Tuesday, August 26, 2014

Review EC.F (1)

Menyingkap Hakikat Manusia Melalui Filsafat

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Thomas Hidya Tjaya Ph.D dalam pertemuan pertama EC STF Driyarkara.

Dalam kehidupannya, manusia memperlajari banyak hal agar dapat menjalankan kehidupannya dengan baik. Namun, seringkali manusia kurang memperhatikan pengetahuan mendalam mengenai hakikat dirinya. Padahal, pengetahuan mengenai hakikat diri ini amat penting agar manusia dapat bertindak dan menghayati hidup dengan baik dan benar.

Secara garis besar, pengantar filsafat manusia dapat dibagi ke dalam 3 hal; pembahasan pertama adalah mengenai perbedaan antara filsafat manusia dan ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Kedua, secara khusus akan dibahas pentingnya pemahaman atas struktur ontologis manusia, karena di situlah terletak berbagai asumsi mengenai hakikat manusia. Ketiga, akan diungkapkan mengenai pentingnya usaha mencari bentuk humanisme sejati yang didasarkan pada pemahaman yang benar atas hakikat manusia.

·      Pentingnya Filsafat Manusia
Untuk memahami hakikat manusia, perlu disadari bahwa ada beberapa disiplin ilmu lain (sosiologi, psikologi, antropologi, dan etnologi) yang turut memberikan sumbangan pengetahuan mengenai berbagai aspek yang dimiliki manusia. Terlihat jelas bahwa filsafat bukanlah satu-satunya ilmu yang berbicara mengenai manusia. Karena itu perbedaan antara filsafat dan ilmu-ilmu lainnya perlu disadari terlebih dahulu.
Pertama-tama harus dikatakan bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan diluar filsafat berupaya untuk menemukan hukum-hukum tindakan manusia, sejauh tindakan itu dapat dipelajari secara empiris dan dijadikan sebagai objek refleksi. Dengan orientasi demikian, ilmu-ilmu ini cenderung mengungkapkan kesimpulan mereka dalam bahasa statistik. Mengingat penelitian ilmu ini hanya mencakup apa yang dapat diukur dan dihitung. Sebaliknya, filsafat berusaha menemukan prinsip-prisnsip umum dan mendasar yang menjelaskan hakikat manusia. Karena itu bahasa yang digunakan dalam filsafat cenderung bersifat abstrak dan jauh dari sifat empiris.

Perbedaan lainnya adalah mengenai sudut pandang. Ilmu-ilmu kemanusiaan di luar filsafat menyelidiki manusia dari sudut pandang tertertentu atau menganalisa dimensi tertentu saja dari manusia. Ambil contoh misalnaya sosiologi yang memperlihatkan secara khusus dimensi sosial manusia sebagaimana terungkap dalam realitas masyarakat sehari-hari.

Lalu apa artinya menyelidiki sesuatu dari sudut filsafat. Meminjam bahasa bapak Thomas, disinilah letak “kesombongan” filsafat. Filsafat memiliki kecenderungan untuk berada lebih “di atas”. Artinya filsafat tidak hanya menganalisa aspek tertentu saja dari manusia, melainkan melihat semua aspeknya secara menyeluruh. Secara lebih spesifik, dapat dikatakan bahwa dalam sebuah filsafat manusia ditanyakan dalam pertanyaan yang lebih fundamental dibandingkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Dan sekaligus bersifat lebih ontologis dalam arti berkaitan langsung dengan struktur manusia sebagai pengada (being) dalam dunia. Karena itu, jika ingin mengenal pandangan yang lebih mendalam dab holistik mengenai manusia, kita tidak dapat mengabaikan filsafat.

Kekhasan filsafat manusia juga dapat ditinjau dari perbedaan tradisional antara objek material dan objek formal sebuah disiplin ilmu. Seperti dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya, objek material filsafat adalah manusia. Namun objek formal yang dipelajari dalam filsafat adalah struktur fundamental manusia atau unsur-unsur pembentuk manusia yang diakui secara mutlak. Unsur-unsur ini bersifat material dan imaterial. Unsur material mencakup tubuh manusia dan unsur imaterial mencakup unsur yang berasal dari kesimpulan sebagai hal yang harus diandaikan dari manusia (bukan inderawi).

