Wednesday, November 5, 2014

Guru dan Saya

"Jika sang murid sudah siap, maka sang guru akan muncul"

Ada yang sudah pernah mendengar kalimat itu?

Ya kalimat itu adalah petikan dari Bhagavad Gita. No no no jgn langsung menilai tulisan ini akan penuh bahasa-bahasa rumit nan filosofis. Hahahaa. Tulisan ini akan amat ecek-ecek . Saya cuma meminjam satu kalimat itu saja.

Sewaktu pertama kali mendengar kalimat tersebut, terus terang saya berfikir. Apa iya? Apa memang semua tergantung murid? Apa disini posisi muridlah yang menentukan kapan pelajaran itu akan dimulai?

Saya merefleksi diri. Saya pastilah seorang murid. Siapa guru saya? Sepanjang hidup saya pasti saya telah menemui banyak guru. Lalu kapan kah saya menyadari pelajaran apa saja yg telah mereka berikan?

Terlalu banyak jika semua guru saya harus saya tulis disini. Saya akan mencoba untuk mengaitkan kalimat tsb dgn guru-guru yg saya temui 1 tahun terakhir ini.

Kita akan mulai dengan ini : kurang lebih setahun yang lalu, saya harus menjalani sebuah operasi. Dari operasi itu apa efek samping yg saya dapat? Saya jadi super ketakutan untuk menghadapi segala macam hal yg berbau belah membelah, bedah membedah ataupun jahit menjahit. Mungkin ada yg menganggap berlebihan. Tapi, sampai detik ini saya masih dapat membayangkan bagaimana rasanya. Badan sy sdh terbius lokal, td akan merasakan sakit, tapi saya masih bisa merasakan sayatan pisau yg merobek kulit saya, dan darah yg kemudian mengalir dari luka segar saya. Itu adalah salah satu hal yg tidak akan saya lupakan. Ketika proses operasi terjadi pun saya masih bisa merasakan kulit saya yg ditarik dan kemudian di jahit. Setelahnya beberapa malam kemudian sudah pasti saya akan selalu membayangkan hal itu. Luka saya mungkin cepat sembuh. Tapi secara psikologis saya tau ada sebuah luka yg terbentuk jauh di dalam jiwa saya. Saya trauma. Pada segala macam bentuk operasi.

Dari situ, saya tau segala macam bentuk operasi harus saya hindari. Jika Tuhan mengizinkan saya harap itulah operasi pertama dan terakhir yg akan saya rasakan. Saya berjanji akan melakukan apapun untuk menghindarkan diri dari hal itu.

Lalu ada satu hal yg menggelitik saya. Saya perempuan. Suatu saat saya akan hamil, suatu saat saya harus melahirkan, dan saya tau ada kemungkinan yg bernama caesar. Dan saya yakin caesar akan berkali-kali lipat horor nya dari operasi yg pernah saya alami sebelumnya. Saya pernah mendengar cerita teman-teman saya yg pernah caesar kalau mereka masih merasakan semua proses belah membelah-sayat menyayat-tarik menarik itu. Dengan kondisi yg amat sadar. Whaaat ! Saya adalah org yg sangat bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Saya yakin saya akan histeris begitu saya berada di situasi itu. Saya harus melakukan apapun. Apapun. Untuk tidak sampai merasakan hal itu. Saya tau Tuhan pun selalu berkehendak supaya kita manusia terus belajar, terus mencari. Dititik ini saya merasa saya harus mencari tahu jawaban ini.

"Ketika sang murid sudah siap, maka sang guru akan muncul".
Guru, sebenarnya sudah ada. Sudah terlebih dulu ada sejak kita murid-muridnya ini bahkan belum menyadari keberadaannya. Guru, masih tersembunyi, menunggu kita menyiapkan diri untuk pertemuan dengan nya. Untuk membuat kita tidak terkejut untuk menemukan bagaimanapun "wujud" guru kita ini nantinya.


Ditemani rasa trauma saya, kami mulai menjelajah dunia pengetahuan. Kami mulai mencari apakah kiranya yang bisa membuat kami berdua berdamai. Pencarian pertama membawa kami pada pengetahuan mengenai tree of life.  Saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan hal ini. Karena saya bukan pendoktrin. Silahkan temukan sendiri apa itu tree of life. Tapi dititik ini. Kami, saya dan rasa trauma saya menemukan mengenai keseimbangan hidup. Bahwa saya pada akhirnya harus berdampingan dengan trauma adl karena kami tidak sampai pada kondisi seimbang. Sampai disini kami menemukan awal, namun masih sangat jauh dgn penyelesaian mengenai anak dari trauma saya, si caesar.

Manusia tdk pernah boleh berhenti. Saya sdh bertemu guru tree of life , lalu perjalanan pun berlanjut. Guru berikutnya mulai menampakkan diri dalam wujud penemuan artikel penyembuhan holistik. Lagi-lagi disini saya tdk akan membahas apa itu penyembuhan holistik. Silahkan cari sendiri . Yang jelas guru kedua ini sejalan dgn guru pertama saya. Melalui guru kedua saya tau apa yg saya cari. Ada sebuah alternatif. Ada sebuah metode yg dengannya saya tetap bisa seimbang. Ada sebuah metode yg dengannya saya tidak usah lagi berhadapan dengan trauma.
Kemudian, guru kedua membimbing saya untuk betemu dengan guru ketiga. Sosok guru ke 3 ini datang dengan cukup spektakuler. Membuat saya cukup ternganga dan membolak balik kan perspektif saya. Guru ketiga ini membuka mata saya selebar-lebarnya tentang sebuah hal lama yg justru sangat modern.

Saya ingat, semasa kuliah saya dan teman-teman pernah melakukan sebuah penelitian mengenai pertanian organik. Di penelitian ini kami menyatakan bahwa pertanian organik yg mengesampingkan hal-hal modern dan kembali kepada alam adalah sesuatu yg justru menjadi sebuah alternatif yg lbh baik. Post modern. Justru lebih modern dari yg modern. Saya sdh memiliki pengetahuan ini. Guru ketiga saya cukup merecall pengetahuan ini

Adalah Gentle Birth. Sesuatu yg dibawa oleh guru ketiga saya ini. Melalui sebuah video yg berjudul birth as we know it (silahkan cari di youtube) saya terkesima. Saya pernah menonton video org melahirkan. Saya pun kerap dicekoki adegan-adegan persalinan. Dan semua hal itu mendatangkan gambaran horor. Dan melihat video itu semua hal yg sdh saya tau diputar balik kan. Namun mata saya terbuka lebar. Sebelumnya satu hal yg saya percaya , satu hal yg menggelitik saya, org sering berkata bayi sdh bisa mendengar dan merasa dari kandungan, lalu tidakkah persalinan yg penuh drama, teriakkan dan cakaran ala gambaran di film dan sinetron akan mempengaruhi mereka? Dan guru gentle birth saya menjawab semua ini. Terlebih lagi dia pun menawarkan kepada saya cara untuk menghindari trauma operasi dan segala atribut sayat menyanyat itu. Namun Guru ketiga saya ini meminta banyak. Banyak hal yang harus saya paham. Banyak hal yg harus saya pelajari, banyak hal yg harus saya latih. Tapi semenjak dia memperkenalkan diri kepada saya. Saya sdh memutuskan saya akan menjadi murid nya. Saya akan mengikuti apapun perkataannya. Saya menyerahkan diri kepadanya.

Guru pertama, kedua dan ketiga saya telah bersepakat . Mereka menginginkan saya menjadi muridnya. Mungkin dahulu mereka punya satu mahaguru dan mahaguru ini lah yg menetapkan urutan kapan mereka satu persatu akan menemui saya. Semua menunggu saya siap. Semua menunggu saya membuka diri untuk mereka

Ternyata, saya masih diperkenankan menemukan guru keempat dan kelima dalam waktu yg hampir bersamaan. Sebuah situasi lagi-lagi memaksa saya untuk menerima sebuah hal. Berbekal pengetahuan dr guru ketiga guu terdahulu  tentu saja penawar yg saya cari adalah yg sejalan dengan guru saya terdahulu.

Guru keempat sebenarnya pernah saya temui. Namun pada masa itu kesiapan saya belum cukup, sehingga guru pun tdk sempat menampakkan diri secara utuh kepada saya. Dan sekarang saya pun mencarinya lagi dan dia tau saya sdh siap. Guru keempat saya , yoga. Dia kembali menyapa saya.
Bersamaan dgn sang guru keempat datanglah juga karib nya, dalam wujud essential oil. Guru kelima ini kembali berkata, "kau harus seimbang murid ku, kembalilah pada sesuatu yg alami. Bukankah kau sdh belajar itu?" Dan tanpa ragu guru ini pun saya terima.

Mungkin, seiring dengan kesiapan saya, akan lebih banyak guru lain yg datang. Mereka hanya sedang menunggu tugas dari mahaguru untuk menghampiri saya. Ada banyak hal-hal yg belum saya siapkan. Ada banyak hal-hal yg belum saya terima. Namun seiring dgn kesadaran, seiring dgn pelajaran dari guru-guru terdahulu saya akan menerima dan membuka pintu selebar-lebarnya untuk guru-guru lain yg datang. Karena saya percaya, mahaguru tau siapa saya. Mahaguru tau guru mana saja yg tepat untuk saya...

