Monday, August 25, 2014

Suatu sore

Terkadang ada waktunya untuk memilih apa yang benar-benar kita inginkan, meskipun kita harus melewati hal-hal lain terlebih dahulu.

Beberapa kali saya membuktikan kalau kalimat ini benar adanya.

Dan hari ini, saya kembali membuktikan bahwa kalimat ini lagi-lagi benar. Sesuatu terjadi pada saat yang tepat. Kemarin mungkin Tuhan berkata belum, tapi dia memberikan kesempatan pada lain waktu.

Berada di kelas ini dengan keputusan yang saya buat sendiri, tanpa membutuhkan pertimbangan orang lain. Yah mungkin pendapat suami iya, tapi bukankah saya tau dia akan mendukung apapun yang saya inginkan?
Jadi disinilah saya, mungkin akan mencoba selama 1 semester, setiap senin akan duduk sebagai murid, mencuri ilmu dari mereka.

Jadi disinilah saya, mencoba untuk menuntaskan rasa ingin tahu, meskipun saya (hampir) yakin setelah ini rasa ingin tahu saya justru semakin besar.

Jadi disinilah saya, mencoba belajar tanpa memikirkan apakah pelajaran yang saya ambil ini berguna untuk mendapat gaji yang lebih besar, apakah saya akan mendapat gelar, siapa peduli jika kenikmatan belajar tanpa beban itulah yang terbesar.

Jadi disinilah saya, bukan untuk gaya-gayaan, tapi hanya kebetulan menyukai sesuatu yang butuh pemikiran kritis dan mendalam.

Jadi disinilah saya, mencoba menguji hipotesa “Filsafat Tidak Akan Mati”, karena bukankah sejatinya manusia dilahirkan bersamaan dengan rasa ingin tahu?

Suatu sore di Driyarkara
Menanti Guru....



  

Friday, August 22, 2014

The Precious Memories of My Childhood

I've found. Yes. The precious memories of my childhood 

Jadi ceritanya ini adalah (sebagian kecil) buku-buku yang pernah saya baca saat masih kecil. Nah sebetulnya dulu saya punya buku-buku ini. Tapi, berhubung dulu masih teledor, ceroboh, ga menganggap berharga barang-barang ini, maka akhirnya buku-buku ini lenyap digondol orang tak bertanggung jawab. Sedih ya. Dulu ceritanya saya punya banyaaak koleksi buku-buku, karena salah satu kelebihan dari orangtua saya adalah mereka sangat royal membelikan buku bacaan. Saya berlangganan majalah bobo dari TK B  sampai kelas 6 SD, jadi bisa bayangkan sebanyak apa majalah bobo saya. Masa-masa kecil itu juga saya dikelilingi oleh buku-buku yang judulnya pun ga bisa saya ingat satu persatu.

Ceritanya lagi, dulu saya sering jadi tempat peminjaman buku. Tapi banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memang (mungkin) ada niat kurang baik dengan buku-buku saya itu. Akhirnya, ada yang pinjam 5 tapi hanya dibalikin 2. Begitulah. Dan ini cocok dengan sikap saya waktu itu yang (mungkin juga ) kurang menghargai buku-buku yang saya punya. Tapi yah sudahlah, sudah berlalu toh. Dan saya pun ga akan bisa melacak lagi buku-buku itu.

Nah, singkat cerita, setelah dewasa (menua maksudnya), saya kok jadi kepikiran sama buku masa kecil dulu ya. Karena sedikit banyak buku-buku ini lah yang membentuk karakter saya sekarang. Saya pengen nanti nya, saya akan memperkenalkan buku-buku ini juga ke anak-anak saya. Supaya mereka tau, apa sih yang membentuk baik dan buruk nya (yes, i just wanna tell my children, their mom is not perfect) mama nya. Yang baik bolehlah ditiru, tapi se tidaknya saya juga kepingin mereka kritis dengan  memperbaiki apa yang mereka anggap jelek dari saya (dan papa nya of course).


