Wednesday, September 10, 2014

Review EC.F (3.2)

Homo Economicus
(Manusia Makhluk Ekonomi)bagian 2

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. B. Herry Priyono dalam pertemuan ketiga EC STF Driyarkara.

Pada Tulisan kedua mengenai Homo economicus ini, akan dibahas  mengenai bagaimana pandangan mengenai homo economicus bertransformasi “seolah-olah” menjadi  kodrat manusia itu sendiri. Selanjutnya pada  bagian akhir, akan dibahas mengenai kritik terhadap pendapat mengenai kesesatan totalisasi dan pandangan Dr. Priyono mengenai homo economicus

·           Menghemat Manusia
Dalam karya yang dianggap sebagai cikal bakal ilmu ekonomi, Smith memang tidak berbicara mengenai kodrat manusia. Ia berbicara mengenai perdagangan bebas yang dilihat sebagai jalan menuju kemakmuran bangsa. Tapi tindakan berdagang tidak dilakukan oleh hantu, tidak juga oleh batu, melainkan oleh manusia. Maka, Smith berhadapan dengan teka-teki ini : Siapakah manusia dalam tindakan perdagangan? Atau seringkali pertanyaan secara serius diutarakan : syarat antropologis apa supaya perdagangan menjadi mungkin dan berkembang?

Sejak abad ke 14, para orang-orang pandai memang sibuk dengan pertanyaan tentang kodrat manusia, tentang siapa manusia. Untuk hal itu  mereka mesti menjelaskan perilaku manusia dalam segala situasi. Contohnya : Thomas Hobbes (1588-1679). Dalam bayang-bayang amuk perang di Inggris, ia menulis teori politik dalam Leviathan (1651), dengan mengandaikan bahwa manusia dalam kondisi asali adalah Homo homini lupus (serigala bagi sesamanya). Ini langkah biasa dalam dunia pemikiran: pengamatan tentang eksistensi memunculkan pertanyaan tentang esensi

Tak perlu menjadi filsuf untuk melakukan ini, kita pun bisa melakukan logika semacam diatas. Misalnya, kita menyaksikan bagaimana perampok membunuh anak-anak. Melihat itu tentu jantung kita seolah berhenti, lalu bertanya dalam hati : siapakah sesunggunya manusia, hingga dengan keji tega membunuh anak-anak? Kita seperti menyimpulkan sendiri manusia adalah makhluk pembunuh. Sehingga terkadang, istilah parsial menjadi di total kan

Beginilah teka-teki antropologis yang memburu Smith. Terhadap teka-teki itu Smith menyimpulkan: perdagangan dan industri akan maju pesat bila dalam kinerjanya manusia bergerak atas dasar kepentingan diri. Jadi pada mulanya adalah gejala perdagangan dan untuk menjelaskan dinamika itu ia harus mengandaikan kepentingan diri sebagai penggerak tindakan manusia.

Dengan kata lain gagasan “manusia digerakkan oleh kepentingan diri” adalah prasyarat antropologis yang diandaikan Smith agar secara metodologis ia mampu menjelaskan gejala perdagangan dalam kehidupan ekonomi. Ini yang biasa disebut postulat atau pengandaian metodologis dalam proses berfikir. Sederhananya, setiap ilmu pasti memiliki istilah untuk menyimpulkan manusia.

 Perhatikan skema di bawah ini : 

lampu merah -----------> manusia makhluk aturan 

Misal : asumsikan diri kita bukan makhluk bumi. Ketika kita melihat manusia-manusia di bumi akan berhenti ketika ada lampu merah, maka tentu kita akan menganggap manusia adalah makhluk yang punya aturan. Dari asumsi itu, akhirnya kita bisa meyimpulkan dengan istilah “manusia makhluk aturan” . Begitulah skema logika  terbentuknya sebuah asumsi tentang manusia 

Meskipun tidak disadari, ini adalah langkah biasa dalam proses berfikir. Namanya penghematan (Parsimony). Sebab kita tidak akan mampu memikirkan semua hal di bawah langit dalam satu momen pembahasan. Begitu pula Smith tidak sanggup mencakup semua dimensi kodrat manusia sebagai penjelasan antropologis atas gejala dan kemajuan perdagangan dalam tata ekonomi. Ilmu ekonomi punya istilah Ceteris Paribus, meskipun ini bukan sepenuhnya istilah ekonomi.