Monday, October 13, 2014

drama Udah-Isi-Belom

Akhir-akhir ini saya suka kegerahan. Bukan karena musim hujan tak kunjung datang padahal udah bulan ber-beran (halaaah, ketauan  banget saya lahir nya kapan ), melainkan karena sebuah pertanyaan yang umumnya pasti dihindari dan dimalesin hampir semua pasangan di Indonesia yang baru nikah. Yes friend, saya sampai pada fase ditanyain UDAH-ISI-BELOM??

Sekarang, tiap kali liat muka saya ataupun Tohonan orang pastiiii hobi banget ngasih pertanyaan itu? Padahal saya dan Tohonan baru merried 10 bulan. Iyaa saya ulang 10 bulan. Astagaaaa.

Meskipun orangtua dan adik-adik kami tidak, namun pertanyaan ini jadi semacam pertanyaan wajib yang harus banget diajukan kepada kami. Entah oleh saudara, ataupun teman, malah yang dialami suami saya, dia sampi ditanya OB di kantornya yang DULU. Okelah, saya paham kalian mungkin ga sabar ngeliat hasil perpaduan kece Zulka dan Tohonan ini (hahaha) , tapi cobalah untuk memikirkan hal ini sebelum mengajukan pertanyaan  “Kalau kalian aja sudah ga sabar banget pingin liat baby kami (yaah saya menarik kesimpulan ini mengingat seringnya kalian bertanya), coba pikirkan betapa LEBIH kepinginnya kami “

Oke sebenernya memang kami tidak perlu bereaksi berlebihan dengan pertanyaan ini, anggap aja angin lalu ya kan? Belum tentu juga orang yang bertanya itu benar-benar ingin tahu. Sejauh ini memang yang biasa saya lakukan adalah pura-pura bego, menjawab “belom nih”. Titik.  Mungkin suami saya yang sedikit lebih nice, dia akan menjawab “Belum, doain aja yaa”, sambil tertawa. Meskipun drama pertanyaan ini terus berulang, tapi saya dan Tohonan masih dalam fase belum terlalu ambil pusing.  

Tapi, dengan mengalami ini saya jadi memikirkan satu hal, seringkali kita tanpa sadar terlalu sering untuk ingin “masuk” ke dalam kehidupan pribadi orang lain. Sebenarnya pertanyaan itu terkesan biasa, malah ada yang menafsirkannya memang sebagai ungkapan kepedulian. Tapi pernahkah kalian memikirkan seandainya pertanyaan tersebut diajukan kepada orang yang sudah bertahun-tahun melakukan segala cara untuk hamil tapi tak kunjung hamil juga. Mungkin sekarang, dengan waktu 10 bulan, saya baru sampai pada reaksi Haloooo-ada pertanyaan lain ga- malesin banget sih- , tapi bagaimana dengan mereka? Coba bayangkan kekecewaan yang mereka alami karena hal yang telah diusahakan tidak juga didapat, dan harus kalian tambahi dengan pertanyaan yang menegaskan hal yang belum mereka dapatkan itu. Tidak semua hal bisa diumbar ke ranah publik. Apa semua hal yang telah mereka coba lakukan, dokter mana yang mereka datangi, obat apa yang telah mereka minum harus mereka ceritakan untuk menjawab satu pertanyaan kalian itu?

Ingin tahu kehidupan pribadi orang terkadang keliahatannya memang menarik, apalagi mengomentarinya. Namun sekali lagi cobalah lebih berempati, bahkan kalau boleh mendoakan dengan tulus dan diam-diam. Bukannya diteriakkan dengan keras didepan orangnya “aku doain yaaa” , tapi setelah itu tidak sedikitpun mengucap doa untuk dia.

Akhirnya, pernah mendengar ungkapan sesuatu akan indah pada waktunya? Nah itulah, manusia tetap manusia. Bukan Tuhan yang tau kapan saat yang indah itu. Jadi mari bantu kami menunggu waktu itu tanpa terlalu banyak mengajukan pertanyaan

PEACE






Thursday, October 2, 2014

Fullstop.

okay,
Saya sudah memutuskan, mulai postingan ini, saya ga akan posting lagi review materi extension course dari Driyarkara. Memang, saya janji sama diri sendiri tetap akan bikin review, tapi ga untuk di publish. ini untuk menghindari blog saya jadi seperti blog kuliah. hahaha

Tapi, untuk yang tetap berminat pengen baca dan tau review materi filsafat yang saya pelajari, saya akan dengan senang hati berbagi. feel free to contact me via email zulkamelati@gmail.com.

sampai ketemu di cerita lainnya :D

Thursday, September 18, 2014

Review EC.F 4

Manusia dan Pekerjaan

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Prof Franz Magnis-Suseno SJ, dalam pertemuan keempat EC STF Driyarkara.

Amat sedikit kajian filsafat mengenai pekerjaan. Ini mungkin dikarenakan bahwa filsafat dibuat dari sudut pandang priyayi yang pada masa tersebut tidak lah perlu bekerja dan dapat hidup dari pekerjaan orang lain (buruh). Dengan sendirinya, pada masa itu pekerjaan dianggap sesuatu yang perlu dihindari. Pekerjaan adalah tanda orang bawahan “rakyat”.

Bagaimana filsafat memandang pekerjaan? Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian, pertama akan dipaparkan mengenai sejarah filsafat pekerjaan. Akan dijabarkan sedikit filosof-filosof yang meletakkan dasar pemikiran filsafat pekerjaan. Kemudian, tulisan akan dilanjutkan mengenai uraian pemikiran Karl Marx mengenai pekerjaan, Marx lah yang kemudian mengembangkan pemikiran mengenai pekerjaan ini terutama dalam karyanya Das Kapital. Akan dibahas juga bagaimana Marx kemudian melihat realita pada masa itu, dimana ia akan menjelaskan mengenai keterasingan (alienasi) manusia dalam pekerjaan. Pada bagian akhir, akan dijelaskan mengenai sudut pandang Prof Magnis (dengan menggunakan pendapat Habermas) terhadap pemikiran yang diutarakan Karl Marx

Sejarah filsafat manusia
Bagi Aristoteles pekerjaan termasuk poesis , kegiatan yang dilakukan bukan karena diminati, melainkan karena perlu untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan atau diminati, jadi sebagai sarana. Pekerjaan adalah ponos yakni beban berat yang syukur kalau kita bebas darinya. Seperti yang telah dikemukakan diatas, pada mas ini, Aristoteles hanya menghitung warga negara yang sama-sama berpolitik, mereka yang tidak perlu bekerja tangan.
Ini baru berubah di permulaan modernitas, John Locke menemukan bahwa segala nilai ekonomis diciptakan dalam pekerjaan. Namun filsafat pekerjaan paling mendasar dikembangkan oleh Hegel. Dan kemudian, dengan diambil dari Hegel, filsafat pekerjaan dikembangkan oleh Karl Marx.

Hakikat Pekerjaan Menurut Karl Marx
Dari Hegel, Marx mengambil pengertian pekerjaan sebagai pernyataan diri manusia melalui objektifasi. Sebaimana Hegel, Marx pun menganggap manusia baru mencapai kenyataannya yang sepenuhnya apabila ia dapat memahami diri. Dalam pekerjaannya, manusia “mengadakan diri tidak hanya seperti dalam kesadaran intelektual, melainkan secara berbuat, secara nyata, sehingga ia memandang dirinya sendiri dalam dunia yang diciptakannya sendiri”.

Marx bertolak dari kenyataan bahwa manusia harus bekerja supaya ia bisa hidup. Tetapi mengapa manusia harus bekerja sedangkan binatang tidak? Walaupun manusia termasuk alam, namun ia juga berlawanan dengan alam. Sehingga-lain dari binatang- manusia masih harus menyesuaikan alam dengan kebutuhannya. Bahwa manusia harus bekerja, menunjukkan bahwa ia tidak begitu saja tunduk kepada alam.

Bagi Marx, pekerjaan adalah tanda ke khasan manusia sebagai makhluk yang bebas dan universal. Bebas karena ia tidak hanya melakukan apa yang langsung menjadi kecondongannya, karena ia dapat merencanakan tindakannya. Misal, meskipun manusia lapar, namun ia dapat misalnya menunda makanannya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting dulu. Dan kemudian, manusia pun tidak terikat pada lingkungan alam yang terbatas, iniah yang dimaksud dengan universal.

Masih mengikuti Hegel, Marx menjelaskan bahwa melalui pekerjaan seseorang menjadi nyata. Misalnya, orang berbakat menjadi seniman. Ia nyata sebagai seniman apabila sudah mengerjakan alam menjadi karya seni. Ketika dia mengambil sepootng kayu yang dcarinya di hutan lalu kemudian mengubah kayu tersebut menjadi sebuah patung kuda, saat itulah kenyataan bahwa ia seniman tidak diragukan lagi. Menjadi jelas bahwa ia adalah seniman, dengan pembuktian melalui hasil kerjanya. Hasi; kerja juga membuktikan kebebasan dan keuniversalan manusia. Yang dikerjakan ditentukan sendiri (bebas) melalui pengetahuannya (universal)  

Pekerjaan sekaligus merupakan tanda bahwa manusia itu makhluk sosial atau bermasyarakat. Misalkan seorang pembuat perahu, perahu yang selesai dibuat tidak hanya menceriminkan kemanusiaannya kepada si pembuat itu sendiri, melainkan juga untuk rekan-rekan sekampungnya. Berkat perahu itu, si pembuat tidak hanya memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain. Orang lain pun mengakui hasil kerjanya. Melalui pengakuan orang lain kita merasa dibenarkan, itulah sebabnya kita begitu rindu diakui dan terpukul jika tidak diakui. Pekerjaan adalah jembatan antar manusia.