Akhirnya, setelah menikah, punya tempat tinggal sendiri, saya memutuskan untuk mulai mencari dan mengumpulkan kembali buku-buku masa kecil itu lagi (Perburuan ini juga nanti akan berlanjut ke buku-buku masa remaja saya- harus !). mulai lah saya hunting buku-buku itu di internet. Berhubung rata-rata ini buku lama, tentu nya udah tidak ada lagi buku barunya. Pasti saya akan menemukan buku-buku ini dalam bentuk buku second alias bekas.

Buku pertama yang terfikir di otak saya adalah buku “Hari-Hari Bahagia Di Bullerbyn” nya Astrid Lindgren. Saya ingat saya baca buku ini kelas 2 atau 3 SD . buku ini oleh-oleh dari mama saya sepulang dari penataran. Buku ini sangaaaaaat berkesan buat saya. Ceritanya sederhana, tentang sebuah desa kecil yang cuma terdiri dari 3 rumah. Cerita di buku ini mengajarkan kesederhanaan, cinta kasih, persahabatan dan kedamaian. Setting nya desa Bullerbyn (ntah ada atau tidak saya tidak tau) yang damai dan cantik. Dari semua buku yangpernah saya baca di masa kecil saya, buku inilah yang paling berkesan. Buku ini sebetulnya terdiri dari 3 seri  “Kami Anak-Anak Bullerbyn” dan “Musim Ceri Di Bullerbyn”. Tapi prioritas utama saya adalah menemukan buku “Hari-Hari Bahagia Di Bullerbyn”.

Nah pencarian buku ini cukup sulit. Saya mencari di internet dan menemukan beberapa penjual buku ini. Kemudian saya email satu persatu . Saya mengirmkan 6 email berbeda pada 6 penjual buku second. Sayangnya semua menyatakan stok bukunya sedang kosong. Meskipun melalui email-email ini saya menemukan buku lain, hahaha.

Ada satu penjual buku yang menjawab email sembari mengirimkan list buku-buku dia yang ready stock. Dia bilang mungkin ada yang saya minati. Daaaaaaan, ternyata dia punya “harta karun” ! banyak buku masa kecil yang saya suka disana, aaaaak serasa menemukan oase. Tapi berhubung saya juga ga mau over budget untuk ambisi ini akhirnya saya membatasi diri untuk hanya membeli 3 buku dulu dari dia. Dengan niat dalam hati minimal tiap bulan saya harus beli 5 buku dari dia. Hahaha. Jadi inilah buku yang saya temukan sebagai bonus dari pencarian buku “Hari-Hari Bahagia Di Bullerbyn”



Little town on the prairie saya kenal buku ini karena lagi-lagi mama saya yang memberikan. Dia dulu hidup dimasa cerita ini adalah film seri di tvri, dengan judul little house on the prairie Ceritanya pun bagus. Memang harus saya akui buku anak-anak dari luar banyak yang lebih bagus, dan mengajarkan nilai tanpa menggurui.  (Mau tau jalan ceritanya buku ini googling yaa :p)

Yang kedua adalah Kumpulan cerpen bobo. buku ini hadir di masa kecil saya sebagai sebuah buku yang berisi kumpulan cerpen-cerpen dari bobo tahun-tahun awal beredar. Jadi memang saya belum membaca cerpen-cerpen ini. Nah, cerpen-cerpen bobo pun menurut saya adalah cerita-cerita yang harus dibaca oleh anak-anak kecil, karena memang (lagi-lagi) full of good value. Saya bukan jualan moral ya, tapi ada yang bilang kalau menanamkan nilai harus dari kecil. Anak-anak lebih gampang menyerap nilai-nilai (either baik atau buruk). Dan percaya atau tidak nilai-nilai ini akan terlihat pada karakter mereka nanti ketika dewasa. Dan menanamkan nilai lewat cerita adalah salah satu cara yang efektif.

