Orang bijak pasti berkata, tidak
ada sesuatu yang ideal. Benarkah? Bisa jadi iya. Karena makna ideal sendiri
adalah makna yang akan sangat sulit (kalau
tidak bisa disebut mustahil) untuk dirumuskan. Setiap orang pasti memiliki
standar ideal masing-masing, dan untuk menyamakan standar itu yaaa lagi-lagi
bisa dikatakan hampir mustahil
Lalu bagaimana dengan pendidikan?
Bukankah pendidikan adalah sesuatu yang harus dibuat se-ideal mungkin? Lalu bagaimana
jika tidak ada sesuatu yang ideal yang bisa disepakati?
Sebagai seorang murid dan guru, saya
akan sedikit bercerita...
Menurut saya siapa saya hari ini
adalah merupakan hasil dari apa yang telah saya alami sebelumnya. Mungkin untuk
lebih memahami mengapa akhirnya saya memiliki persfektif pendidikan seperti
ini, ada baiknya kita agak mundur sedikit ke fase ketika saya duduk di bangsu sekolah
dasar sampai sekolah tinggi.
Di bangku SD saya amat sangat
bersyukur karena saya mendapatkan guru-guru yang amat sangat bagus. Untuk ukuran
sebuah sekolah di kota kecil, guru-guru saya pada saat itu adalah guru-guru
yang sangat berfikiran terbuka dan memiliki pengetahuan luas. Jadi beliau-beliau
yang berjasa dalam pendidikan dasar inilai yang pertama kali membentuk
sudut pandang saya mengenai ideal nya
sebuah pendidikan : OPEN MIND. Setelah
dewasa kata ini saya pahami sebagai sebuah pola pikir dimana kita bersedia
untuk menghargai pendapat orang lain tanpa takut kita akan terlalu gampang
teracuni atau terpengaruh dengan pemikiran mereka.
Kemudian, jika saya harus
mengucapkan terimakasih, pendidikan dasar saya amat dibantu dengan banyak
bacaan bagus yang disediakan oleh orangtua saya. Berlangganan Majalah Bobo,
buku-buku dongeng, dan bahkan buku sastra Indonesia kepunyaan ayah saya (Hey, saya membaca burung-burung Manyar nya
YB Mangunwijaya saat saya kelas 3 SD-walau belum ngerti. haha) menjadi
sebuah kemewahan bagi otak saya. Secara tidak langsung dari buku-buku tersebut
saya telah diperkenalkan dengan dunia yang amat sangat beragam. Ya, KEBERAGAMAN adalah pemaknaan saya
terhadap pendidikan ideal. Artinya, pendidikan adalah sarana untuk membuat kita
makin terbuka dengan segala keberagaman meskipun tetap bangga dengan apa yang
dimiliki sendiri. Karena hal ini, saya secara pribadi menganggap pendidikan
yang menyeragamkan, yaaah we can say misalnya
pendidikan berbasis agama tertentu, pendidikan berbasis militer, dsb, adalah
kurang ideal menurut saya.
Lalu masuklah saya ke jenjang
pendidikan atas. Ada satu kejadian ketika saya menyaksikan seorang guru
menghukum murid dengan cara kekerasan dan sangat mempermalukan, ketika itu otak
saya tergelitik, apakah ini pendidikan ? apakah teman saya tersebut – meskipun salah – akan tergerak hatinya
untuk berubah setelah diperlakukan dengan demikian? Saya dengan sepenuh hati
meyakini bahwa hal itu tidak akan terjadi. Lalu bagaimana seharusnya pendidik
dalam aktivitas pendidikan itu menegur ketika salah?