·      Struktur Ontologis Manusia
Tidak hanya filsafat yang berbicara mengenai hakikat manusia. Dalam kenyataannya, para pemikir dan ilmuan dalam bidangnya masing-masing sering menarik kesimpulan mengenai hal tersebut. Patrick Frierson dalam buku What is the Human Being? Memperlihatkan tiga jawaban alternatif terhadap pertanyaan mengenai hakikat manusia tersebut :
  1. Manusia adalah pengada biologis. Manusia adalah hewan dengan struktur khsuus yang telah mengalami evolusi selama bermilyar-milyar tahun  Ini diungkapkan oleh E.O. Wilson, seorang ahli sosiobiologis abad ke 20
  2. Manusia adalah pengada kultural. Artinya, untuk memahami hakikat manusia, kita perlu mempelajari berbagai cara manusia menghayati hidupnya. Pendapat ini diungkapkan oleh Clifford Geertz, seorang antropolog.
  3. Manusia adalah pengada yang bebas. Dalam kebebasannya manusia menciptkan hakikatnya sendiri, bukan menemukannya. Rumusan Jean Paul Sarte ini adalah alternatif ketiga dari sudut pandang filsafat.
Lalu apakah hakikat manusia?

3 alternatif rumusan hakikat manusia tersebut masing-masing ada benarnya, namun harus dilihat secara seimbang. Lagi-lagi mengutip Bapak Thomas, apakah seseorang yang mengetahui satu pokok bahasan bisa menjelaskan hal yang sangat kompleks dan luas? Kemutlakan masing-masing dimensi ini dan relasinya dengan dimensi lainnya perlu diselidiki dan dibahas lebih lanjut. Generasilasi dalam hal apapun dapat dengan mudah menimbulkan terjadinya reduksi pemahaman mengenai diri kita yang sebenarnya.

Melihat ke 3 unsur diatas, seolah terlihat terpisah satu sama lain. Padahal dalam kenyataannya, keterpisahan itu adalah karena cara pandang. Lagi pula kita bisa bertanya, apakah unsur-unsur yang ditekankan dalam pandangan tersebut sudah cukup fundamental untuk dianggap sebagai “pembentuk” manusia?

Karena alasan inilah kita perlu kembali kepada struktur ontologis manusia sebagimana sudah dipahami sejak zaman klasik, yakni pengada yang memiliki tubuh (body) dan jiwa (soul).

Pertama, tubuh dan jiwa adalah 2 pilar utama manusia. Manusia tidak bisa disebut manusia jika tidak memiliki keduanya. Tanpa tubuh manusia tidak akan dapat dipahami karena tidak kelihatan secara fisik, sebaliknya tanpa aspek non fisik yaitu jiwa, manusia tidak akan berbeda dari benda-benda fisik seperti batu atau kayu. Memang makna konsep jiwa harus dibahas lebih dalam, namun tidak dapat dipungkiri bahwa harus ada prinsip non fisik fundamental pada manusia.
Memang, akan ada kesulitan untuk membahas “jiwa” ini, karena apapun yang tidak bisa ditangkap indera maka akan sulit untuk dibahas lebih jauh. Namun ketika tetap dibahas lebih jauh, maka akan disebut spekulasi.

Namun sejatinya, disini kita harus membaha “tubuh” dan “jiwa” secara fundamental, tanpa dilekati dengan embel-embel seperti misalnya gender, kekurangan ataupun kelebihan. Sehingga jika ada pertanyaan bagaimana dengan mereka yang cacat fisik, cacat mental itu tak lain dalam kajian hakikat manusia tetap memiliki 2 pilar utama tersebut.

Kedua, struktur tubuh dan jiwa adalah merupakan syarat atau pengandaian dari hal-hal fundamental lain dari manusia. Ada interaksi erat antara aspek non fisik dan fisik pada manusia karena di dalam kedua ranah tersebut rencana dan gagasan yang bersift non fisik di realisasikan dan dimaterialisasikan ke dalam ranah fisik. Kemampuan berbahasa misalnya, hanya dapat tumbuh dan berkembang karena adanya intelegensi (aspek non fisik). Contoh sederhana misalnya, seorang bayi yang baru bisa mengucapkan kata “mama”. Ketika dia mengucapkan kata tersebut, sang ibu mengkonfirmasi dengan tersenyum. Akhirnya sang bayi memahami bahwa kata “mama” berarti bermakna “ibunya”.   

