Homo Economicus
(Manusia Makhluk Ekonomi)bagian 1
Tulisan ini adalah sebuah
review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. B. Herry Priyono dalam pertemuan ketiga
EC STF Driyarkara.
Homo Economicus, jika diartikan secara harfiah dapat berarti makhluk
ekonomi. Namun jika dikupas dan dirunut kebelakang, istilah tersebut tidaklah
se sederhana pengertian harfiahnya. Meskipun demikian, manusia dalam aspek
kehidupannya tidak dapat dipisahkan dengan berbagai kegiatan ekonomi. Dari yang
paling sederhana – ladang, pada masa
Xenophon- sampai kegiatan ekonomi yang kompleks.
Pemaparan Dr B. Herry Priyono ini akan dibagi menjadi 2 tulisan. Dalam
tulisan pertama ini akan mencakup beberapa hal : pertama, penelusuran sejarah
peristilahan Homo economicus. Bagian kedua, akan mencakup metamorfosis makna dari istilah
homo economicus itu sendiri.
Karena ketertarikan pribadi saya terhadap “bahasa-bahasa indah” yang
banyak digunakan Dr Priyono dalam paper nya,
maka banyak dari kalimat beliau yang akan saya tulis secara utuh, tanpa
perubahan, begitupun dengan terjemahan beliau terhadap pendapat para Filsuf
yang akan saya kutip dengan persis sama.
·
Kabut Peristilahan
Istilah homo economicus sendiri tidak diketahui secara pasti kapan
mulai di gunakan. Siapa manusia ekonomi? Berikut ada semacam ungkapan
anekdotal :
“ ia sosok yang diperkenalkan kepada kita secara
perlahan-lahan. Itulah yang membuat kehadirannya diam-diam menyelinap ke dalam
akrab. Lantaran begitu akrab, kita hampir tidak mengenali lagi apa yang ganjil
padanya. Kita tidak tahu apakah ia berbadan tinggi atau pendek, gemuk atau
kurus, menikah atau tidak. Tidak ada keterangan apakah ia suka anjil, memukiuli
istrinya atau ia memilih peniti ketimbang puisi. Kita juga tak mengerti yang
menjadi hasratnya. Namun kita tahu pasti, apapun hasratnya, ia akan mengejarnya
dengan ganas. Ia adalah anak kandung teori utilitas (Hollis and Nell 1975:
53-54)
Deretan kalimat diatas berasal
dari buku Rational Economic Man yang
ditulis oleh filsuf Martin Hollins dan ekonom Edward Nell. Buku serius ini juga
bertaburan rumus kalkulus, berisi pembongkaran atas keganjilan yang melekat
pada seluruh bangunan ekonomi neo klasik yang telah membentuk cara berfikir
kita tentang ekonomi dewasa ini. Meskipun homo economicus tidak pernah hidup
sebagai sosok riil berdarah daging, unsur-unsurnya telah disuntikkan kepada
kita agar kita terbentuk menurut citranya. Namun, apakah dari buku kutipan
Hollis dan Nell tersebut kita bisa serta merta memahami siapa homo economicus?
Atau kita bisa mengetahui bagaimana sifat-sifatnya sedang disuntikkan kepada
kita agar bermetamorfosis menurut citranya?
Untuk menjawab pertanyaan ini,
kita perlu kembali ke belakang. Untuk menengok bagaimana homo economicus
menjadi sebuah istilah. Tidak ada jalan kembali ke asal usul murni. Apa yang
mungkin hanyalah mengenali kembali lapis-lapis jejak yang ditinggalkan, lalu
mengejanya dengan berkat agung yang diberikan kepada kita : daya nalar
Melalui daya nalar yang juga
selalu cacat, dengan mudah kita temukan arti homo, yang berarti manusia / orang. Namun, filolog yang paling ahli
pun mungkin tidak tahupersis berapa ribu tahun lalu kata tersebut digunakan.
Lalu kata economicus juga berasal dari kabut masa lalu, meskipun cukup pasti ia
turunan langsung dari kata Yunani, oikonomikos.
Kata ini pernah dipakai oleh Xenophon
filsuf Yunani yang hidup sekitar 430-354 SM sebagai judul salah satu karyanya OIKONOMIKO∑. Kata oikonomikos dalam karya
Xenophon hanya berarti tata pengelolaan ladang, dan menggarap ladang adalah
mata pencaharian orang-orang biasa di zaman itu. Karya ini tertulis dalam
format sokratik [1]
antara Cristobulus dan Sokrates. Di situ Sokrates terus bertanya secara kritis
sampai Cristobulus mengerti dengan jernih bagaimana cara mengelola ladang agar
menjadi sumber daya yang memenuhi kebutuhan keluarga dan polis. Mungkin dari remang-remang ini kita dapat mengenali akar
pengertian ekonomi.
