Menyingkap Hakikat
Manusia Melalui Filsafat
Tulisan ini adalah sebuah review
yang dibuat berdasarkan pemaparan Thomas Hidya Tjaya Ph.D dalam pertemuan pertama
EC STF Driyarkara.
Dalam kehidupannya, manusia
memperlajari banyak hal agar dapat menjalankan kehidupannya dengan baik. Namun,
seringkali manusia kurang memperhatikan pengetahuan mendalam mengenai hakikat
dirinya. Padahal, pengetahuan mengenai hakikat diri ini amat penting agar
manusia dapat bertindak dan menghayati hidup dengan baik dan benar.
Secara garis besar, pengantar
filsafat manusia dapat dibagi ke dalam 3 hal; pembahasan pertama adalah
mengenai perbedaan antara filsafat manusia dan ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Kedua,
secara khusus akan dibahas pentingnya pemahaman atas struktur ontologis
manusia, karena di situlah terletak berbagai asumsi mengenai hakikat manusia. Ketiga,
akan diungkapkan mengenai pentingnya usaha mencari bentuk humanisme sejati yang
didasarkan pada pemahaman yang benar atas hakikat manusia.
·
Pentingnya Filsafat Manusia
Untuk memahami hakikat manusia,
perlu disadari bahwa ada beberapa disiplin ilmu lain (sosiologi, psikologi,
antropologi, dan etnologi) yang turut memberikan sumbangan pengetahuan mengenai
berbagai aspek yang dimiliki manusia. Terlihat jelas bahwa filsafat bukanlah
satu-satunya ilmu yang berbicara mengenai manusia. Karena itu perbedaan antara
filsafat dan ilmu-ilmu lainnya perlu disadari terlebih dahulu.
Pertama-tama harus dikatakan
bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan diluar filsafat berupaya untuk menemukan
hukum-hukum tindakan manusia, sejauh tindakan itu dapat dipelajari secara
empiris dan dijadikan sebagai objek refleksi. Dengan orientasi demikian,
ilmu-ilmu ini cenderung mengungkapkan kesimpulan mereka dalam bahasa statistik.
Mengingat penelitian ilmu ini hanya mencakup apa yang dapat diukur dan
dihitung. Sebaliknya, filsafat berusaha menemukan prinsip-prisnsip umum dan
mendasar yang menjelaskan hakikat manusia. Karena itu bahasa yang digunakan
dalam filsafat cenderung bersifat abstrak dan jauh dari sifat empiris.
Perbedaan lainnya adalah mengenai
sudut pandang. Ilmu-ilmu kemanusiaan di luar filsafat menyelidiki manusia dari
sudut pandang tertertentu atau menganalisa dimensi tertentu saja dari manusia. Ambil
contoh misalnaya sosiologi yang memperlihatkan secara khusus dimensi sosial
manusia sebagaimana terungkap dalam realitas masyarakat sehari-hari.
Lalu apa artinya menyelidiki
sesuatu dari sudut filsafat. Meminjam bahasa bapak Thomas, disinilah letak “kesombongan”
filsafat. Filsafat memiliki kecenderungan untuk berada lebih “di atas”. Artinya
filsafat tidak hanya menganalisa aspek tertentu saja dari manusia, melainkan
melihat semua aspeknya secara menyeluruh. Secara lebih spesifik, dapat
dikatakan bahwa dalam sebuah filsafat manusia ditanyakan dalam pertanyaan yang
lebih fundamental dibandingkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Dan sekaligus
bersifat lebih ontologis dalam arti berkaitan langsung dengan struktur manusia
sebagai pengada (being) dalam dunia. Karena
itu, jika ingin mengenal pandangan yang lebih mendalam dab holistik mengenai
manusia, kita tidak dapat mengabaikan filsafat.
Kekhasan filsafat manusia juga
dapat ditinjau dari perbedaan tradisional antara objek material dan objek
formal sebuah disiplin ilmu. Seperti dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya, objek
material filsafat adalah manusia. Namun objek formal yang dipelajari dalam
filsafat adalah struktur fundamental manusia atau unsur-unsur pembentuk manusia
yang diakui secara mutlak. Unsur-unsur ini bersifat material dan imaterial. Unsur
material mencakup tubuh manusia dan unsur imaterial mencakup unsur yang berasal
dari kesimpulan sebagai hal yang harus diandaikan dari manusia (bukan inderawi).