Melalui pekerjaan, kita pun dapat mengungkap sejarah. Borobudur adalah hasil pekerjaan orang Indonesia 1300 tahun lalu. Dengan demikian kita dapat mengetahui orang macam apa manusia Indonesia 1300 tahun lalu. Pekerjaan merupakan tindakan manusia selama seluruh sejarahnya. Alam yang mengelilingi manusia sekarang dibangun beturut-turut oleh umat manusia sejak permulaannya. Sejak saat itu manusia mulai mengubah dunia sesuai dengan kebutuhannya. Dari generasi ke generasi umat manusia membangun diir melalui pekerjaannya. Maka melalui pekerjaan manusia menyejarah. Setiap generasi mewariskan apa yang dikerjakannya kepada generasi berikutnya. Tentu saja ini mencakup banyak hal, tidak hanya materil tapi juga non materil. Seluruh benda, paham, tradisi, pendidikan, dan sebagainya.

Marx tentang Keterasingan dalam Pekerjaan
Semua uraian indsh di atas masih menyisakan satu pertanyaan. “Apabila pekerjan itu begitu luhur martabatnya, mengapa begitu banyak orang yang merasa direndahkan dan ditindas di dalamnya?”

Fenomena keterasingan manusia dalam pekerjaannya teramat kentara. Untuk banyak buruh pekerjaan sehari-hari sama sekali bukan suatu kegiatan yang menyenangkan atau menggembangkan martabat mereka. Banyak orang yang membenci pekerjaannya. Terlihat justru dalam pekerjaan manusia merasa terasing. Lalu bagaimana fenomena keterasingan ini dijelaskan? Menurut Marx, pekerjaan itu mengasingkan manusia karena bersifat upahan. Pendapat ini adalah salah satu pendapat mendasar dalam teori Marx.

Pekerjaan upahan berarti orang tidak bekerja karena ia senang bekerja, melainkan karena ia dibayar dan karena ia memerlukan bayaran itu. Maka ia tidak mengerjakan apa yang menjadi bakatnya atau apa yang diinginkannya, melainkan apa yang disuruh majikannya untuk dikerjakan. Maka, universalitas dan kebebasan tadi justru menjadi terasing dalam pekerjaan upahan

Tetapi kemudian, mengapa pekerjaan menjadi pekerjaan upahan? Menurut Marx itu karena kapitalisme. Kapitalisme berarti : modal -alat kerja, mesin, dsb- adalah milik si kapitalis. Buruh tidak punya modal, ia punya tenaga, maka buruh menjual tenaga kerja kepada si kapitalis.

Dalam pekerjaan, buruh (buruh disini dimaksudkan mereka yang tidak memiliki modal dan bekerja pada orang lain) mengalami keterasingan dari 2 sisi ;
  1. Terasing dari diri sendiri. Produk yang dikerjakan tidak dimiliki sendiri, melainkan milik si kapitalis. Apabila ada pembagian kerja, maka ia selalu hanya mengerjakan bagian kecil. Maka kepuasan sebagai pencipta kenyataan baru, tidaklah ia miliki. Ia mengerjakan sesuatu yang akan “dijual” ke majikannya. Jadi ia mengerjakan sesuatu yang tidak mengembangkannya, yang hanya membuatnya lelah. Maka ia terasing dari hakekatnya sendiri, dari hakekatnya sebagai orang universal dan sebagai orang bebas.
  2. Terasing dari manusia lain. Hak milik pribadi atas alat-alat produksi telah mengkotakkan masyarakat ke dalam kelas-kelas kepentingan objektif yang berlawanan. Kelas pertama dengan sendirinya berkepentingan agar buruh bekerja sepanjang dan sekeras mungkin demi upah yang sesedikit mungkin, karena itulah yang menentukan untung dan taraf hidup mereka. Sedangkan buruh dengan sendirinya ingin bekerja sesedikit mungkin dengan upah sebanyak mungkin. Bagaimana pun juga antara dua kelas ini terdapat suatu pertentangan objektif yang tidak dapat ditutup dengan kata-kata manis seperti “kita semua satu keluarga” dan sebagainya. Disisi lain pekerjaan juga mengasingkan buruh dari buruh. Oleh karena mereka bersaing antara mereka sendiri berebut tempat kerja. Homo Homini lupus, jika kita meminjam istilah Hobbes.
Untuk meniadakan keterasingan itu, Marx hanya melihat satu jalan, yaitu penghapusan sistem kerja upahan. Dan ini berarti penghapusan hak milik pribadi atas barang-barang produksi. Jelas bahwa para pemilik modal tidak akan mau. Karena itu menurut Marx hanya ada satu jalan yakni revolusi. Para buruh harus berevolusi dan mengambil alih kekuasaan. Itulah yang dinamakan revolusi sosialis. Dalam buku utama Marx, Das Kapital, Marx berusaha membuktikan bahwa sistem kapitalis sendiri rapuh dan akhirnya melahirkan revolusi untuk mengakhirinya.

Beberapa Pertimbangan Selanjutnya Tentang Manusia Dan Pekerjaan
Apakah kemudian pekerjaan upahan dengan sendirinya mengasingkan manusia dari dirinya sendiri? Dan apa benar bahwa kalau pekerjaan upahan dihapuskan, tidak ada lagi keterasingan manusia dari dirinya sendiri?
Kerangka teoritis Marx ini kemudian mendapat kritikan dari Jurgen Habermas. Menurut Habermas, betul bahwa pekerjaan adalah tindakan dasar manusia. Tetapi menurut Habermas, Marx kurang memperhatikan tindakan dasar manusia yang lebih mendasar, yaitu komunikasi. Hubungan antar manusia, tidak dapat dimengerti menurut model pekerjaan. Komunikasi adalah antara dua subjek, dua-duanya bebas, dua-duanya aktif dan tentu juga pasif. Keterasingan adalah sesuatu yang lebih kompleks. Dalam keterasingan pun manusia masih tau apa itu kebebasan berkomunikasi.  Pembongkarannya juga tidak begitu saja dengan penghapusan pekerjaan upahan. Sebagaimana pekerjaan upahan tidak dengan sendirinya merupakan keterasingan.

Jadi, bukan pekerjaan upahan yang membuat terasing, melainkan kalau pekerjaan memang secara manusiawi merendahkan, menghinakan, teramat berat, tidak manusiawi. Jadi jika bekerja terpasa, lalu begitu saja bisa disuruh apa saja oleh mereka yang diatas, itu jelas mengasingkan.

Sekarang, pemanusiaan pekerjaan bukan lewat revolusi, melainkan melalui perundangan sosial. Dengan semakin merealisasikan hak-hak asasi manusia sosial, diberi jaminan sosial, tempat kerja dan waktu kerja lebih bagus, serta imbalan memungkinkan. Begitu pula demokratisasi untuk menyatakan pendapat, untuk berserikat, dan untuk beraktivitas politik. Jika kondisi seperti ini, manusia akan merasakan bahwa melalui pekerjaan ia dapat mengembangkan diri. Pekerjaan akan menjadi seperti yang diharapkan Marx, sarana manusia membuat nyata bakat dan kemampuannya. Bebas dan universal.

Notes
  • Filsafat Yunani yang bagus memiliki sebuah kelemahan, yakni belum memiliki pembahasan mendalam tentang martabat  manusia
  • Karl Marx memiliki beberapa pemikiran yang amat tajam. Ini terbukti dengan hampir semua pemikiran Marx sudah di kritik. Dalam ilmu sosial, sebuah pemikiran dapat dikategorikan menginspirasi jika ia terus menerus dikritik. Karena dalam ilmu sosial ketika mengemukakan kritik terhadap sebuah pemikiran, maka bagian yang benar dari pendapat yang dikritik tersebut turut diangkat. Inilah yang dimaksud dengan dialektika, mencapai kemajuan berfikir dengan pertentangan pendapat.
  • Pada masa itu Karl Marx menganggap pekerjaan adalah kajian yang menarik karena pekerjaan kerap bertentangan dengan realitas. Marx melihat dalam situasi real, para pekerja mengalami keterasingan 

Thursday, September 11, 2014

Dia

Tidak banyak yang sudah benar-benar mencoba mengenalnya, namun telah berani menyimpulkan bagaimana dia
Tidak banyak yang benar-benar mencoba menggali jalan pikirannya, namun hanya terhenti pada pemahaman “katanya”
Banyak yang terkadang hanya mengetahui luarnya, namun seolah sudah mengetahui sampai bagian terdalamnya..
Dia tak ubah seperti seorang gadis cantik yang pendiam. Yang karena keheningannya banyak orang yang menjaga jarak darinya
Dia tak ubahnya seorang gadis cantik yang pendiam. Yang membuat banyak orang berbisik-bisik membicarakannya di belakang punggungnya.
Dia tak ubahnya seorang gadis cantik yang pendiam. yang terkadang tidak kuasa membendung banyaknya prasangka atas dirinya
Menarik, penuh teka-teki, namun di kepala beberapa orang dia telah terbentuk menjadi sosok  yang penuh hal-hal diluar imaji

Coba kau ketuk pintu rumah gadis itu, cobalah berbincang dengannya.
Mengambil jarak langsung sedikit lebih dekat,
Kau akan menemukan betapa dia sesungguhnya dekat denganmu
Kau akan menemukan betapa sederhana pemikirannya, betapa banyak yang salah mengira dia.