Oke, perburuan terhadap buku idaman pun berlanjut. Singkat cerita saya menemukan sebuah web yang (dengan hampir teriak di kantor karena saking senangnya) menjual buku “Hari-Hari Bahagia Di Bullerbyn”. Stok nya hanya tinggal 1 dan covernya adalah cover cetakan ke 2. Tapi tidak apa-apa setidaknya ADA ! Langsung saya booking dan akhirnya buku itu terbeli, senaaaang, seperti menemukan harta karun (berlebihan? :p)





Sambil berjanji pada diri sendiri untuk lebih rajin mencari dan menyisihkan budget khusus untuk berburu buku-buku-masakecil-yang-nantinya-saya-pengen-anak-saya-baca-juga. Because ;




Dan perasaan menemukan kembali hal-hal berharga dari masa kecil itu, aaaaaaah i can’t describe it 

Friday, August 8, 2014

Our Ring.

I’m in the mood to share about my love life J
Dari berbagai perbedaan yang mengiringi hubungan kami (ciee, hahaha), ada satu hal yang dari jauh hari telah kami sepakati ketika sampai pada  suatu moment yang bernama pernikahan. Kesepakatan itu adalah dalam memilih  wedding ring.

Yak, untuk beberapa hal printilan pernikahan kami boleh jadi banyak berdebat, berkompromi dan saling mengalah. Tapi untuk urusan memilih cincin kawin, jauh sebelum kami berencana untuk menikah pun kami sudah menyepakati nya.

Saya dan Tohonan sepakat untuk mempunyai cincin kawin seperti ini :



Sebagian orang berpendapat mungkin cincin kawin kami adalah model jadul, tua, dan terlalu biasa, kayak cincin orang zaman dulu. Hahaha. You can say that

Tapi sebetulnya, kami memiliki filosofi sendiri mengapa akhirnya cincin seperti ini yang kami pilih. Let me explain :

Pertama, kami sepakat kalau cincin seperti ini adalah model cincin yang everlasting. Dari zaman opa-opa dulu, sampai sekarang cincin model ini masih ada. Kami berharap, sebagaimana cincin ini begitu juga dengan cinta kami, everlasting. (amiiin)

Kedua, cincin ini modelnya bulat, utuh, tanpa hiasan apapun. Begitupun dengan kehidupan cinta kami. Kami ingin selalu utuh, tanpa membiarkan pengganggu apapun yang membuat keutuhan itu tidak lagi utuh. Yaa jika dikaitkan dengan cincin, artinya kami tidak menginginkan hiasan - bahkan berlian- untuk berada dicincin ini.

Ketiga, cincin ini terbuat dari emas 24 karat dengan kadar hampir 100 %, artinya kami ingin yang paling murni. Meskipun setelah saya tau dari penjual perhiasan kalau hampir tidak ada cincin yang kadarnya 100%, karena sangat lembek dan tidak bisa dibentuk. Yaa setidaknya kami berusaha memilih yang semurni mungkin. Selain itu emas dengan kadar tinggi sangat fragile, kami ingin cincin ini menjadi pengingat bahwa cinta pasangan kami harus dijaga dengan baik. Karena fragile tentu akan menjadi fatal jika sedikit saja dilukai.

Keempat, kami ingin cincin yang sederhana, sesederhana cinta kami satu sama lain. Boleh jadi apapun yang mengiringi kisah kami penuh drama, rumit, penuh tantangan, namun kami akan selalu ingat bahwa kami tetap bisa bersama karena cinta kami sederhana. Saya menginginkan dia, dan dia menginginkan saya. Kesederhanaan cinta itulah yang membuat kami tidak bisa kemana-mana.