Dalam Ungkapan Latin Ceteris Paribus berarti dengan mengandalkan hal / faktor lain sama atau konstan. Berikut Ilustrasi singkat untuk memahami ceteris paribus :
anda berada di luar rumah untuk berangkat ke kantor ketika anda menyadari botol jus anda tertinggal. Namun anda tidak ingat dimana letaknya. Kemudian anda berbalik menuju rumah kemudian menyisir ruang tamu dan kamar tidur namun botol jus itu tidak disana. Kemudian anda masuk ke dapur. Tentu di dapur terdapat banyak hal, panci, kompor, sendok, dll. Semua itu membentuk dapur anda. Namun dalam rangka mencari sebotol jus semua barang itu anda abaikan seolah tidak ada. Anda pergi mencari botol jus dan menemukannya di kulkas. Maka dapat disimpulkan : “anda ke dapur cuma demi botol jus, yang lain ceteris paribus” 

Mirip seperti itulah yang dilakukan Adam Smith. Manusia digerakkan oleh banyak faktor namun dalam kegiatan berdagang, manusia digerakkan terutama  oleh kepentingan-kepentingan diri lebih daripada naluri lain. Disinilah apa yang semula hanya sudut pandang tertentu tentang manusia kemudian berubah menjadi klaim tentang keseluruhan kodrat manusia

Dan kemudian, dari sini kita bisa menggeser pertanyaan tentang Homo economicus. Unsur apa yang dianggap sebagai ciri economicus itu?

·  Tindakan dan perilakunya digerakkan pertama-tama oleh kepentingan diri ‘
·  Ciri keterpusatan pada diri (self centered)
·  Perangkat utama makhluk ekonomi dalam mengejar kepentingan diri dan pemenuhan hasratnya adalah kalkulasi rasional
·  Kepentingan diri dan efisiensi bagi makhluk ekonomi bukan lagi dipahami secara umum tapi diciutkan ke dalam urusan kepuasan hasrat akan harta
·  Dengan itu juga segera terjadi kolonisasi

 Apakah gagasan homo economicus seperti ini adalah satu-satunya cara berfikir ekonomi? Tentu tidak. Ilmu ekonomi punya beberapa mazhab atau aliran lain. Namun aliran neo klasik yang memperanakkan gagasan seperti diatas adalah mazhab yang paling membentuk cara berfikir kita dewasa ini.

·  Kesesatan Totalisasi, Memburu Realisasi  

Sebuah kerancuan dapat terlihat dengan jelas yakni : sudut pandang tertentu tentang manusia yang diperlakukan sebagai kodrat keseluruhan diri manusia.

Setiap cabang ilmu manusia berangkat dari sudut pandang tertentu dan terbatas tentang siapa manusia, jauh dari kapasitas memandang yang komprehensif. Ringkasnya, setiap cabang ilmu manusia adalah Ceteris paribus.

Spesialisasi ilmu adalah berkat, sekaligus peringatan akan keterbatasan nalar. Begitulah, seperti dua sisi mata uang. Ketika Homo economicus memahami batasnya, ia adalah berkah yang membantu kita mengejar kebaikan dan kesejahteraan. Akan tetapi, sejak homo economicus lupa batas dan mulai menjarah, ia berubah menjadi raksasa yang memporak-porandakan kemungkinan hidup bersama.

Pada akhirnya, ada dua pokok penegasan dari uraian panjang mengenai Homo economicus ;
Pertama : homo economicus  adalah sudut pandang tertentu atas perilaku manusia dan sama sekali bukan deskripsi riil tentang hakikat keseluruhan diri manusia. Kedua, agenda mengubah seluruh perilaku manusia dan tata hidup bersama menurut citra makhluk ekonomi bukan hanya berisi kesesatan paling sederhana dalam berfikir, tetapi juga mencegah kemungkinan tata kehidupan bersama sendiri. Cara berfikir ala homo economicus punya wilayahnya sendiri, dan justru akan kehilangan daya jeniusnya apabila memangsa serta menjarah wilayah lain. Itu juga berlaku bagi cara berfikir pasar, cara berfikir bisnis, maupun cara berfikir laba.

Sehingga menurut argumen Dr. Priyono dapat lah disimpulkan bahwa : bukan makhluk ekonomi yang melahirkan ilmu ekonomi, tetapi ilmu ekonomi yang menciptakan makhluk ekonomi.

Notes :


  • Asumsi tentang manusia harus ada. Kalau tidak maka tidak bisa disebut science. Sehingga ketika ditanya siapa manusia maka jawabannya akan banyak sekali tergantung cabang ilmu yang mengkajinya
  • Manusia adalah makhluk multi dimensional sehingga ketika di fundamentalkan / di totalkan maka pasti akan gagal. Contoh : fundamentalisme agama 

No comments:

Post a Comment