Thursday, September 18, 2014

Review EC.F 4

Manusia dan Pekerjaan

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Prof Franz Magnis-Suseno SJ, dalam pertemuan keempat EC STF Driyarkara.

Amat sedikit kajian filsafat mengenai pekerjaan. Ini mungkin dikarenakan bahwa filsafat dibuat dari sudut pandang priyayi yang pada masa tersebut tidak lah perlu bekerja dan dapat hidup dari pekerjaan orang lain (buruh). Dengan sendirinya, pada masa itu pekerjaan dianggap sesuatu yang perlu dihindari. Pekerjaan adalah tanda orang bawahan “rakyat”.

Bagaimana filsafat memandang pekerjaan? Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian, pertama akan dipaparkan mengenai sejarah filsafat pekerjaan. Akan dijabarkan sedikit filosof-filosof yang meletakkan dasar pemikiran filsafat pekerjaan. Kemudian, tulisan akan dilanjutkan mengenai uraian pemikiran Karl Marx mengenai pekerjaan, Marx lah yang kemudian mengembangkan pemikiran mengenai pekerjaan ini terutama dalam karyanya Das Kapital. Akan dibahas juga bagaimana Marx kemudian melihat realita pada masa itu, dimana ia akan menjelaskan mengenai keterasingan (alienasi) manusia dalam pekerjaan. Pada bagian akhir, akan dijelaskan mengenai sudut pandang Prof Magnis (dengan menggunakan pendapat Habermas) terhadap pemikiran yang diutarakan Karl Marx

Sejarah filsafat manusia
Bagi Aristoteles pekerjaan termasuk poesis , kegiatan yang dilakukan bukan karena diminati, melainkan karena perlu untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan atau diminati, jadi sebagai sarana. Pekerjaan adalah ponos yakni beban berat yang syukur kalau kita bebas darinya. Seperti yang telah dikemukakan diatas, pada mas ini, Aristoteles hanya menghitung warga negara yang sama-sama berpolitik, mereka yang tidak perlu bekerja tangan.
Ini baru berubah di permulaan modernitas, John Locke menemukan bahwa segala nilai ekonomis diciptakan dalam pekerjaan. Namun filsafat pekerjaan paling mendasar dikembangkan oleh Hegel. Dan kemudian, dengan diambil dari Hegel, filsafat pekerjaan dikembangkan oleh Karl Marx.

Hakikat Pekerjaan Menurut Karl Marx
Dari Hegel, Marx mengambil pengertian pekerjaan sebagai pernyataan diri manusia melalui objektifasi. Sebaimana Hegel, Marx pun menganggap manusia baru mencapai kenyataannya yang sepenuhnya apabila ia dapat memahami diri. Dalam pekerjaannya, manusia “mengadakan diri tidak hanya seperti dalam kesadaran intelektual, melainkan secara berbuat, secara nyata, sehingga ia memandang dirinya sendiri dalam dunia yang diciptakannya sendiri”.

Marx bertolak dari kenyataan bahwa manusia harus bekerja supaya ia bisa hidup. Tetapi mengapa manusia harus bekerja sedangkan binatang tidak? Walaupun manusia termasuk alam, namun ia juga berlawanan dengan alam. Sehingga-lain dari binatang- manusia masih harus menyesuaikan alam dengan kebutuhannya. Bahwa manusia harus bekerja, menunjukkan bahwa ia tidak begitu saja tunduk kepada alam.

Bagi Marx, pekerjaan adalah tanda ke khasan manusia sebagai makhluk yang bebas dan universal. Bebas karena ia tidak hanya melakukan apa yang langsung menjadi kecondongannya, karena ia dapat merencanakan tindakannya. Misal, meskipun manusia lapar, namun ia dapat misalnya menunda makanannya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting dulu. Dan kemudian, manusia pun tidak terikat pada lingkungan alam yang terbatas, iniah yang dimaksud dengan universal.