Pada akhirnya, memang cincin hanyalah sebuah simbol dari ikatan manusia. Bukan simbolnya yang penting, namun bagaimana kita memaknai simbol itulah yang penting. LOVE 

Wednesday, July 23, 2014

Merumuskan Makna Pendidikan (Ideal)

Orang bijak pasti berkata, tidak ada sesuatu yang ideal. Benarkah? Bisa jadi iya. Karena makna ideal sendiri adalah makna yang akan sangat sulit (kalau tidak bisa disebut mustahil) untuk dirumuskan. Setiap orang pasti memiliki standar ideal masing-masing, dan untuk menyamakan standar itu yaaa lagi-lagi bisa dikatakan hampir mustahil

Lalu bagaimana dengan pendidikan? Bukankah pendidikan adalah sesuatu yang harus dibuat se-ideal mungkin? Lalu bagaimana jika tidak ada sesuatu yang ideal yang bisa disepakati?

Sebagai seorang murid dan guru, saya akan sedikit bercerita...

Menurut saya siapa saya hari ini adalah merupakan hasil dari apa yang telah saya alami sebelumnya. Mungkin untuk lebih memahami mengapa akhirnya saya memiliki persfektif pendidikan seperti ini, ada baiknya kita agak mundur sedikit ke fase ketika saya duduk di bangsu sekolah dasar sampai sekolah tinggi.

Di bangku SD saya amat sangat bersyukur karena saya mendapatkan guru-guru yang amat sangat bagus. Untuk ukuran sebuah sekolah di kota kecil, guru-guru saya pada saat itu adalah guru-guru yang sangat berfikiran terbuka dan memiliki pengetahuan luas. Jadi beliau-beliau yang berjasa dalam pendidikan dasar inilai yang pertama kali membentuk sudut  pandang saya mengenai ideal nya sebuah pendidikan : OPEN MIND. Setelah dewasa kata ini saya pahami sebagai sebuah pola pikir dimana kita bersedia untuk menghargai pendapat orang lain tanpa takut kita akan terlalu gampang teracuni atau terpengaruh dengan pemikiran mereka.

Kemudian, jika saya harus mengucapkan terimakasih, pendidikan dasar saya amat dibantu dengan banyak bacaan bagus yang disediakan oleh orangtua saya. Berlangganan Majalah Bobo, buku-buku dongeng, dan bahkan buku sastra Indonesia kepunyaan ayah saya (Hey, saya membaca burung-burung Manyar nya YB Mangunwijaya saat saya kelas 3 SD-walau belum ngerti. haha) menjadi sebuah kemewahan bagi otak saya. Secara tidak langsung dari buku-buku tersebut saya telah diperkenalkan dengan dunia yang amat sangat beragam. Ya, KEBERAGAMAN adalah pemaknaan saya terhadap pendidikan ideal. Artinya, pendidikan adalah sarana untuk membuat kita makin terbuka dengan segala keberagaman meskipun tetap bangga dengan apa yang dimiliki sendiri. Karena hal ini, saya secara pribadi menganggap pendidikan yang menyeragamkan, yaaah we can say misalnya pendidikan berbasis agama tertentu, pendidikan berbasis militer, dsb, adalah kurang ideal menurut saya.

Lalu masuklah saya ke jenjang pendidikan atas. Ada satu kejadian ketika saya menyaksikan seorang guru menghukum murid dengan cara kekerasan dan sangat mempermalukan, ketika itu otak saya tergelitik, apakah ini pendidikan ? apakah teman saya tersebut – meskipun salah – akan tergerak hatinya untuk berubah setelah diperlakukan dengan demikian? Saya dengan sepenuh hati meyakini bahwa hal itu tidak akan terjadi. Lalu bagaimana seharusnya pendidik dalam aktivitas pendidikan itu menegur ketika salah?