Dia,
Philosophia ....



*sebuah catatan kecil yang dibuat karena menyadari banyaknya stigma terhadap filsafat. Tak pernah melupakan pandangan aneh, ketidakantusiasan, sampai pesan “baik-baik ya” ketika saya bercerita saya mengikuti kursus filsafat. Sepertinya menurut banyak orang filsafat itu semacam berguru kepada alien. Hahaha. Entahlah. 

Wednesday, September 10, 2014

Review EC.F (3.2)

Homo Economicus
(Manusia Makhluk Ekonomi)bagian 2

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. B. Herry Priyono dalam pertemuan ketiga EC STF Driyarkara.

Pada Tulisan kedua mengenai Homo economicus ini, akan dibahas  mengenai bagaimana pandangan mengenai homo economicus bertransformasi “seolah-olah” menjadi  kodrat manusia itu sendiri. Selanjutnya pada  bagian akhir, akan dibahas mengenai kritik terhadap pendapat mengenai kesesatan totalisasi dan pandangan Dr. Priyono mengenai homo economicus

·           Menghemat Manusia
Dalam karya yang dianggap sebagai cikal bakal ilmu ekonomi, Smith memang tidak berbicara mengenai kodrat manusia. Ia berbicara mengenai perdagangan bebas yang dilihat sebagai jalan menuju kemakmuran bangsa. Tapi tindakan berdagang tidak dilakukan oleh hantu, tidak juga oleh batu, melainkan oleh manusia. Maka, Smith berhadapan dengan teka-teki ini : Siapakah manusia dalam tindakan perdagangan? Atau seringkali pertanyaan secara serius diutarakan : syarat antropologis apa supaya perdagangan menjadi mungkin dan berkembang?

Sejak abad ke 14, para orang-orang pandai memang sibuk dengan pertanyaan tentang kodrat manusia, tentang siapa manusia. Untuk hal itu  mereka mesti menjelaskan perilaku manusia dalam segala situasi. Contohnya : Thomas Hobbes (1588-1679). Dalam bayang-bayang amuk perang di Inggris, ia menulis teori politik dalam Leviathan (1651), dengan mengandaikan bahwa manusia dalam kondisi asali adalah Homo homini lupus (serigala bagi sesamanya). Ini langkah biasa dalam dunia pemikiran: pengamatan tentang eksistensi memunculkan pertanyaan tentang esensi

Tak perlu menjadi filsuf untuk melakukan ini, kita pun bisa melakukan logika semacam diatas. Misalnya, kita menyaksikan bagaimana perampok membunuh anak-anak. Melihat itu tentu jantung kita seolah berhenti, lalu bertanya dalam hati : siapakah sesunggunya manusia, hingga dengan keji tega membunuh anak-anak? Kita seperti menyimpulkan sendiri manusia adalah makhluk pembunuh. Sehingga terkadang, istilah parsial menjadi di total kan

Beginilah teka-teki antropologis yang memburu Smith. Terhadap teka-teki itu Smith menyimpulkan: perdagangan dan industri akan maju pesat bila dalam kinerjanya manusia bergerak atas dasar kepentingan diri. Jadi pada mulanya adalah gejala perdagangan dan untuk menjelaskan dinamika itu ia harus mengandaikan kepentingan diri sebagai penggerak tindakan manusia.

Dengan kata lain gagasan “manusia digerakkan oleh kepentingan diri” adalah prasyarat antropologis yang diandaikan Smith agar secara metodologis ia mampu menjelaskan gejala perdagangan dalam kehidupan ekonomi. Ini yang biasa disebut postulat atau pengandaian metodologis dalam proses berfikir. Sederhananya, setiap ilmu pasti memiliki istilah untuk menyimpulkan manusia.

 Perhatikan skema di bawah ini : 

lampu merah -----------> manusia makhluk aturan 

Misal : asumsikan diri kita bukan makhluk bumi. Ketika kita melihat manusia-manusia di bumi akan berhenti ketika ada lampu merah, maka tentu kita akan menganggap manusia adalah makhluk yang punya aturan. Dari asumsi itu, akhirnya kita bisa meyimpulkan dengan istilah “manusia makhluk aturan” . Begitulah skema logika  terbentuknya sebuah asumsi tentang manusia 

Meskipun tidak disadari, ini adalah langkah biasa dalam proses berfikir. Namanya penghematan (Parsimony). Sebab kita tidak akan mampu memikirkan semua hal di bawah langit dalam satu momen pembahasan. Begitu pula Smith tidak sanggup mencakup semua dimensi kodrat manusia sebagai penjelasan antropologis atas gejala dan kemajuan perdagangan dalam tata ekonomi. Ilmu ekonomi punya istilah Ceteris Paribus, meskipun ini bukan sepenuhnya istilah ekonomi.

Dalam Ungkapan Latin Ceteris Paribus berarti dengan mengandalkan hal / faktor lain sama atau konstan. Berikut Ilustrasi singkat untuk memahami ceteris paribus :
anda berada di luar rumah untuk berangkat ke kantor ketika anda menyadari botol jus anda tertinggal. Namun anda tidak ingat dimana letaknya. Kemudian anda berbalik menuju rumah kemudian menyisir ruang tamu dan kamar tidur namun botol jus itu tidak disana. Kemudian anda masuk ke dapur. Tentu di dapur terdapat banyak hal, panci, kompor, sendok, dll. Semua itu membentuk dapur anda. Namun dalam rangka mencari sebotol jus semua barang itu anda abaikan seolah tidak ada. Anda pergi mencari botol jus dan menemukannya di kulkas. Maka dapat disimpulkan : “anda ke dapur cuma demi botol jus, yang lain ceteris paribus” 

Mirip seperti itulah yang dilakukan Adam Smith. Manusia digerakkan oleh banyak faktor namun dalam kegiatan berdagang, manusia digerakkan terutama  oleh kepentingan-kepentingan diri lebih daripada naluri lain. Disinilah apa yang semula hanya sudut pandang tertentu tentang manusia kemudian berubah menjadi klaim tentang keseluruhan kodrat manusia

Dan kemudian, dari sini kita bisa menggeser pertanyaan tentang Homo economicus. Unsur apa yang dianggap sebagai ciri economicus itu?

·  Tindakan dan perilakunya digerakkan pertama-tama oleh kepentingan diri ‘
·  Ciri keterpusatan pada diri (self centered)
·  Perangkat utama makhluk ekonomi dalam mengejar kepentingan diri dan pemenuhan hasratnya adalah kalkulasi rasional
·  Kepentingan diri dan efisiensi bagi makhluk ekonomi bukan lagi dipahami secara umum tapi diciutkan ke dalam urusan kepuasan hasrat akan harta
·  Dengan itu juga segera terjadi kolonisasi

 Apakah gagasan homo economicus seperti ini adalah satu-satunya cara berfikir ekonomi? Tentu tidak. Ilmu ekonomi punya beberapa mazhab atau aliran lain. Namun aliran neo klasik yang memperanakkan gagasan seperti diatas adalah mazhab yang paling membentuk cara berfikir kita dewasa ini.

·  Kesesatan Totalisasi, Memburu Realisasi  

Sebuah kerancuan dapat terlihat dengan jelas yakni : sudut pandang tertentu tentang manusia yang diperlakukan sebagai kodrat keseluruhan diri manusia.

Setiap cabang ilmu manusia berangkat dari sudut pandang tertentu dan terbatas tentang siapa manusia, jauh dari kapasitas memandang yang komprehensif. Ringkasnya, setiap cabang ilmu manusia adalah Ceteris paribus.

Spesialisasi ilmu adalah berkat, sekaligus peringatan akan keterbatasan nalar. Begitulah, seperti dua sisi mata uang. Ketika Homo economicus memahami batasnya, ia adalah berkah yang membantu kita mengejar kebaikan dan kesejahteraan. Akan tetapi, sejak homo economicus lupa batas dan mulai menjarah, ia berubah menjadi raksasa yang memporak-porandakan kemungkinan hidup bersama.

Pada akhirnya, ada dua pokok penegasan dari uraian panjang mengenai Homo economicus ;
Pertama : homo economicus  adalah sudut pandang tertentu atas perilaku manusia dan sama sekali bukan deskripsi riil tentang hakikat keseluruhan diri manusia. Kedua, agenda mengubah seluruh perilaku manusia dan tata hidup bersama menurut citra makhluk ekonomi bukan hanya berisi kesesatan paling sederhana dalam berfikir, tetapi juga mencegah kemungkinan tata kehidupan bersama sendiri. Cara berfikir ala homo economicus punya wilayahnya sendiri, dan justru akan kehilangan daya jeniusnya apabila memangsa serta menjarah wilayah lain. Itu juga berlaku bagi cara berfikir pasar, cara berfikir bisnis, maupun cara berfikir laba.