Masih mengikuti Hegel, Marx menjelaskan bahwa melalui pekerjaan seseorang menjadi nyata. Misalnya, orang berbakat menjadi seniman. Ia nyata sebagai seniman apabila sudah mengerjakan alam menjadi karya seni. Ketika dia mengambil sepootng kayu yang dcarinya di hutan lalu kemudian mengubah kayu tersebut menjadi sebuah patung kuda, saat itulah kenyataan bahwa ia seniman tidak diragukan lagi. Menjadi jelas bahwa ia adalah seniman, dengan pembuktian melalui hasil kerjanya. Hasi; kerja juga membuktikan kebebasan dan keuniversalan manusia. Yang dikerjakan ditentukan sendiri (bebas) melalui pengetahuannya (universal)  

Pekerjaan sekaligus merupakan tanda bahwa manusia itu makhluk sosial atau bermasyarakat. Misalkan seorang pembuat perahu, perahu yang selesai dibuat tidak hanya menceriminkan kemanusiaannya kepada si pembuat itu sendiri, melainkan juga untuk rekan-rekan sekampungnya. Berkat perahu itu, si pembuat tidak hanya memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain. Orang lain pun mengakui hasil kerjanya. Melalui pengakuan orang lain kita merasa dibenarkan, itulah sebabnya kita begitu rindu diakui dan terpukul jika tidak diakui. Pekerjaan adalah jembatan antar manusia.

Melalui pekerjaan, kita pun dapat mengungkap sejarah. Borobudur adalah hasil pekerjaan orang Indonesia 1300 tahun lalu. Dengan demikian kita dapat mengetahui orang macam apa manusia Indonesia 1300 tahun lalu. Pekerjaan merupakan tindakan manusia selama seluruh sejarahnya. Alam yang mengelilingi manusia sekarang dibangun beturut-turut oleh umat manusia sejak permulaannya. Sejak saat itu manusia mulai mengubah dunia sesuai dengan kebutuhannya. Dari generasi ke generasi umat manusia membangun diir melalui pekerjaannya. Maka melalui pekerjaan manusia menyejarah. Setiap generasi mewariskan apa yang dikerjakannya kepada generasi berikutnya. Tentu saja ini mencakup banyak hal, tidak hanya materil tapi juga non materil. Seluruh benda, paham, tradisi, pendidikan, dan sebagainya.

Marx tentang Keterasingan dalam Pekerjaan
Semua uraian indsh di atas masih menyisakan satu pertanyaan. “Apabila pekerjan itu begitu luhur martabatnya, mengapa begitu banyak orang yang merasa direndahkan dan ditindas di dalamnya?”

Fenomena keterasingan manusia dalam pekerjaannya teramat kentara. Untuk banyak buruh pekerjaan sehari-hari sama sekali bukan suatu kegiatan yang menyenangkan atau menggembangkan martabat mereka. Banyak orang yang membenci pekerjaannya. Terlihat justru dalam pekerjaan manusia merasa terasing. Lalu bagaimana fenomena keterasingan ini dijelaskan? Menurut Marx, pekerjaan itu mengasingkan manusia karena bersifat upahan. Pendapat ini adalah salah satu pendapat mendasar dalam teori Marx.

Pekerjaan upahan berarti orang tidak bekerja karena ia senang bekerja, melainkan karena ia dibayar dan karena ia memerlukan bayaran itu. Maka ia tidak mengerjakan apa yang menjadi bakatnya atau apa yang diinginkannya, melainkan apa yang disuruh majikannya untuk dikerjakan. Maka, universalitas dan kebebasan tadi justru menjadi terasing dalam pekerjaan upahan

Tetapi kemudian, mengapa pekerjaan menjadi pekerjaan upahan? Menurut Marx itu karena kapitalisme. Kapitalisme berarti : modal -alat kerja, mesin, dsb- adalah milik si kapitalis. Buruh tidak punya modal, ia punya tenaga, maka buruh menjual tenaga kerja kepada si kapitalis.