Jawaban saya dapat ketika saya memiliki pengalaman dengan adik bungsu saya. Suatu ketika dia ditegur untuk tidak terlalu banyak bermain. Ayah saya menegur dengan cara menghukum, ibu saya menegur dengan cara ngomel. Dan hasilnya, tidak ada. Adik saya tetap melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya, saya mencoba, mengajak dia berbicara sebagai dua orang yang setara. Pembicaraan kami dua arah, dan dia boleh untuk mengungkapkan apa yang ada difikirannya. Perbincangan diakhiri dengan kami menyepakati satu hal win-win solution. Dan cara itu berhasil. Menurut saya itulah cara mendidik. Sehingga pendidikan yang ideal harus meminta komitmen mereka yang terlibat untuk mau MENGHARGAI. Dengan mengajak siswa berbicara, meskipun mereka melakukan kesalahan,  itulah cara kita menghargai dan terbuka kepada mereka.

Di bangku kuliah, saya adalah seorang yang mengenyam pendidikan keguruan. Namun kebetulan jurusan yang saya ambil adalah pendidikan Sosiologi. Di dalam kegiatan perkuliahan apa yang saya pelajari bisa dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, mata kuliah bidang keguruan dan yang kedua mata kuliah bidang sosiologi.  

Untuk mata kuliah bidang keguruan, saya adalah seorang mahasiwa yang sangat rajin bolos. Hahaha. Jatah bolos untuk tiap mata kuliah ini pasti akan saya manfaatkan dengan baik. Kenapa? Karena selain materi untuk mata kuliah ini menurut saya terlalu normatif, tipe pengajarnya juga adalah tipe pendidik yang amat sangat otoriter. Kita tidak akan diizinkan untuk mengemukakan apa yang ada di pikiran kita secara bebas, kecuali hal itu sejalan dengan pemikiran mereka. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya.

Nah, disisi lain mata kuliah bidang sosiologi adalah favorite saya. Saya selalu menanti apa yang akan disampaikan dosen sebagai sesuatu yang sangat berharga. Tidak ada keterpaksaan dalam mengikuti perkuliahan.  Disini kami pun bebas mengemukakan pendapat. Seperti nya saya memang tidak salah memilih bidang sosiologi. Prinsip dasar ilmu sosiologi adalah hal yang memang sudah ada dalam diri saya, malah sebelum saya mengenal sosiologi. Apa yang paling saya suka dari ilmu sosiologi adalah pandangannya mengenai Non Etis.

NON ETIS, artinya tidak boleh menilai. Mengapa penilaian ini amat penting bagi saya. Karena realita yang kita lihat manusia adalah makluk yang amat sangat gampang menilai. Begitupun didunia pendidikan. Berapa banyak guru yang masih menggunakan penilaian subjektif pada siswa. Melabel bodoh siswa yang tidak pintar dalam matematika, meskipun siswa ini sangat pandai melukis. Bayangkan bagaimana jika penilaian itu dibuat oleh seorang guru SD. Tentu siswa tadi tidak akan menemukan sisi terbaik dari dirinya. Pendidikan, sejatinya harus menyadari hal ini. Setiap siswa pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Sehingga pada akhirnya, yang  bisa saya katakan adalah  pendidikan ideal merupakan sesuatu yang bisa disepakati. Artinya kita bisa merumuskan pendidikan ideal dengan merangkum hal-hal yang kita anggap penting dan ingin kita lihat ada dalam semua proses pendidikan yang berjalan. Jangan pernah khawatir tidak ada orang-orang yang sepaham dengan kita. Rumusan mengenai pendidikan yang ideal ini bisa menjadi sebuah kesadaran dan kesepakatan bersama. Yang perlu kita lakukan adalah mencari dan menemukan tempat yang tepat.

Jadi, para guru, tidak perlu khawatir berada di tempat yang tidak tepat. Ada saatnya manusia akan tunduk pada proses, namun pada akhirnya kita akan dihadapkan pada banyak pilihan. Karena begitulah idealisme. Menunggu saat dan kesempatan yang tepat, sambil terus memperbaiki diri, menuju apa yang menjadi nilai ideal bagi masing-masing.