Sehingga menurut argumen Dr. Priyono dapat lah disimpulkan bahwa : bukan makhluk ekonomi yang melahirkan ilmu ekonomi, tetapi ilmu ekonomi yang menciptakan makhluk ekonomi.

Notes :


  • Asumsi tentang manusia harus ada. Kalau tidak maka tidak bisa disebut science. Sehingga ketika ditanya siapa manusia maka jawabannya akan banyak sekali tergantung cabang ilmu yang mengkajinya
  • Manusia adalah makhluk multi dimensional sehingga ketika di fundamentalkan / di totalkan maka pasti akan gagal. Contoh : fundamentalisme agama 

Review E.C.F (3.1)

Homo Economicus
(Manusia Makhluk Ekonomi)bagian 1

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. B. Herry Priyono dalam pertemuan ketiga EC STF Driyarkara.

Homo Economicus, jika diartikan secara harfiah dapat berarti makhluk ekonomi. Namun jika dikupas dan dirunut kebelakang, istilah tersebut tidaklah se sederhana pengertian harfiahnya. Meskipun demikian, manusia dalam aspek kehidupannya tidak dapat dipisahkan dengan berbagai kegiatan ekonomi. Dari yang paling sederhana – ladang, pada masa Xenophon- sampai kegiatan ekonomi yang kompleks.

Pemaparan Dr B. Herry Priyono ini akan dibagi menjadi 2 tulisan. Dalam tulisan pertama ini akan mencakup beberapa hal : pertama,  penelusuran sejarah peristilahan  Homo economicus. Bagian kedua,  akan mencakup metamorfosis makna dari istilah homo economicus itu sendiri.

Karena ketertarikan pribadi saya terhadap “bahasa-bahasa indah” yang banyak digunakan Dr Priyono dalam paper nya, maka banyak dari kalimat beliau yang akan saya tulis secara utuh, tanpa perubahan, begitupun dengan terjemahan beliau terhadap pendapat para Filsuf yang akan saya kutip dengan persis sama. 

·      Kabut Peristilahan
Istilah homo economicus sendiri tidak diketahui secara pasti kapan mulai di gunakan. Siapa manusia ekonomi? Berikut ada semacam ungkapan anekdotal :

“ ia sosok yang diperkenalkan kepada kita secara perlahan-lahan. Itulah yang membuat kehadirannya diam-diam menyelinap ke dalam akrab. Lantaran begitu akrab, kita hampir tidak mengenali lagi apa yang ganjil padanya. Kita tidak tahu apakah ia berbadan tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, menikah atau tidak. Tidak ada keterangan apakah ia suka anjil, memukiuli istrinya atau ia memilih peniti ketimbang puisi. Kita juga tak mengerti yang menjadi hasratnya. Namun kita tahu pasti, apapun hasratnya, ia akan mengejarnya dengan ganas. Ia adalah anak kandung teori utilitas (Hollis and Nell 1975: 53-54)
Deretan kalimat diatas berasal dari buku Rational Economic Man yang ditulis oleh filsuf Martin Hollins dan ekonom Edward Nell. Buku serius ini juga bertaburan rumus kalkulus, berisi pembongkaran atas keganjilan yang melekat pada seluruh bangunan ekonomi neo klasik yang telah membentuk cara berfikir kita tentang ekonomi dewasa ini. Meskipun homo economicus tidak pernah hidup sebagai sosok riil berdarah daging, unsur-unsurnya telah disuntikkan kepada kita agar kita terbentuk menurut citranya. Namun, apakah dari buku kutipan Hollis dan Nell tersebut kita bisa serta merta memahami siapa homo economicus? Atau kita bisa mengetahui bagaimana sifat-sifatnya sedang disuntikkan kepada kita agar bermetamorfosis menurut citranya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali ke belakang. Untuk menengok bagaimana homo economicus menjadi sebuah istilah. Tidak ada jalan kembali ke asal usul murni. Apa yang mungkin hanyalah mengenali kembali lapis-lapis jejak yang ditinggalkan, lalu mengejanya dengan berkat agung yang diberikan kepada kita : daya nalar

Melalui daya nalar yang juga selalu cacat, dengan mudah kita temukan arti homo, yang berarti manusia / orang. Namun, filolog yang paling ahli pun mungkin tidak tahupersis berapa ribu tahun lalu kata tersebut digunakan. Lalu kata economicus juga berasal dari kabut masa lalu, meskipun cukup pasti ia turunan langsung dari kata Yunani, oikonomikos. Kata ini pernah dipakai oleh Xenophon filsuf Yunani yang hidup sekitar 430-354 SM sebagai judul salah satu karyanya OIKONOMIKO. Kata oikonomikos dalam karya Xenophon hanya berarti tata pengelolaan ladang, dan menggarap ladang adalah mata pencaharian orang-orang biasa di zaman itu. Karya ini tertulis dalam format sokratik [1] antara Cristobulus dan Sokrates. Di situ Sokrates terus bertanya secara kritis sampai Cristobulus mengerti dengan jernih bagaimana cara mengelola ladang agar menjadi sumber daya yang memenuhi kebutuhan keluarga dan polis. Mungkin dari remang-remang ini kita dapat mengenali akar pengertian ekonomi.

Namun, remang-remang tersebut tetap tidak memberi terang mengenai apa yang dimaksud dengan Homo economicus dewasa ini. Mungkin karena sudah melewati beberapa abad, makna ini pun turut berevolusi. Cerita kembali ke masa seorang filsuf yang bernama Adam Smith [2] . bisa dikatakan dia lah yang meletakkan istilah ekonomi modern. Hal ini biasa dikatakan baik dari kalangan pelajar ataupun orang awam. Namun faktanya, tidak satupun baris dalam ribuan karya Smith menuliskan istilah Homo Economicus tersebut. Tidak juga dalam karya besarnya The Wealth of Nation (1776). Kalau bukan dari Adam Smith, lalu dari mana sosok yang sering disebut makhluk ekonomi itu berasal?

Dalam kepekatan kabut masa lalu, para pemburu asal usul makhluk itu rupanya mengenali jejak awal pengertian Homo economicus dalam sosok pemikir Inggris di paroh pertama abad 19. Orang ini tidak pernah sekolah. Ia dididik sendiri dengan ketat oleh ayahnya, belajar bahasa Yunani ketika berusia 3 tahun, dan bahasa Latin diusia 8 tahun. Pada umur 20 tahun ia telah menjadi pemimpin kelompok radikal dalam gagasan filsafat. Ia bernama John Stuart Mill (1806-1873)

Lagi-lagi, apa yang dianggap jejak Homo economicus dalam tulisan Mill ini adalah jejak yang keruh. Ia tidak pernah memakai istilah itu dalam tulisannya, tidak juga memasukkan konotasi yang kemudian berkembang darinya. Dalam Essay on Some Unsettled Questions of Political Economy, Mill menulis tentang definisi ekonomi-politik sebagai ilmu

“Ekonomi politik ... tidak mengkaji seluruh kodrat manusia yang dimodifikasi oleh tata sosial, tidak juga membahas seluruh perilaku manusia dalam masyarakat. Ia berurusan dengan manusia semata hanya sejauh ia makhluk yang punya hasrat memiliki harta, dan mampu menilai manjurnya sarana yang satu dibanding dengan sarana lain dalam mengejar tujuan itu... (dengan)... sepenuhnya menepiskan semua hasrat dan motif lain, kecuali ... pengejaran kekayaan” (Mill 1844 : 97)
Mill memandang bahwa manusia digerakkan oleh banyak sekali kekuatan. Ilmu ekonomi berkonsentrasi pada kekuatan “mengejar kekayaan”. Meskipun rumusan Mill ini juga menuai banyak kritik, namun definisi ini mungkin yang menjaadi rumusan pengertian Homo economicus.

  • Metamorfosis Makna
Meskipun dalam kutipan diatas Mill menulis bahwa manusia hanyalah makluk “pengejar harta”. Namun sesungguhnya Mill haya sedang membatasi kajian ilmu ekonomi. Agar fokus kajian ekonomi tidak simpang siur dan tumpang tindih dengan kajian ilmu lainnya. Mill mencoba membatasi fokusnya pada corak tindakan manusia yang berbeda dari corak tindakan yang menjadi fokus kajian ilmu lainnya[3]. Berikut kutipan karya Mill yang menegaskan hal tersebut

“ bukan karena para filsuf begitu tolol menganggap hakikat manusia sebagai benar-benar demikian (digerakkan hanya oleh nafsu mengejar harta), tapi karena itulah modus kinerja yang secara niscaya perlu ditempuh suatu ilmu. Mengenai perilaku-perilaku manusia di mana kekayaan bukan obyek pokoknya, ekonomi politik tidak berlagak bahwa kajiannya dapat diterapkan. Namun memang ada urusan manusia di mana pencapaian kekayaan merupakan tujuan pokok dan diakui. Hanya dalam urusan inilah ekonomi politik menaruh perhatian. Cara yang perlu ditempuh ekonomi politik adalah memperlakukan tujuan pokok itu seolah-olah sebagai satu-satunya tujuan” (Mill 1844: 97,98)
Apa yang ditulis Mill di atas jelas menunjukkan ia tidak pernah berpendapat bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang digerakkan hanya oleh pengejaran harta. Cuma mengapa fokus ekonomi tertuju pada “perilaku manusia yang menyangkut hasrat memiliki kekayaan” ? tidak ada yang ganjil dengan itu. Rupanya arti oikonomikos sebagai “tata kelola ladang bagi sumber penghidupan keluarga” dalam gagasan Xenophon hampir 2000 tahun sebelumnya berubah menjadi Economicus dakam arti “tata kelola dan hasrat memiliki harta”. Dalam karyanya Xenophon berkali-kali juga memperlakukan ladang sebagai harta agar dapat menjadi sumber penghidupan keluarga. Anggapan “hasrat pengejaran harta” ini terutama semakin berkembang pada abad ke 18 dan 19 di Eropa. Kemunculan kaum borjuis, pembentukan kelas komersial baru, serta cikal bakal kapitalisme menjadi ciri akumulatif konsep Economicus pada zaman Mill.