Ketiga, pengertian atas konsep jiwa dan relasinya dengan tubuh perlu mendapat perhatian lebih khusus karena kesalahpahaman akan hal itu akan menimbulkan distorsi. Salah satu bentuk distorsi yang mendominasi pemikiran moderen dapat dikembalikan pada pendapat Descartes. Adalah slogan  Descartes; “Cogito Ergo Sum” yang bermakna “aku berfikir maka aku ada”. Disini manusia dianggap tidak akan bisa membedakan mimpi dan kenyataan tanpa mempertanyakan. Sama dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita bermimpi, kita tidak akan tau kalau itu mimpi. Sampai pada akhirnya kita menemukan kejanggalan baru kita akan bangun. Mengacu pada pandangan Descartes tersebut konsep “jiwa” pelan-pelan bergeser menjadi sebuah “akal budi / mind” atau kesadaran / consciousness”. Padahal pengertian klasik mengenai jiwa jauh mengenai itu. Karena pemahaman yang semaki reduktif inilah dapat dengan mudah menumbuhkan distorsi pandangan mengenai manusia.

Kehadiran filsafat manusia kemudian menjadi penting untuk memahami hakikat manusia dengan lebih benar dan tepat. Merleau Ponty menyebut sebagai “fenomena asali / phenomenology of origin” dan analisa atas pengalaman pra-predikatif sebagai pengada yang sunggunh ada-dalam-dunia (being-in-the-world). Manusia modern terperangkap dalam dualisme kesadaran tubuh dan gagal menyadari bahwa rasionalitas dan sensibilitas tubuh sesungguhnya berkaitan erat. Karena itu menurut Ponty, filsafat manusia harus melawan pemikiran objektif dengan membangkitkan kembali pemahaman mengenai kontak langsung manusia dengan dunia

·      Menuju Humanisme Sejati.
Tentu saja yang dimaksud dengan humanisme sejati adalah tidak hanya mengenal kekhasan kita sebagai pengada yang berbeda dari hewan-hewan lainnya (as a humang being), melainkan juga menyadari diri kita sebagai manusia yang memiliki atau bersifat pribadi (as a personal human being)dan memperlihatkan sebuah kualitas hidup yang memperbaharui.

Notes :
·         Filsafat tidak ada batasan. Filsafat akan mengktirik hal yang sudah ada, termasuk mengkritik filsafat itu sendiri.
·         Filsafat manusia dulunya disebut psikologi filosofis. Namun kemudian dianggap tidak relevan karena filsafat tidak hanya membahas mengenai jiwa saja
·    Apa makna kata “pribadi / person”. Manusia terkadang bisa dengan mudah menggunakan kata pribadi, namun terkadang konsep pemaknaannya belum dapat dijelaskan
·         Pada saat sesuatu dimaterialiasi, saat itu sesuatu yang imaterial terbuka  
·      Pandangan Aristoteles mengenei jiwa : manusia adalah pengada yang “anima” atau bisa bergerak. Maka semakin anima maka jiwa nya semakin kompleks. Namun kemudian pendapat ini melahirkan pertanyaan “apa isi jiwa”?
·      Jiwa tidak bisa di verifikasi secara empiris karena tidak bisa diakses langsung. Ini yang membuat filsafat tidak bisa membahas terlalu jauh
·    Kemampuan berbahasa berkaitan dengan intelegensi. Namun tidak serta merta “semakin rumit bahasa maka akan semakin tinggi intelegensi”. Karena ada perbedaan mempelajari bahasa secara langsung / mempelajari bahasa ibu. Dan mempelajari bahasa lewat struktur. Manusia hanya bisa mempelajari bahasa baru berikutnya dengan memahami satu bahasa terlebih dahulu
·         Being (ada): berarti realitas.
being (s): ditulis dengan hurup “b” kecil. Berarti pengada (jamak) dan sifatnya netral. Contoh : living being, human being
  •   Hati-hati dengan “rasional” dan “non rasional” karena akan menggiring anggapan rasional dan non      rasional menjadi hanya yang bisa dirasakan dan tidak dirasakan



No comments:

Post a Comment