Jawaban saya dapat ketika saya
memiliki pengalaman dengan adik bungsu saya. Suatu ketika dia ditegur untuk
tidak terlalu banyak bermain. Ayah saya menegur dengan cara menghukum, ibu saya
menegur dengan cara ngomel. Dan hasilnya,
tidak ada. Adik saya tetap melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya, saya
mencoba, mengajak dia berbicara sebagai dua orang yang setara. Pembicaraan kami
dua arah, dan dia boleh untuk mengungkapkan apa yang ada difikirannya. Perbincangan
diakhiri dengan kami menyepakati satu hal win-win
solution. Dan cara itu berhasil. Menurut saya itulah cara mendidik. Sehingga
pendidikan yang ideal harus meminta komitmen mereka yang terlibat untuk mau MENGHARGAI. Dengan mengajak siswa
berbicara, meskipun mereka melakukan kesalahan, itulah cara kita menghargai dan terbuka kepada
mereka.
Di bangku kuliah, saya adalah
seorang yang mengenyam pendidikan keguruan. Namun kebetulan jurusan yang saya
ambil adalah pendidikan Sosiologi. Di dalam kegiatan perkuliahan apa yang saya
pelajari bisa dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, mata kuliah bidang
keguruan dan yang kedua mata kuliah bidang sosiologi.
Untuk mata kuliah bidang
keguruan, saya adalah seorang mahasiwa yang sangat rajin bolos. Hahaha. Jatah bolos untuk tiap mata
kuliah ini pasti akan saya manfaatkan dengan baik. Kenapa? Karena selain materi
untuk mata kuliah ini menurut saya terlalu normatif, tipe pengajarnya juga
adalah tipe pendidik yang amat sangat otoriter. Kita tidak akan diizinkan untuk
mengemukakan apa yang ada di pikiran kita secara bebas, kecuali hal itu sejalan
dengan pemikiran mereka. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya.
Nah, disisi lain mata kuliah
bidang sosiologi adalah favorite saya. Saya selalu menanti apa yang akan
disampaikan dosen sebagai sesuatu yang sangat berharga. Tidak ada keterpaksaan
dalam mengikuti perkuliahan. Disini kami
pun bebas mengemukakan pendapat. Seperti nya saya memang tidak salah memilih
bidang sosiologi. Prinsip dasar ilmu sosiologi adalah hal yang memang sudah ada
dalam diri saya, malah sebelum saya mengenal sosiologi. Apa yang paling saya
suka dari ilmu sosiologi adalah pandangannya mengenai Non Etis.
NON ETIS, artinya tidak boleh menilai. Mengapa penilaian ini amat
penting bagi saya. Karena realita yang kita lihat manusia adalah makluk yang
amat sangat gampang menilai. Begitupun didunia pendidikan. Berapa banyak guru
yang masih menggunakan penilaian subjektif pada siswa. Melabel bodoh siswa yang
tidak pintar dalam matematika, meskipun siswa ini sangat pandai melukis. Bayangkan
bagaimana jika penilaian itu dibuat oleh seorang guru SD. Tentu siswa tadi
tidak akan menemukan sisi terbaik dari dirinya. Pendidikan, sejatinya harus
menyadari hal ini. Setiap siswa pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing.
Sehingga pada akhirnya, yang bisa saya katakan adalah pendidikan ideal merupakan sesuatu yang bisa
disepakati. Artinya kita bisa merumuskan pendidikan ideal dengan merangkum hal-hal
yang kita anggap penting dan ingin kita lihat ada dalam semua proses pendidikan
yang berjalan. Jangan pernah khawatir tidak ada orang-orang yang sepaham dengan
kita. Rumusan mengenai pendidikan yang ideal ini bisa menjadi sebuah kesadaran
dan kesepakatan bersama. Yang perlu kita lakukan adalah mencari dan menemukan
tempat yang tepat.
Jadi, para guru, tidak perlu
khawatir berada di tempat yang tidak tepat. Ada saatnya manusia akan tunduk
pada proses, namun pada akhirnya kita akan dihadapkan pada banyak pilihan. Karena
begitulah idealisme. Menunggu saat dan kesempatan yang tepat, sambil terus
memperbaiki diri, menuju apa yang menjadi nilai ideal bagi masing-masing.
No comments:
Post a Comment