Apa kata mereka...

Hidup itu paradoks….

Paradoks antara kebebasan dan komitmen.

Kita semua terikat dengan kelompok. kelompok itu bisa saja keluarga kita, masyarakat di lingkungan sekitar, masyarakat agama kita, dsb.. jika kita telah terinternalize kedalam kelompok-kelompok kehidupan ini, itu artinya kita juga telah mengikat diri dengan komitmen yang telah disepakati oleh kelompok yang kita masuki itu. Ikatan kelompok ini mengikat erat kita dengan seperangkat aturan dan komitmen-komitmen yang sebenarnya pada awalnya dibuat oleh kita sendiri, yang akhirnya mau tidak mau harus kita patuhi juga. Jika kita melanggarnya resikonya adalah kita mendapatkan konfrontasi dari kelompok kita tersebut..

Sehingga dapat disimpulkan dengan singkat:  kelompok=komitmen yang mengikat..

Namun, setiap individu hakikatnya memiliki ”back stage”, dimana dia menjadi dirinya sendiri secara utuh, independent, ingin bebas dari tekanan dan juga aturan… bebas dalam artian bisa melakukan segala sesuatu berdasarkan kata hatinya, tanpa memikirkan apapun komitmen yang mengikat dirinya. Jika seseorang telah sampai pada posisi ini, maka dia akan mengalami dilema.. 

Disinilah Paradoks itu terjadi.  Sekali lagi, komitmen pada kelompok terkadang menghalangi kebebasan …..

Ada sebuah pertanyaan reflektif untuk anda,
Apa yang anda akan lakukan jika suatu saat apa yang benar-benar anda inginkan amat bertolak belakang dengan apa yang telah terkomitmen dalam kelompok yang anda masuki? Apakah anda akan menjunjung tinggi kebebasan individual anda? Atau tetap setia dengan komitmen yang telah anda taken dari kelompok anda meskipun itu amat menyiksa anda karena sangat bertentangan dengan apa yang otak anda fikirkan dan hati anda rasakan?
Silahkan jawab sendiri2….. 

Terkadang, kita harus mengacungkan jempol untuk orang-orang yang “berbeda” dan berani mengakuinya secara terbuka. Contohnya seseorang yang membuka dan berterus terang pada lingkunganya kalau dia adalah seorang gay. ini sangat tidak mudah. Bayangkan betapa banyak kecaman dari lingkungannya(kelompok) karena ia melanggar komitmen. Namun mereka berani menggambil resiko untuk mendapatkan apa yang disebut kebebasan individu itu…

Maka amat lebih baik, jangan pernah menghakimi orang lain… terlepas dari berapa banyak aturan dan komitmen yang telah dibuat, kita jangan pernah lupa, kita tidak pernah berada di posisi orang tersebut, dan kita tidak pernah tau apa yang telah dilewatinya. Peace.

Friday, July 11, 2014

hello !

a simply hello starts anything.
ceritanya ingin mencoba me-real kan kembali ide-ide abstrak yang kadang berseliweran di kepala.
tulisan-tulisan saya mungkin akan random, karena saya akan menulis apa yang terlintas di benak saja.
tulisan-tulisan saya juga pasti akan bermuatan pandangan pribadi, karena ya pasti ini sudut pandang saya, kacamata saya, yang saya dapatkan dari berbagai sumber yang saya olah, saya benturkan, dan terkadang saya campur.
feel free untuk diskusi, tapi dengan satu rule, kita harus sepakat untuk tidak sepakat.
kacamata saya mungkin berbeda dengan kacamata anda...
tapi bukan berarti saya benar atau anda salah,
atau saya salah tapi anda benar..
karena bisa jadi kita sama-sama benar,
atau sama-sama salah. hahaha