·
Struktur Ontologis Manusia
Tidak hanya filsafat yang
berbicara mengenai hakikat manusia. Dalam kenyataannya, para pemikir dan ilmuan
dalam bidangnya masing-masing sering menarik kesimpulan mengenai hal tersebut.
Patrick Frierson dalam buku What is the Human Being? Memperlihatkan tiga
jawaban alternatif terhadap pertanyaan mengenai hakikat manusia tersebut :
- Manusia
adalah pengada biologis. Manusia adalah hewan dengan struktur khsuus yang
telah mengalami evolusi selama bermilyar-milyar tahun Ini diungkapkan oleh E.O. Wilson, seorang
ahli sosiobiologis abad ke 20
- Manusia
adalah pengada kultural. Artinya, untuk memahami hakikat manusia, kita
perlu mempelajari berbagai cara manusia menghayati hidupnya. Pendapat ini
diungkapkan oleh Clifford Geertz, seorang antropolog.
- Manusia
adalah pengada yang bebas. Dalam kebebasannya manusia menciptkan
hakikatnya sendiri, bukan menemukannya. Rumusan Jean Paul Sarte ini adalah
alternatif ketiga dari sudut pandang filsafat.
Lalu apakah hakikat manusia?
3 alternatif rumusan hakikat
manusia tersebut masing-masing ada benarnya, namun harus dilihat secara
seimbang. Lagi-lagi mengutip Bapak Thomas, apakah seseorang yang mengetahui
satu pokok bahasan bisa menjelaskan hal yang sangat kompleks dan luas? Kemutlakan
masing-masing dimensi ini dan relasinya dengan dimensi lainnya perlu diselidiki
dan dibahas lebih lanjut. Generasilasi dalam hal apapun dapat dengan mudah
menimbulkan terjadinya reduksi pemahaman mengenai diri kita yang sebenarnya.
Melihat ke 3 unsur diatas, seolah
terlihat terpisah satu sama lain. Padahal dalam kenyataannya, keterpisahan itu
adalah karena cara pandang. Lagi pula kita bisa bertanya, apakah unsur-unsur
yang ditekankan dalam pandangan tersebut sudah cukup fundamental untuk dianggap
sebagai “pembentuk” manusia?
Karena alasan inilah kita perlu
kembali kepada struktur ontologis manusia sebagimana sudah dipahami sejak zaman
klasik, yakni pengada yang memiliki tubuh (body)
dan jiwa (soul).
Pertama, tubuh dan jiwa adalah 2 pilar utama manusia. Manusia tidak
bisa disebut manusia jika tidak memiliki keduanya. Tanpa tubuh manusia tidak
akan dapat dipahami karena tidak kelihatan secara fisik, sebaliknya tanpa aspek
non fisik yaitu jiwa, manusia tidak akan berbeda dari benda-benda fisik seperti
batu atau kayu. Memang makna konsep jiwa harus dibahas lebih dalam, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa harus ada prinsip non fisik fundamental pada manusia.
Memang, akan ada kesulitan untuk
membahas “jiwa” ini, karena apapun yang tidak bisa ditangkap indera maka akan
sulit untuk dibahas lebih jauh. Namun ketika tetap dibahas lebih jauh, maka
akan disebut spekulasi.
Namun sejatinya, disini kita
harus membaha “tubuh” dan “jiwa” secara fundamental, tanpa dilekati dengan
embel-embel seperti misalnya gender, kekurangan ataupun kelebihan. Sehingga jika
ada pertanyaan bagaimana dengan mereka yang cacat fisik, cacat mental itu tak
lain dalam kajian hakikat manusia tetap memiliki 2 pilar utama tersebut.
Kedua, struktur tubuh dan jiwa adalah merupakan syarat atau
pengandaian dari hal-hal fundamental lain dari manusia. Ada interaksi erat
antara aspek non fisik dan fisik pada manusia karena di dalam kedua ranah
tersebut rencana dan gagasan yang bersift non fisik di realisasikan dan
dimaterialisasikan ke dalam ranah fisik. Kemampuan berbahasa misalnya, hanya
dapat tumbuh dan berkembang karena adanya intelegensi (aspek non fisik). Contoh
sederhana misalnya, seorang bayi yang baru bisa mengucapkan kata “mama”. Ketika
dia mengucapkan kata tersebut, sang ibu mengkonfirmasi dengan tersenyum. Akhirnya
sang bayi memahami bahwa kata “mama” berarti bermakna “ibunya”.