Namun, remang-remang tersebut
tetap tidak memberi terang mengenai apa yang dimaksud dengan Homo economicus
dewasa ini. Mungkin karena sudah melewati beberapa abad, makna ini pun turut
berevolusi. Cerita kembali ke masa seorang filsuf yang bernama Adam Smith [2] . bisa dikatakan dia lah
yang meletakkan istilah ekonomi modern. Hal ini biasa dikatakan baik dari
kalangan pelajar ataupun orang awam. Namun faktanya, tidak satupun baris dalam
ribuan karya Smith menuliskan istilah Homo
Economicus tersebut. Tidak juga dalam karya besarnya The Wealth of Nation (1776). Kalau bukan dari Adam Smith, lalu dari
mana sosok yang sering disebut makhluk ekonomi itu berasal?
Dalam kepekatan kabut masa lalu,
para pemburu asal usul makhluk itu rupanya mengenali jejak awal pengertian Homo economicus dalam sosok pemikir
Inggris di paroh pertama abad 19. Orang ini tidak pernah sekolah. Ia dididik
sendiri dengan ketat oleh ayahnya, belajar bahasa Yunani ketika berusia 3
tahun, dan bahasa Latin diusia 8 tahun. Pada umur 20 tahun ia telah menjadi pemimpin
kelompok radikal dalam gagasan filsafat. Ia bernama John Stuart Mill
(1806-1873)
Lagi-lagi, apa yang dianggap
jejak Homo economicus dalam tulisan Mill ini adalah jejak yang keruh. Ia tidak
pernah memakai istilah itu dalam tulisannya, tidak juga memasukkan konotasi
yang kemudian berkembang darinya. Dalam Essay
on Some Unsettled Questions of Political Economy, Mill menulis tentang
definisi ekonomi-politik sebagai ilmu
“Ekonomi politik ... tidak mengkaji seluruh kodrat manusia
yang dimodifikasi oleh tata sosial, tidak juga membahas seluruh perilaku
manusia dalam masyarakat. Ia berurusan dengan manusia semata hanya sejauh ia
makhluk yang punya hasrat memiliki harta, dan mampu menilai manjurnya sarana
yang satu dibanding dengan sarana lain dalam mengejar tujuan itu... (dengan)...
sepenuhnya menepiskan semua hasrat dan motif lain, kecuali ... pengejaran
kekayaan” (Mill 1844 : 97)
Mill memandang bahwa manusia
digerakkan oleh banyak sekali kekuatan. Ilmu ekonomi berkonsentrasi pada
kekuatan “mengejar kekayaan”. Meskipun rumusan Mill ini juga menuai banyak
kritik, namun definisi ini mungkin yang menjaadi rumusan pengertian Homo economicus.
- Metamorfosis Makna
Meskipun dalam kutipan diatas
Mill menulis bahwa manusia hanyalah makluk “pengejar harta”. Namun sesungguhnya
Mill haya sedang membatasi kajian ilmu ekonomi. Agar fokus kajian ekonomi tidak
simpang siur dan tumpang tindih dengan kajian ilmu lainnya. Mill mencoba
membatasi fokusnya pada corak tindakan manusia yang berbeda dari corak tindakan
yang menjadi fokus kajian ilmu lainnya[3]. Berikut kutipan karya
Mill yang menegaskan hal tersebut
“ bukan karena para filsuf begitu tolol menganggap hakikat
manusia sebagai benar-benar demikian (digerakkan hanya oleh nafsu mengejar
harta), tapi karena itulah modus kinerja yang secara niscaya perlu ditempuh
suatu ilmu. Mengenai perilaku-perilaku manusia di mana kekayaan bukan obyek
pokoknya, ekonomi politik tidak berlagak bahwa kajiannya dapat diterapkan.
Namun memang ada urusan manusia di mana pencapaian kekayaan merupakan tujuan
pokok dan diakui. Hanya dalam urusan inilah ekonomi politik menaruh perhatian.
Cara yang perlu ditempuh ekonomi politik adalah memperlakukan tujuan pokok itu
seolah-olah sebagai satu-satunya tujuan” (Mill 1844: 97,98)
Apa yang ditulis Mill di atas
jelas menunjukkan ia tidak pernah berpendapat bahwa hakikat manusia adalah
makhluk yang digerakkan hanya oleh pengejaran harta. Cuma mengapa fokus ekonomi
tertuju pada “perilaku manusia yang menyangkut hasrat memiliki kekayaan” ?
tidak ada yang ganjil dengan itu. Rupanya arti oikonomikos sebagai “tata kelola
ladang bagi sumber penghidupan keluarga” dalam gagasan Xenophon hampir 2000
tahun sebelumnya berubah menjadi Economicus dakam arti “tata kelola dan hasrat
memiliki harta”. Dalam karyanya Xenophon berkali-kali juga memperlakukan ladang
sebagai harta agar dapat menjadi sumber penghidupan keluarga. Anggapan “hasrat
pengejaran harta” ini terutama semakin berkembang pada abad ke 18 dan 19 di
Eropa. Kemunculan kaum borjuis, pembentukan kelas komersial baru, serta cikal
bakal kapitalisme menjadi ciri akumulatif konsep Economicus pada zaman Mill.
