Friday, August 8, 2014

Our Ring.

I’m in the mood to share about my love life J
Dari berbagai perbedaan yang mengiringi hubungan kami (ciee, hahaha), ada satu hal yang dari jauh hari telah kami sepakati ketika sampai pada  suatu moment yang bernama pernikahan. Kesepakatan itu adalah dalam memilih  wedding ring.

Yak, untuk beberapa hal printilan pernikahan kami boleh jadi banyak berdebat, berkompromi dan saling mengalah. Tapi untuk urusan memilih cincin kawin, jauh sebelum kami berencana untuk menikah pun kami sudah menyepakati nya.

Saya dan Tohonan sepakat untuk mempunyai cincin kawin seperti ini :



Sebagian orang berpendapat mungkin cincin kawin kami adalah model jadul, tua, dan terlalu biasa, kayak cincin orang zaman dulu. Hahaha. You can say that

Tapi sebetulnya, kami memiliki filosofi sendiri mengapa akhirnya cincin seperti ini yang kami pilih. Let me explain :

Pertama, kami sepakat kalau cincin seperti ini adalah model cincin yang everlasting. Dari zaman opa-opa dulu, sampai sekarang cincin model ini masih ada. Kami berharap, sebagaimana cincin ini begitu juga dengan cinta kami, everlasting. (amiiin)

Kedua, cincin ini modelnya bulat, utuh, tanpa hiasan apapun. Begitupun dengan kehidupan cinta kami. Kami ingin selalu utuh, tanpa membiarkan pengganggu apapun yang membuat keutuhan itu tidak lagi utuh. Yaa jika dikaitkan dengan cincin, artinya kami tidak menginginkan hiasan - bahkan berlian- untuk berada dicincin ini.

Ketiga, cincin ini terbuat dari emas 24 karat dengan kadar hampir 100 %, artinya kami ingin yang paling murni. Meskipun setelah saya tau dari penjual perhiasan kalau hampir tidak ada cincin yang kadarnya 100%, karena sangat lembek dan tidak bisa dibentuk. Yaa setidaknya kami berusaha memilih yang semurni mungkin. Selain itu emas dengan kadar tinggi sangat fragile, kami ingin cincin ini menjadi pengingat bahwa cinta pasangan kami harus dijaga dengan baik. Karena fragile tentu akan menjadi fatal jika sedikit saja dilukai.

Keempat, kami ingin cincin yang sederhana, sesederhana cinta kami satu sama lain. Boleh jadi apapun yang mengiringi kisah kami penuh drama, rumit, penuh tantangan, namun kami akan selalu ingat bahwa kami tetap bisa bersama karena cinta kami sederhana. Saya menginginkan dia, dan dia menginginkan saya. Kesederhanaan cinta itulah yang membuat kami tidak bisa kemana-mana.


Pada akhirnya, memang cincin hanyalah sebuah simbol dari ikatan manusia. Bukan simbolnya yang penting, namun bagaimana kita memaknai simbol itulah yang penting. LOVE 

No comments:

Post a Comment