Homo Economicus
(Manusia Makhluk Ekonomi)bagian 2
Tulisan ini adalah sebuah
review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. B. Herry Priyono dalam pertemuan ketiga
EC STF Driyarkara.
Pada Tulisan kedua mengenai Homo
economicus ini, akan dibahas
mengenai bagaimana pandangan mengenai homo economicus bertransformasi “seolah-olah” menjadi kodrat manusia itu sendiri. Selanjutnya pada bagian akhir, akan dibahas mengenai kritik
terhadap pendapat mengenai kesesatan totalisasi dan pandangan Dr. Priyono
mengenai homo economicus
·
Menghemat Manusia
Dalam karya yang dianggap sebagai cikal bakal ilmu ekonomi, Smith
memang tidak berbicara mengenai kodrat manusia. Ia berbicara mengenai
perdagangan bebas yang dilihat sebagai jalan menuju kemakmuran bangsa. Tapi
tindakan berdagang tidak dilakukan oleh hantu, tidak juga oleh batu, melainkan
oleh manusia. Maka, Smith berhadapan dengan teka-teki ini : Siapakah manusia
dalam tindakan perdagangan? Atau seringkali pertanyaan secara serius diutarakan
: syarat antropologis apa supaya perdagangan menjadi mungkin dan berkembang?
Sejak abad ke 14, para orang-orang pandai memang sibuk dengan
pertanyaan tentang kodrat manusia, tentang siapa manusia. Untuk hal itu mereka mesti menjelaskan perilaku manusia
dalam segala situasi. Contohnya : Thomas Hobbes (1588-1679). Dalam
bayang-bayang amuk perang di Inggris, ia menulis teori politik dalam Leviathan (1651), dengan mengandaikan
bahwa manusia dalam kondisi asali adalah Homo
homini lupus (serigala bagi sesamanya). Ini langkah biasa dalam dunia
pemikiran: pengamatan tentang eksistensi memunculkan pertanyaan tentang esensi
Tak perlu menjadi filsuf untuk melakukan ini, kita pun bisa melakukan
logika semacam diatas. Misalnya, kita menyaksikan bagaimana perampok membunuh
anak-anak. Melihat itu tentu jantung kita seolah berhenti, lalu bertanya dalam
hati : siapakah sesunggunya manusia, hingga dengan keji tega membunuh
anak-anak? Kita seperti menyimpulkan sendiri manusia adalah makhluk pembunuh.
Sehingga terkadang, istilah parsial menjadi di total kan
Beginilah teka-teki antropologis yang memburu Smith. Terhadap
teka-teki itu Smith menyimpulkan: perdagangan dan industri akan maju pesat bila
dalam kinerjanya manusia bergerak atas dasar kepentingan diri. Jadi pada
mulanya adalah gejala perdagangan dan untuk menjelaskan dinamika itu ia harus
mengandaikan kepentingan diri sebagai penggerak tindakan manusia.
Dengan kata lain gagasan “manusia digerakkan oleh kepentingan diri”
adalah prasyarat antropologis yang diandaikan Smith agar secara metodologis ia
mampu menjelaskan gejala perdagangan dalam kehidupan ekonomi. Ini yang biasa
disebut postulat atau pengandaian
metodologis dalam proses berfikir. Sederhananya, setiap ilmu pasti
memiliki istilah untuk menyimpulkan manusia.
lampu merah -----------> manusia makhluk aturan
Misal : asumsikan diri kita bukan makhluk bumi. Ketika kita melihat
manusia-manusia di bumi akan berhenti ketika ada lampu merah, maka tentu kita
akan menganggap manusia adalah makhluk yang punya aturan. Dari asumsi itu,
akhirnya kita bisa meyimpulkan dengan istilah “manusia makhluk aturan” .
Begitulah skema logika terbentuknya
sebuah asumsi tentang manusia
Meskipun tidak disadari,
ini adalah langkah biasa dalam proses berfikir. Namanya penghematan (Parsimony). Sebab kita tidak akan mampu
memikirkan semua hal di bawah langit dalam satu momen pembahasan. Begitu pula
Smith tidak sanggup mencakup semua dimensi kodrat manusia sebagai penjelasan
antropologis atas gejala dan kemajuan perdagangan dalam tata ekonomi. Ilmu
ekonomi punya istilah Ceteris Paribus,
meskipun ini bukan sepenuhnya istilah ekonomi.