Dalam arti tertentu dapat dikatakan Mill hanya menganggap lebih lanjut pengertian implisit ekonomi yang diisyaratkan Adam Smith 60 tahun sebelumnya. Seperti para pemikir zaman itu, Smith juga mengajukan teori tentang bagaimana masyarakat terbentuk. Smith mencari cara menjelaskan kemakmuran bangsa-bangsa. Dalam urusan kemakmuran material, ia memberi tekanan pada pentingnya perdagangan bebas antar orang-orang biasa. Kemakmuran tidak ditempuh dengan cara merampas dan kekerasan, tidak juga dengan mengemis ataupun beramal, tetapi melalui pertukaran dan perdagangan yang menghasilkan dinamika akumulasi kekayaan.

Yang menarik dari pemaparan Smith ini adalah bahwa segala kegiatan transaksional itu ternyata melibatkan proses emosional yang menawan. Andaikan suatu pagi, saya sebagai nelayan tiba dari menjaring ikan di laut lalu kelaparan. Saya butuh beras namun beras tersebut dimiliki petani. Saya tidak bisa memenuhi kebutuhan saya kecuali saya mendapatkannya dari petani. Karena saya tak mau merebut paksa ataupun mengemis darinya, saya tidak bisa tidak “masuk” ke dalam kepentingan si petani itu untuk mengerti apa yang ia butuhkan agar ia bersedia melepaskan sekilo beras untuk saya. Maka, agar kepentingan diri saya terpenuhi, saya mesti memenuhi kepentingan diri petani itu. Rentanglah proses ini ke skala jutaan atau ratusan juta orang dan tambahkan unsur lain seperti gudang, angkutan, teknologi informasi, dan seterusnya. Jadilah mekanisme pasar. Orang memperoleh apa yang diinginkan tidak dengan memaksa atau mengemis, tatapi dengan berjual beli.

Smith menyebut dinamika emosional “saling masuk” ke dalam kepentingan orang lain itu sebagai simpati (sympathy). Namun dari situ juga menjadi jelas bahwa self interest sama sekali bukan seperti “satu pulau tertutup di tengah samudra ketiadaan yang lain”, tetapi beroperasi dalam jaring kepentingan lain. Tanpa “masuk” ke dalam kepentingan  diri orang lain, kepentingan diri sendiri tidak akan terpenuhi. Seperti ungkapan Smith yang mashyur itu :

“ bukan dari kebaikan hati pemotong daging, peramu minuman atau tukang roti kita memperoleh makanan kita, tetapi dari rasa cinta diri mereka pada kepentingan mereka sendiri. Kita memenuhi kepentingan diri bukan dengan menggerakkan rasa kemanusiaan mereka, tetapi rasa cinta diri mereka. Dan jangan pernah berbicara kepada mereka tentang kebutuhan kita, tetapi bicaralah tentang keuntungan diri mereka sendiri” (Smith 2000 (1776) : 15)  
Sampai disini tercipta lah gambaran makhluk ekonomi yang kita warisi dewasa ini.


Notes :
  • Menurut Adam Smith, harga adalah persis medium untuk simpati.




[1] Format Sokratik artinya format dialog. Tulisan yang menggunakan format sokratik adalah dengan menggunakan  perbincangan imajiner.
[2]. Adam Smith bukanlah seorang ekonom namun seorang filsuf moral. Pada abad ke 19, filsafat adalah general science. Bahkan natural science pun awalnya adalah natural philsophy. Sehingga seorang seperti Issac Newton pun adalah seorang filsuf. Begitu juga dengan ilmu sosial yang awalnya bernama moral philosophy. Baru pada akhir abad ke 19, berkembang menjadi lmu sendiri-sendiri. Hal inilah yang menyebabkan perintis ilmu alam dan ilmu sosial adalah filsuf.
[3] Pembatasan fokus  dibutuhkan supaya objek ilmu menjadi jelas. Hal ini berlaku pada semua ilmu yang pasti membatasi kajian nya pada satu premis saja. Contonya misal : ilmu ekonomi hanya membatasi fokusnya pada dinamika kejiwaan, ataupun ilmu sejarah hanya membatasi fokusnya pada dinamika temporer kehidupan manusia. 

Wednesday, September 3, 2014

Review EC.F (2)

Manusia Eksistensi Bertubuh

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Dr. Setyo Wibowo dalam pertemuan kedua EC STF Driyarkara.

Relasi antara jiwa dan raga memang sulit dipahami. Secara garis besar terdapat pertentangan dalam memandang relasi jiwa dan raga ini. Namun meskipun demikian, materi ini adalah salah satu pokok penting dalam memahami hakikat manusia.

·           Pandangan mengenai jiwa dan raga
1.    Kata To Soma (bahasa latin corpus) merujuk pada realitas sensibel sejauh diperlawankan dengan realitas intelligibel. Yang dimaksud dengan realitas sensibel artinya bisa diinderai dengan panca indera (dilihat, dibau, dicecap, didengar, dsb)
2.       Kaum phytagorisian berbicara mengenai tubuh sebagai “kuburan”. Bahwa tubuh diperlukan supaya jiwa bisa merasakan sesuatu. Disini dipandang eksistensi sebenarnya dari manusia adalah jiwa.
3.      Platon  menekankan bahwa jiwa terikat pada tubuh, bahwa jiwa kita terantai pada tubuh. Bagi Platon yang disebut “tubuh” adalah 4 elemen ; air, api, tanah, udara.
4.     Aristoteles menyatakan bahwa jiwa dan tubuh adalah satu substansi yang tak terpisahkan, keduanya hanya dua aspek dari satu substansi yang sama. Jiwa adalah “struktur internal” dari tubuh. Tubuh itulah yang kalau dianalisis secara mendalam adalah jiwanya
5.    Descartes manyatakan bahwa tubuh adalah “res extensa”, yakni sesuatu yang memiliki keluasan (panjang, lebar, dan kedalaman) sedangkan jiwa adalah sesuatu yang berbeda,
6.  Stoa mengajarkan bahwa jiwa adalah tubuh, jiwa bersifat korporal. Oleh karena itu kalau jiwa bisa digerakkan, maka ia adalah ragawi.

·      Pandangan Materia dan Forma
ü  Dalam khasanah klasik, mengacu pada pemikiran Aristoteles, materiia diperlawankan dengan forma. Materia merujuk pada potensialitas, pada daya yang ada pada sesuatu. Sementara Forma merujuk pada aktualitas sesuatu. Istilah materia dan forma hanyalah istilah dalam pikiran kita untuk membicarakan dua aspek dari satu hal yang sama.

Ilustrasi berikut mungkin dapat memudahkan untuk memahami pemikiran klasik ini : 
bila kita dihadapkan pada sebatang kayu, maka kita bisa mengatakan bahwa potensialitasnya bisa menjadi bahan bakar, bisa menjadi patung, bisa menjadi alat pukul. Jadi kayu bisa disebut sebagai materia sejauh ia memiliki kemampuan dijadikan bahan bakar, kemampuan diubah menjadi patung, dan kemampuan dijadikan alat pukul. Sejauh potensialitasnya untuk menjadi sesuatu yang lain, kayu itu sendiri sudah merupakan sesuatu. Sejauh kayu itu sebuah aktualitas, sehingga formanya sendiri adalah ke-kayu-an itu sendiri.

Maka sekali lagi: distingi materia / potensi dan forma / aktus hanyalah pemilihan dalam pikiran kita yang membuat kita mengerti bagaimana sesuatu menjadi sesuatu yang lain.
ü  Dalam khasanah modern, kata materia  dan forma  dipertentangkan. Materia merujuk pada sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Dan ini diperlawankan dengan jiwa (res cogitans)  yaitu sesuatu yang tidak memiliki massa dan sesuatu yang berfikir. Pemikiran ini berkembang terutama berdasarkan pemikiran Descarte. Ia berpendapat bahwa saat berhadapan dengan sesuatu ada forma yang menjadi semacam batas bagi sesuatu itu di dalam ruang tertentu.
ü  Dalam agama-agama, kata materi (materia) lebih dekat dengan hal yang dianggap menjadi nafsu kedagingan. Orang yang materialistik dianggap tidak mempedulikan jiwa atau rohnya (manusia pneumatikos).

·      Pandangan Mengenai Materialisme
§  Dalam kajian Ontologis, materialisme artinya doktrin yang mengajarkan bahwa satu-satunya hal yang ada hanyalah materi. Artinya sesuatu yang bersifat individual, bisa dipresentasikan, bisa bergerak, dan ada di suatu ruang tertentu
§  Dalam kajian prikologis, materialisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa segala yang kita sebut sebagai “kesadaran” hanyalah epifenomen. Artinya kesadaran hanyalah fenomena pinggiran saja, yang tidak memiliki konsistensi dari dirinya sendiri

Kajian Ontologis dan Psikologis ini sama-sama menolak dualitas jiwa-badan, roh-materi. Kajian ini hanya menerima badan / materi.