Ketiga, pengertian atas konsep jiwa dan relasinya dengan tubuh
perlu mendapat perhatian lebih khusus karena kesalahpahaman akan hal itu akan
menimbulkan distorsi. Salah satu bentuk distorsi yang mendominasi pemikiran
moderen dapat dikembalikan pada pendapat Descartes. Adalah slogan Descartes; “Cogito
Ergo Sum” yang bermakna “aku berfikir
maka aku ada”. Disini manusia dianggap tidak akan bisa membedakan mimpi dan
kenyataan tanpa mempertanyakan. Sama dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
ketika kita bermimpi, kita tidak akan tau kalau itu mimpi. Sampai pada akhirnya
kita menemukan kejanggalan baru kita akan bangun. Mengacu pada pandangan
Descartes tersebut konsep “jiwa” pelan-pelan bergeser menjadi sebuah “akal budi
/ mind” atau kesadaran / consciousness”. Padahal pengertian klasik mengenai
jiwa jauh mengenai itu. Karena pemahaman yang semaki reduktif inilah dapat
dengan mudah menumbuhkan distorsi pandangan mengenai manusia.
Kehadiran filsafat manusia
kemudian menjadi penting untuk memahami hakikat manusia dengan lebih benar dan
tepat. Merleau Ponty menyebut sebagai “fenomena
asali / phenomenology of origin” dan analisa atas pengalaman pra-predikatif
sebagai pengada yang sunggunh ada-dalam-dunia (being-in-the-world). Manusia modern terperangkap dalam dualisme
kesadaran tubuh dan gagal menyadari bahwa rasionalitas dan sensibilitas tubuh
sesungguhnya berkaitan erat. Karena itu menurut Ponty, filsafat manusia harus
melawan pemikiran objektif dengan membangkitkan kembali pemahaman mengenai
kontak langsung manusia dengan dunia
·
Menuju Humanisme Sejati.
Tentu saja yang dimaksud dengan
humanisme sejati adalah tidak hanya mengenal kekhasan kita sebagai pengada yang
berbeda dari hewan-hewan lainnya (as a
humang being), melainkan juga menyadari diri kita sebagai manusia yang
memiliki atau bersifat pribadi (as a personal
human being)dan memperlihatkan sebuah kualitas hidup yang memperbaharui.
Notes :
·
Filsafat tidak ada batasan. Filsafat akan
mengktirik hal yang sudah ada, termasuk mengkritik filsafat itu sendiri.
·
Filsafat manusia dulunya disebut psikologi
filosofis. Namun kemudian dianggap tidak relevan karena filsafat tidak hanya
membahas mengenai jiwa saja
· Apa makna kata “pribadi / person”. Manusia terkadang
bisa dengan mudah menggunakan kata pribadi, namun terkadang konsep pemaknaannya
belum dapat dijelaskan
·
Pada saat sesuatu dimaterialiasi, saat itu
sesuatu yang imaterial terbuka
· Pandangan Aristoteles mengenei jiwa : manusia
adalah pengada yang “anima” atau bisa bergerak. Maka semakin anima maka jiwa
nya semakin kompleks. Namun kemudian pendapat ini melahirkan pertanyaan “apa
isi jiwa”?
· Jiwa tidak bisa di verifikasi secara empiris
karena tidak bisa diakses langsung. Ini yang membuat filsafat tidak bisa membahas
terlalu jauh
· Kemampuan berbahasa berkaitan dengan
intelegensi. Namun tidak serta merta “semakin rumit bahasa maka akan semakin
tinggi intelegensi”. Karena ada perbedaan mempelajari bahasa secara langsung /
mempelajari bahasa ibu. Dan mempelajari bahasa lewat struktur. Manusia hanya
bisa mempelajari bahasa baru berikutnya dengan memahami satu bahasa terlebih
dahulu
·
Being (ada): berarti realitas.
being (s): ditulis
dengan hurup “b” kecil. Berarti pengada (jamak) dan sifatnya netral. Contoh :
living being, human being
- Hati-hati dengan “rasional” dan “non rasional” karena akan menggiring anggapan rasional dan non rasional menjadi hanya yang bisa dirasakan dan tidak dirasakan
No comments:
Post a Comment