Dalam Ungkapan Latin Ceteris Paribus berarti dengan mengandalkan hal / faktor lain sama
atau konstan. Berikut Ilustrasi singkat untuk memahami ceteris paribus :
anda berada di luar rumah untuk berangkat ke
kantor ketika anda menyadari botol jus anda tertinggal. Namun anda tidak ingat
dimana letaknya. Kemudian anda berbalik menuju rumah kemudian menyisir ruang
tamu dan kamar tidur namun botol jus itu tidak disana. Kemudian anda masuk ke
dapur. Tentu di dapur terdapat banyak hal, panci, kompor, sendok, dll. Semua
itu membentuk dapur anda. Namun dalam rangka mencari sebotol jus semua barang
itu anda abaikan seolah tidak ada. Anda pergi mencari botol jus dan
menemukannya di kulkas. Maka dapat disimpulkan : “anda ke dapur cuma demi botol
jus, yang lain ceteris paribus”
Mirip seperti itulah yang dilakukan Adam Smith.
Manusia digerakkan oleh banyak faktor namun dalam kegiatan berdagang, manusia
digerakkan terutama oleh
kepentingan-kepentingan diri lebih daripada naluri lain. Disinilah apa yang
semula hanya sudut pandang tertentu tentang manusia kemudian berubah menjadi
klaim tentang keseluruhan kodrat manusia
Dan kemudian, dari sini kita bisa menggeser pertanyaan
tentang Homo economicus. Unsur apa
yang dianggap sebagai ciri economicus itu?
· Tindakan dan
perilakunya digerakkan pertama-tama oleh kepentingan diri ‘
· Ciri keterpusatan
pada diri (self centered)
· Perangkat utama
makhluk ekonomi dalam mengejar kepentingan diri dan pemenuhan hasratnya adalah
kalkulasi rasional
· Kepentingan diri
dan efisiensi bagi makhluk ekonomi bukan lagi dipahami secara umum tapi
diciutkan ke dalam urusan kepuasan hasrat akan harta
· Dengan itu juga
segera terjadi kolonisasi
·
Kesesatan Totalisasi, Memburu Realisasi
Sebuah kerancuan dapat terlihat dengan jelas yakni
: sudut pandang tertentu tentang manusia
yang diperlakukan sebagai kodrat keseluruhan diri manusia.
Setiap cabang ilmu manusia berangkat dari sudut
pandang tertentu dan terbatas tentang siapa manusia, jauh dari kapasitas
memandang yang komprehensif. Ringkasnya, setiap cabang ilmu manusia adalah Ceteris paribus.
Spesialisasi ilmu adalah berkat, sekaligus
peringatan akan keterbatasan nalar. Begitulah, seperti dua sisi mata uang. Ketika
Homo economicus memahami batasnya, ia
adalah berkah yang membantu kita mengejar kebaikan dan kesejahteraan. Akan
tetapi, sejak homo economicus lupa
batas dan mulai menjarah, ia berubah menjadi raksasa yang memporak-porandakan
kemungkinan hidup bersama.
Pada akhirnya, ada dua pokok penegasan dari uraian
panjang mengenai Homo economicus ;
Pertama :
homo economicus adalah sudut pandang
tertentu atas perilaku manusia dan sama sekali bukan deskripsi riil tentang
hakikat keseluruhan diri manusia. Kedua, agenda
mengubah seluruh perilaku manusia dan tata hidup bersama menurut citra makhluk
ekonomi bukan hanya berisi kesesatan paling sederhana dalam berfikir, tetapi
juga mencegah kemungkinan tata kehidupan bersama sendiri. Cara berfikir ala homo economicus punya wilayahnya
sendiri, dan justru akan kehilangan daya jeniusnya apabila memangsa serta
menjarah wilayah lain. Itu juga berlaku bagi cara berfikir pasar, cara berfikir
bisnis, maupun cara berfikir laba.
Sehingga menurut argumen Dr. Priyono dapat lah
disimpulkan bahwa : bukan makhluk ekonomi
yang melahirkan ilmu ekonomi, tetapi ilmu ekonomi yang menciptakan makhluk
ekonomi.
Notes :
- Asumsi tentang manusia harus ada. Kalau tidak maka tidak bisa disebut science. Sehingga ketika ditanya siapa manusia maka jawabannya akan banyak sekali tergantung cabang ilmu yang mengkajinya
- Manusia adalah makhluk multi dimensional sehingga ketika di fundamentalkan / di totalkan maka pasti akan gagal. Contoh : fundamentalisme agama
No comments:
Post a Comment