§   Dalam kajian fisikalisme, menyatakan bahwa fenomen mental hanyalah “datang, menempel saja”. Dan fenomena mental bergantung sepenuhnya pada fisis.
§   Materialisme Historis ciptaan Engels merujuk pada doktrin Karl Marx yang menerangkan bahwa fakta hubungan ekonomis adalah sebab paling menentukan dalam sejarah dan hidup sosial manusia
§   Materialisme Dialektis mengajarkan bahwa alam semesta ini sebuah totalitas yang terbentuk dari materi-materi yang saling terlibat, saling bergerak dan berevolusi.

·         Dua Pendapat Besar Tentang Eksistensi Manusia
Dalam memahami eksistensi manusia, secara umum terdapat 2 pendapat besar. Masing-masing pendapat ini mendapat dukungan dari para filsuf. Secara ringkas kedua pendapat tersebut disajikan dalam tabel berikut :

Dualisme
Monoisme
ü Dualisme pararel, didukung dengan pendapat Leibniz
ü Monoisme formal, didukung dengan pendapat Hylemorfisme Aristoteles, teori Holisme dan panpsikisme
ü Dualisme dengan primas/prioritas pada jiwa, didukung dengan pendapat Orfisme, Pythagoras, Descartes, Agama-agama, Platon
ü Materialisme, didukung dengan pendapat Demokritos, Stoa, Materialisme modern, fisikalisme
ü Dualisme dengan primas/prioritas pada tubuh, didukung dengan pendapat Nietzsche



Apakah Dualisme?. Pendapat dualisme adalah pendapat yang memisahkan antara jiwa dan tubuh sebagai dua hal yang saling bertentangan. Pendapat dualisme ini adalah cara paling sederhana dalam memahami eksistensi manusia. Lebih dari pada itu, pendapat dualisme adalah pendapat yang menjamin adanya immortalitas jiwa. Dengan kata lain, setelah kematian, tubuh menghilang, namun jiwa tetap memiliki eksistensi. Ini pula yang menjadi dogma beberapa agama besar. Adanya kehidupan setelah kematian, ataupun reinkarnasi begitulah cara pandangan dualisme ini dapat dengan mudah dipahami

Melalui pandangan dualisme ini juga kita dapat melihat bagaimana manusia dianggap memiliki jiwa yang kompleks. Karena keberadaan jiwa dianggap adalah entitas yang terpisah, maka sangat mudah untuk menyimpulkan “sesuatu yang tidak bernyawa”. Misalnya: ketika kita melihat tutup ketel air yang bergerak karena mendidih, maka tidak mungkin kita menyatakan bahwa ketel itu bergerak karena memiliki jiwa. Karena pendapat dualisme menganggap 2 hal itu terpisah

Selanjutnya, kebalikan dari pendapat dualisme adalah monoisme. Pendapat monoisme merujuk bahwa hanya terdapat 1 prinsip saja. Monoisme formal misalnya terlihat dalam pendapat Aristoteles. Dalam Hylemorphisme, Aristoteles berpendapat bahwa jiwa dan tubuh adalah satu kesatuan, sehingga ketika tubuh mati maka jiwa juga hilang. Tanpa merujuk apakah jiwa atau badan yang menjadi prinsip utama, Aristoteles menekankan kesatuan formal dari keduanya. Begitu pula dengan pendapat monoisme dalam materialisme modern. Menurut pendapat ini segala fenomen psikis dan spiritual bisa diterangkan lewat mekanisme material belaka. Pikiran, rasa senang, jatuh cinta, bisa dijelaskan lewat mekanisme molekul-molekul kimiawi (hormon) belaka.


Notes :
ü Bagi manusia, terkadang raga menjadi objek peragaan. Sehingga raga menjadi pengejaran jati diri. Banyaknya fenomena operasi plastik menunjukan hal ini
ü Banyak istilah abstrak yang munculdari kata-kata Yunani berkenaan dengan tubuh :
Contoh :
1.    Kardio (jantung) : membentuk istilah olahraga untuk kardio. Sehingga istilah ini dipahami olahraga untuk jantung
2.   Khole (cairan) : membentuk istilah melankolis. Sehingga istilah ini dipahami sebagai orang yang melankolis disebabkan oleh kebanyakan cairan hitam di dalam tubuhnya
3.       Hustera (rahim) : membentuk istilah histeris. Sehingga istilah ini dipahami sebagai perilaku khas wanita akibat tidak teraturnya reaksi rahim. Sebenarnya istilah histeris ini diasosiasikan untuk perbuatan wanita
4.    Pathos (afeksi) ; membentuk istilah Pathetik. Sehingga istilah ini dipahami sebagai sebuah perilaku yang mengharapkan afeksi.
ü Bangsa Yunani meyakini bahwa para Dewa memiliki tubuh. Tubuh ini disusun oleh elemen ke 5, yang berbeda dengan elemen yang terdapat dalam dunia manusia. Elemen ini bernama Ether. Kata ether berasal dari kata aether yang berarti esensi.  
ü Menurut pendapat Aristoteles, jiwa bertumbuh. Pertumbuhan jiwa ini dibagi kedalam 3 kelompok :
1.         Dalam rahim : masih bersifat vegetatif
2.         Usia 3 tahun : bersifat seperti hewan
3.         Usia 7 tahun : jiwa rasional tumbuh
Namun, meskipun ia merumuskan demikian, pada akhirnya pertumbuhan jiwa tidak selalu mengikuti perkembangan usia.
ü Konflik dalam jiwa biasanya dipengaruhi oleh hal berikut :
1.    Rasio : pertimbangan
2.    Kehendak : rasa takut, marah, bangga, dll  

3.    Nafsu : makan, seks (atau dikenal sebagai istilah ephitumia (ephi-tumos) 

Tuesday, August 26, 2014

Review EC.F (1)

Menyingkap Hakikat Manusia Melalui Filsafat

Tulisan ini adalah sebuah review yang dibuat berdasarkan pemaparan Thomas Hidya Tjaya Ph.D dalam pertemuan pertama EC STF Driyarkara.

Dalam kehidupannya, manusia memperlajari banyak hal agar dapat menjalankan kehidupannya dengan baik. Namun, seringkali manusia kurang memperhatikan pengetahuan mendalam mengenai hakikat dirinya. Padahal, pengetahuan mengenai hakikat diri ini amat penting agar manusia dapat bertindak dan menghayati hidup dengan baik dan benar.

Secara garis besar, pengantar filsafat manusia dapat dibagi ke dalam 3 hal; pembahasan pertama adalah mengenai perbedaan antara filsafat manusia dan ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Kedua, secara khusus akan dibahas pentingnya pemahaman atas struktur ontologis manusia, karena di situlah terletak berbagai asumsi mengenai hakikat manusia. Ketiga, akan diungkapkan mengenai pentingnya usaha mencari bentuk humanisme sejati yang didasarkan pada pemahaman yang benar atas hakikat manusia.

·      Pentingnya Filsafat Manusia
Untuk memahami hakikat manusia, perlu disadari bahwa ada beberapa disiplin ilmu lain (sosiologi, psikologi, antropologi, dan etnologi) yang turut memberikan sumbangan pengetahuan mengenai berbagai aspek yang dimiliki manusia. Terlihat jelas bahwa filsafat bukanlah satu-satunya ilmu yang berbicara mengenai manusia. Karena itu perbedaan antara filsafat dan ilmu-ilmu lainnya perlu disadari terlebih dahulu.
Pertama-tama harus dikatakan bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan diluar filsafat berupaya untuk menemukan hukum-hukum tindakan manusia, sejauh tindakan itu dapat dipelajari secara empiris dan dijadikan sebagai objek refleksi. Dengan orientasi demikian, ilmu-ilmu ini cenderung mengungkapkan kesimpulan mereka dalam bahasa statistik. Mengingat penelitian ilmu ini hanya mencakup apa yang dapat diukur dan dihitung. Sebaliknya, filsafat berusaha menemukan prinsip-prisnsip umum dan mendasar yang menjelaskan hakikat manusia. Karena itu bahasa yang digunakan dalam filsafat cenderung bersifat abstrak dan jauh dari sifat empiris.

Perbedaan lainnya adalah mengenai sudut pandang. Ilmu-ilmu kemanusiaan di luar filsafat menyelidiki manusia dari sudut pandang tertertentu atau menganalisa dimensi tertentu saja dari manusia. Ambil contoh misalnaya sosiologi yang memperlihatkan secara khusus dimensi sosial manusia sebagaimana terungkap dalam realitas masyarakat sehari-hari.

Lalu apa artinya menyelidiki sesuatu dari sudut filsafat. Meminjam bahasa bapak Thomas, disinilah letak “kesombongan” filsafat. Filsafat memiliki kecenderungan untuk berada lebih “di atas”. Artinya filsafat tidak hanya menganalisa aspek tertentu saja dari manusia, melainkan melihat semua aspeknya secara menyeluruh. Secara lebih spesifik, dapat dikatakan bahwa dalam sebuah filsafat manusia ditanyakan dalam pertanyaan yang lebih fundamental dibandingkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Dan sekaligus bersifat lebih ontologis dalam arti berkaitan langsung dengan struktur manusia sebagai pengada (being) dalam dunia. Karena itu, jika ingin mengenal pandangan yang lebih mendalam dab holistik mengenai manusia, kita tidak dapat mengabaikan filsafat.