Dalam arti tertentu dapat
dikatakan Mill hanya menganggap lebih lanjut pengertian implisit ekonomi yang
diisyaratkan Adam Smith 60 tahun sebelumnya. Seperti para pemikir zaman itu,
Smith juga mengajukan teori tentang bagaimana masyarakat terbentuk. Smith
mencari cara menjelaskan kemakmuran bangsa-bangsa. Dalam urusan kemakmuran
material, ia memberi tekanan pada pentingnya perdagangan bebas antar
orang-orang biasa. Kemakmuran tidak ditempuh dengan cara merampas dan
kekerasan, tidak juga dengan mengemis ataupun beramal, tetapi melalui
pertukaran dan perdagangan yang menghasilkan dinamika akumulasi kekayaan.
Yang menarik dari pemaparan Smith
ini adalah bahwa segala kegiatan transaksional itu ternyata melibatkan proses
emosional yang menawan. Andaikan suatu
pagi, saya sebagai nelayan tiba dari menjaring ikan di laut lalu kelaparan.
Saya butuh beras namun beras tersebut dimiliki petani. Saya tidak bisa memenuhi
kebutuhan saya kecuali saya mendapatkannya dari petani. Karena saya tak mau
merebut paksa ataupun mengemis darinya, saya tidak bisa tidak “masuk” ke dalam
kepentingan si petani itu untuk mengerti apa yang ia butuhkan agar ia bersedia
melepaskan sekilo beras untuk saya. Maka, agar kepentingan diri saya terpenuhi,
saya mesti memenuhi kepentingan diri petani itu. Rentanglah proses ini ke
skala jutaan atau ratusan juta orang dan tambahkan unsur lain seperti gudang,
angkutan, teknologi informasi, dan seterusnya. Jadilah mekanisme pasar. Orang
memperoleh apa yang diinginkan tidak dengan memaksa atau mengemis, tatapi
dengan berjual beli.
Smith menyebut dinamika emosional
“saling masuk” ke dalam kepentingan orang lain itu sebagai simpati (sympathy).
Namun dari situ juga menjadi jelas bahwa self
interest sama sekali bukan seperti “satu pulau tertutup di tengah samudra
ketiadaan yang lain”, tetapi beroperasi dalam jaring kepentingan lain. Tanpa
“masuk” ke dalam kepentingan diri orang
lain, kepentingan diri sendiri tidak akan terpenuhi. Seperti ungkapan Smith
yang mashyur itu :
“ bukan dari kebaikan hati
pemotong daging, peramu minuman atau tukang roti kita memperoleh makanan kita,
tetapi dari rasa cinta diri mereka pada kepentingan mereka sendiri. Kita
memenuhi kepentingan diri bukan dengan menggerakkan rasa kemanusiaan mereka,
tetapi rasa cinta diri mereka. Dan jangan pernah berbicara kepada mereka
tentang kebutuhan kita, tetapi bicaralah tentang keuntungan diri mereka
sendiri” (Smith 2000 (1776) : 15)
Sampai disini tercipta lah
gambaran makhluk ekonomi yang kita warisi dewasa ini.
Notes :
- Menurut Adam Smith, harga adalah persis medium untuk simpati.
[1]
Format Sokratik artinya format dialog. Tulisan yang menggunakan format sokratik
adalah dengan menggunakan perbincangan
imajiner.
[2]. Adam Smith bukanlah seorang ekonom
namun seorang filsuf moral. Pada abad ke 19, filsafat adalah general science.
Bahkan natural science pun awalnya adalah natural philsophy. Sehingga seorang
seperti Issac Newton pun adalah seorang filsuf. Begitu juga dengan ilmu sosial
yang awalnya bernama moral philosophy. Baru pada akhir abad ke 19, berkembang
menjadi lmu sendiri-sendiri. Hal inilah yang menyebabkan perintis ilmu alam dan
ilmu sosial adalah filsuf.
[3]
Pembatasan fokus dibutuhkan supaya objek
ilmu menjadi jelas. Hal ini berlaku pada semua ilmu yang pasti membatasi kajian
nya pada satu premis saja. Contonya misal : ilmu ekonomi hanya membatasi
fokusnya pada dinamika kejiwaan, ataupun ilmu sejarah hanya membatasi fokusnya
pada dinamika temporer kehidupan manusia.
No comments:
Post a Comment