Dalam pekerjaan, buruh (buruh disini dimaksudkan mereka yang tidak memiliki modal dan bekerja pada orang lain) mengalami keterasingan dari 2 sisi ;
  1. Terasing dari diri sendiri. Produk yang dikerjakan tidak dimiliki sendiri, melainkan milik si kapitalis. Apabila ada pembagian kerja, maka ia selalu hanya mengerjakan bagian kecil. Maka kepuasan sebagai pencipta kenyataan baru, tidaklah ia miliki. Ia mengerjakan sesuatu yang akan “dijual” ke majikannya. Jadi ia mengerjakan sesuatu yang tidak mengembangkannya, yang hanya membuatnya lelah. Maka ia terasing dari hakekatnya sendiri, dari hakekatnya sebagai orang universal dan sebagai orang bebas.
  2. Terasing dari manusia lain. Hak milik pribadi atas alat-alat produksi telah mengkotakkan masyarakat ke dalam kelas-kelas kepentingan objektif yang berlawanan. Kelas pertama dengan sendirinya berkepentingan agar buruh bekerja sepanjang dan sekeras mungkin demi upah yang sesedikit mungkin, karena itulah yang menentukan untung dan taraf hidup mereka. Sedangkan buruh dengan sendirinya ingin bekerja sesedikit mungkin dengan upah sebanyak mungkin. Bagaimana pun juga antara dua kelas ini terdapat suatu pertentangan objektif yang tidak dapat ditutup dengan kata-kata manis seperti “kita semua satu keluarga” dan sebagainya. Disisi lain pekerjaan juga mengasingkan buruh dari buruh. Oleh karena mereka bersaing antara mereka sendiri berebut tempat kerja. Homo Homini lupus, jika kita meminjam istilah Hobbes.
Untuk meniadakan keterasingan itu, Marx hanya melihat satu jalan, yaitu penghapusan sistem kerja upahan. Dan ini berarti penghapusan hak milik pribadi atas barang-barang produksi. Jelas bahwa para pemilik modal tidak akan mau. Karena itu menurut Marx hanya ada satu jalan yakni revolusi. Para buruh harus berevolusi dan mengambil alih kekuasaan. Itulah yang dinamakan revolusi sosialis. Dalam buku utama Marx, Das Kapital, Marx berusaha membuktikan bahwa sistem kapitalis sendiri rapuh dan akhirnya melahirkan revolusi untuk mengakhirinya.

Beberapa Pertimbangan Selanjutnya Tentang Manusia Dan Pekerjaan
Apakah kemudian pekerjaan upahan dengan sendirinya mengasingkan manusia dari dirinya sendiri? Dan apa benar bahwa kalau pekerjaan upahan dihapuskan, tidak ada lagi keterasingan manusia dari dirinya sendiri?
Kerangka teoritis Marx ini kemudian mendapat kritikan dari Jurgen Habermas. Menurut Habermas, betul bahwa pekerjaan adalah tindakan dasar manusia. Tetapi menurut Habermas, Marx kurang memperhatikan tindakan dasar manusia yang lebih mendasar, yaitu komunikasi. Hubungan antar manusia, tidak dapat dimengerti menurut model pekerjaan. Komunikasi adalah antara dua subjek, dua-duanya bebas, dua-duanya aktif dan tentu juga pasif. Keterasingan adalah sesuatu yang lebih kompleks. Dalam keterasingan pun manusia masih tau apa itu kebebasan berkomunikasi.  Pembongkarannya juga tidak begitu saja dengan penghapusan pekerjaan upahan. Sebagaimana pekerjaan upahan tidak dengan sendirinya merupakan keterasingan.

Jadi, bukan pekerjaan upahan yang membuat terasing, melainkan kalau pekerjaan memang secara manusiawi merendahkan, menghinakan, teramat berat, tidak manusiawi. Jadi jika bekerja terpasa, lalu begitu saja bisa disuruh apa saja oleh mereka yang diatas, itu jelas mengasingkan.

Sekarang, pemanusiaan pekerjaan bukan lewat revolusi, melainkan melalui perundangan sosial. Dengan semakin merealisasikan hak-hak asasi manusia sosial, diberi jaminan sosial, tempat kerja dan waktu kerja lebih bagus, serta imbalan memungkinkan. Begitu pula demokratisasi untuk menyatakan pendapat, untuk berserikat, dan untuk beraktivitas politik. Jika kondisi seperti ini, manusia akan merasakan bahwa melalui pekerjaan ia dapat mengembangkan diri. Pekerjaan akan menjadi seperti yang diharapkan Marx, sarana manusia membuat nyata bakat dan kemampuannya. Bebas dan universal.

Notes
  • Filsafat Yunani yang bagus memiliki sebuah kelemahan, yakni belum memiliki pembahasan mendalam tentang martabat  manusia
  • Karl Marx memiliki beberapa pemikiran yang amat tajam. Ini terbukti dengan hampir semua pemikiran Marx sudah di kritik. Dalam ilmu sosial, sebuah pemikiran dapat dikategorikan menginspirasi jika ia terus menerus dikritik. Karena dalam ilmu sosial ketika mengemukakan kritik terhadap sebuah pemikiran, maka bagian yang benar dari pendapat yang dikritik tersebut turut diangkat. Inilah yang dimaksud dengan dialektika, mencapai kemajuan berfikir dengan pertentangan pendapat.
  • Pada masa itu Karl Marx menganggap pekerjaan adalah kajian yang menarik karena pekerjaan kerap bertentangan dengan realitas. Marx melihat dalam situasi real, para pekerja mengalami keterasingan 

No comments:

Post a Comment