Kekhasan filsafat manusia juga dapat ditinjau dari perbedaan tradisional antara objek material dan objek formal sebuah disiplin ilmu. Seperti dalam ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya, objek material filsafat adalah manusia. Namun objek formal yang dipelajari dalam filsafat adalah struktur fundamental manusia atau unsur-unsur pembentuk manusia yang diakui secara mutlak. Unsur-unsur ini bersifat material dan imaterial. Unsur material mencakup tubuh manusia dan unsur imaterial mencakup unsur yang berasal dari kesimpulan sebagai hal yang harus diandaikan dari manusia (bukan inderawi).

·      Struktur Ontologis Manusia
Tidak hanya filsafat yang berbicara mengenai hakikat manusia. Dalam kenyataannya, para pemikir dan ilmuan dalam bidangnya masing-masing sering menarik kesimpulan mengenai hal tersebut. Patrick Frierson dalam buku What is the Human Being? Memperlihatkan tiga jawaban alternatif terhadap pertanyaan mengenai hakikat manusia tersebut :
  1. Manusia adalah pengada biologis. Manusia adalah hewan dengan struktur khsuus yang telah mengalami evolusi selama bermilyar-milyar tahun  Ini diungkapkan oleh E.O. Wilson, seorang ahli sosiobiologis abad ke 20
  2. Manusia adalah pengada kultural. Artinya, untuk memahami hakikat manusia, kita perlu mempelajari berbagai cara manusia menghayati hidupnya. Pendapat ini diungkapkan oleh Clifford Geertz, seorang antropolog.
  3. Manusia adalah pengada yang bebas. Dalam kebebasannya manusia menciptkan hakikatnya sendiri, bukan menemukannya. Rumusan Jean Paul Sarte ini adalah alternatif ketiga dari sudut pandang filsafat.
Lalu apakah hakikat manusia?

3 alternatif rumusan hakikat manusia tersebut masing-masing ada benarnya, namun harus dilihat secara seimbang. Lagi-lagi mengutip Bapak Thomas, apakah seseorang yang mengetahui satu pokok bahasan bisa menjelaskan hal yang sangat kompleks dan luas? Kemutlakan masing-masing dimensi ini dan relasinya dengan dimensi lainnya perlu diselidiki dan dibahas lebih lanjut. Generasilasi dalam hal apapun dapat dengan mudah menimbulkan terjadinya reduksi pemahaman mengenai diri kita yang sebenarnya.

Melihat ke 3 unsur diatas, seolah terlihat terpisah satu sama lain. Padahal dalam kenyataannya, keterpisahan itu adalah karena cara pandang. Lagi pula kita bisa bertanya, apakah unsur-unsur yang ditekankan dalam pandangan tersebut sudah cukup fundamental untuk dianggap sebagai “pembentuk” manusia?

Karena alasan inilah kita perlu kembali kepada struktur ontologis manusia sebagimana sudah dipahami sejak zaman klasik, yakni pengada yang memiliki tubuh (body) dan jiwa (soul).

Pertama, tubuh dan jiwa adalah 2 pilar utama manusia. Manusia tidak bisa disebut manusia jika tidak memiliki keduanya. Tanpa tubuh manusia tidak akan dapat dipahami karena tidak kelihatan secara fisik, sebaliknya tanpa aspek non fisik yaitu jiwa, manusia tidak akan berbeda dari benda-benda fisik seperti batu atau kayu. Memang makna konsep jiwa harus dibahas lebih dalam, namun tidak dapat dipungkiri bahwa harus ada prinsip non fisik fundamental pada manusia.
Memang, akan ada kesulitan untuk membahas “jiwa” ini, karena apapun yang tidak bisa ditangkap indera maka akan sulit untuk dibahas lebih jauh. Namun ketika tetap dibahas lebih jauh, maka akan disebut spekulasi.

Namun sejatinya, disini kita harus membaha “tubuh” dan “jiwa” secara fundamental, tanpa dilekati dengan embel-embel seperti misalnya gender, kekurangan ataupun kelebihan. Sehingga jika ada pertanyaan bagaimana dengan mereka yang cacat fisik, cacat mental itu tak lain dalam kajian hakikat manusia tetap memiliki 2 pilar utama tersebut.

Kedua, struktur tubuh dan jiwa adalah merupakan syarat atau pengandaian dari hal-hal fundamental lain dari manusia. Ada interaksi erat antara aspek non fisik dan fisik pada manusia karena di dalam kedua ranah tersebut rencana dan gagasan yang bersift non fisik di realisasikan dan dimaterialisasikan ke dalam ranah fisik. Kemampuan berbahasa misalnya, hanya dapat tumbuh dan berkembang karena adanya intelegensi (aspek non fisik). Contoh sederhana misalnya, seorang bayi yang baru bisa mengucapkan kata “mama”. Ketika dia mengucapkan kata tersebut, sang ibu mengkonfirmasi dengan tersenyum. Akhirnya sang bayi memahami bahwa kata “mama” berarti bermakna “ibunya”.   

Ketiga, pengertian atas konsep jiwa dan relasinya dengan tubuh perlu mendapat perhatian lebih khusus karena kesalahpahaman akan hal itu akan menimbulkan distorsi. Salah satu bentuk distorsi yang mendominasi pemikiran moderen dapat dikembalikan pada pendapat Descartes. Adalah slogan  Descartes; “Cogito Ergo Sum” yang bermakna “aku berfikir maka aku ada”. Disini manusia dianggap tidak akan bisa membedakan mimpi dan kenyataan tanpa mempertanyakan. Sama dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita bermimpi, kita tidak akan tau kalau itu mimpi. Sampai pada akhirnya kita menemukan kejanggalan baru kita akan bangun. Mengacu pada pandangan Descartes tersebut konsep “jiwa” pelan-pelan bergeser menjadi sebuah “akal budi / mind” atau kesadaran / consciousness”. Padahal pengertian klasik mengenai jiwa jauh mengenai itu. Karena pemahaman yang semaki reduktif inilah dapat dengan mudah menumbuhkan distorsi pandangan mengenai manusia.

Kehadiran filsafat manusia kemudian menjadi penting untuk memahami hakikat manusia dengan lebih benar dan tepat. Merleau Ponty menyebut sebagai “fenomena asali / phenomenology of origin” dan analisa atas pengalaman pra-predikatif sebagai pengada yang sunggunh ada-dalam-dunia (being-in-the-world). Manusia modern terperangkap dalam dualisme kesadaran tubuh dan gagal menyadari bahwa rasionalitas dan sensibilitas tubuh sesungguhnya berkaitan erat. Karena itu menurut Ponty, filsafat manusia harus melawan pemikiran objektif dengan membangkitkan kembali pemahaman mengenai kontak langsung manusia dengan dunia

·      Menuju Humanisme Sejati.
Tentu saja yang dimaksud dengan humanisme sejati adalah tidak hanya mengenal kekhasan kita sebagai pengada yang berbeda dari hewan-hewan lainnya (as a humang being), melainkan juga menyadari diri kita sebagai manusia yang memiliki atau bersifat pribadi (as a personal human being)dan memperlihatkan sebuah kualitas hidup yang memperbaharui.

Notes :
·         Filsafat tidak ada batasan. Filsafat akan mengktirik hal yang sudah ada, termasuk mengkritik filsafat itu sendiri.
·         Filsafat manusia dulunya disebut psikologi filosofis. Namun kemudian dianggap tidak relevan karena filsafat tidak hanya membahas mengenai jiwa saja
·    Apa makna kata “pribadi / person”. Manusia terkadang bisa dengan mudah menggunakan kata pribadi, namun terkadang konsep pemaknaannya belum dapat dijelaskan
·         Pada saat sesuatu dimaterialiasi, saat itu sesuatu yang imaterial terbuka  
·      Pandangan Aristoteles mengenei jiwa : manusia adalah pengada yang “anima” atau bisa bergerak. Maka semakin anima maka jiwa nya semakin kompleks. Namun kemudian pendapat ini melahirkan pertanyaan “apa isi jiwa”?
·      Jiwa tidak bisa di verifikasi secara empiris karena tidak bisa diakses langsung. Ini yang membuat filsafat tidak bisa membahas terlalu jauh
·    Kemampuan berbahasa berkaitan dengan intelegensi. Namun tidak serta merta “semakin rumit bahasa maka akan semakin tinggi intelegensi”. Karena ada perbedaan mempelajari bahasa secara langsung / mempelajari bahasa ibu. Dan mempelajari bahasa lewat struktur. Manusia hanya bisa mempelajari bahasa baru berikutnya dengan memahami satu bahasa terlebih dahulu
·         Being (ada): berarti realitas.
being (s): ditulis dengan hurup “b” kecil. Berarti pengada (jamak) dan sifatnya netral. Contoh : living being, human being
  •   Hati-hati dengan “rasional” dan “non rasional” karena akan menggiring anggapan rasional dan non      rasional menjadi hanya yang bisa dirasakan dan tidak dirasakan