukung dengan pendapat Nietzsche



Apakah Dualisme?. Pendapat dualisme adalah pendapat yang memisahkan antara jiwa dan tubuh sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pendapat dualisme ini adalah cara paling sederhana dalam memahami eksistensi manusia. Lebih dari pada itu, pendapat dualisme adalah pendapat yang menjamin adanya immortalitas jiwa. Dengan kata lain, setelah kematian, tubuh menghilang, namun jiwa tetap memiliki eksistensi. Ini pula yang menjadi dogma beberapa agama besar. Adanya kehidupan setelah kematian, ataupun reinkarnasi begitulah cara pandangan dualisme ini dapat dengan mudah dipahami

Melalui pandangan dualisme ini juga kita dapat melihat bagaimana manusia dianggap memiliki jiwa yang kompleks. Karena keberadaan jiwa dianggap adalah entitas yang terpisah, maka sangat mudah untuk menyimpulkan “sesuatu yang tidak bernyawa”. Misalnya: ketika kita melihat tutup ketel air yang bergerak karena mendidih, maka tidak mungkin kita menyatakan bahwa ketel itu bergerak karena memiliki jiwa. Karena pendapat dualisme menganggap 2 hal itu terpisah

Selanjutnya, kebalikan dari pendapat dualisme adalah monoisme. Pendapat monoisme merujuk bahwa hanya terdapat 1 prinsip saja. Monoisme formal misalnya terlihat dalam pendapat Aristoteles. Dalam Hylemorphisme, Aristoteles berpendapat bahwa jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan, sehingga ketika tubuh mati maka jiwa juga hilang. Tanpa merujuk apakah jiwa atau badan yang menjadi prinsip utama, Aristoteles menekankan kesatuan formal dari keduanya. Begitu pula dengan pendapat monoisme dalam materialisme modern. Menurut pendapat ini segala fenomen psikis dan spiritual bisa diterangkan lewat mekanisme material belaka. Pikiran, rasa senang, jatuh cinta, bisa dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul kimiawi (hormon) belaka.


Notes :
ü Bagi manusia, terkadang raga menjadi objek peragaan. Sehingga raga menjadi pengejaran jati diri. Banyaknya fenomena operasi plastik menunjukan hal ini
ü Banyak istilah abstrak yang munculdari kata-kata Yunani berkenaan dengan tubuh :
Contoh :
1.    Kardio (jantung) : membentuk istilah olahraga untuk kardio. Sehingga istilah ini dipahami olahraga untuk jantung
2.   Khole (cairan) : membentuk istilah melankolis. Sehingga istilah ini dipahami sebagai orang yang melankolis disebabkan oleh kebanyakan cairan hitam di dalam tubuhnya
3.       Hustera (rahim) : membentuk istilah histeris. Sehingga istilah ini dipahami sebagai perilaku khas wanita akibat tidak teraturnya reaksi rahim. Sebenarnya istilah histeris ini diasosiasikan untuk perbuatan wanita
4.    Pathos (afeksi) ; membentuk istilah Pathetik. Sehingga istilah ini dipahami sebagai sebuah perilaku yang mengharapkan afeksi.
ü Bangsa Yunani meyakini bahwa para Dewa memiliki tubuh. Tubuh ini disusun oleh elemen ke 5, yang berbeda dengan elemen yang terdapat dalam dunia manusia. Elemen ini bernama Ether. Kata ether berasal dari kata aether yang berarti esensi.  
ü Menurut pendapat Aristoteles, jiwa bertumbuh. Pertumbuhan jiwa ini dibagi kedalam 3 kelompok :
1.         Dalam rahim : masih bersifat vegetatif
2.         Usia 3 tahun : bersifat seperti hewan
3.         Usia 7 tahun : jiwa rasional tumbuh
Namun, meskipun ia merumuskan demikian, pada akhirnya pertumbuhan jiwa tidak selalu mengikuti perkembangan usia.
ü Konflik dalam jiwa biasanya dipengaruhi oleh hal berikut :
1.    Rasio : pertimbangan
2.    Kehendak : rasa takut, marah, bangga, dll  

3.    Nafsu : makan, seks (atau dikenal sebagai istilah ephitumia (ephi-tumos) 

No comments:

Post a Comment