Wednesday, July 23, 2014

Merumuskan Makna Pendidikan (Ideal)

Orang bijak pasti berkata, tidak ada sesuatu yang ideal. Benarkah? Bisa jadi iya. Karena makna ideal sendiri adalah makna yang akan sangat sulit (kalau tidak bisa disebut mustahil) untuk dirumuskan. Setiap orang pasti memiliki standar ideal masing-masing, dan untuk menyamakan standar itu yaaa lagi-lagi bisa dikatakan hampir mustahil

Lalu bagaimana dengan pendidikan? Bukankah pendidikan adalah sesuatu yang harus dibuat se-ideal mungkin? Lalu bagaimana jika tidak ada sesuatu yang ideal yang bisa disepakati?

Sebagai seorang murid dan guru, saya akan sedikit bercerita...

Menurut saya siapa saya hari ini adalah merupakan hasil dari apa yang telah saya alami sebelumnya. Mungkin untuk lebih memahami mengapa akhirnya saya memiliki persfektif pendidikan seperti ini, ada baiknya kita agak mundur sedikit ke fase ketika saya duduk di bangsu sekolah dasar sampai sekolah tinggi.

Di bangku SD saya amat sangat bersyukur karena saya mendapatkan guru-guru yang amat sangat bagus. Untuk ukuran sebuah sekolah di kota kecil, guru-guru saya pada saat itu adalah guru-guru yang sangat berfikiran terbuka dan memiliki pengetahuan luas. Jadi beliau-beliau yang berjasa dalam pendidikan dasar inilai yang pertama kali membentuk sudut  pandang saya mengenai ideal nya sebuah pendidikan : OPEN MIND. Setelah dewasa kata ini saya pahami sebagai sebuah pola pikir dimana kita bersedia untuk menghargai pendapat orang lain tanpa takut kita akan terlalu gampang teracuni atau terpengaruh dengan pemikiran mereka.

Kemudian, jika saya harus mengucapkan terimakasih, pendidikan dasar saya amat dibantu dengan banyak bacaan bagus yang disediakan oleh orangtua saya. Berlangganan Majalah Bobo, buku-buku dongeng, dan bahkan buku sastra Indonesia kepunyaan ayah saya (Hey, saya membaca burung-burung Manyar nya YB Mangunwijaya saat saya kelas 3 SD-walau belum ngerti. haha) menjadi sebuah kemewahan bagi otak saya. Secara tidak langsung dari buku-buku tersebut saya telah diperkenalkan dengan dunia yang amat sangat beragam. Ya, KEBERAGAMAN adalah pemaknaan saya terhadap pendidikan ideal. Artinya, pendidikan adalah sarana untuk membuat kita makin terbuka dengan segala keberagaman meskipun tetap bangga dengan apa yang dimiliki sendiri. Karena hal ini, saya secara pribadi menganggap pendidikan yang menyeragamkan, yaaah we can say misalnya pendidikan berbasis agama tertentu, pendidikan berbasis militer, dsb, adalah kurang ideal menurut saya.

Lalu masuklah saya ke jenjang pendidikan atas. Ada satu kejadian ketika saya menyaksikan seorang guru menghukum murid dengan cara kekerasan dan sangat mempermalukan, ketika itu otak saya tergelitik, apakah ini pendidikan ? apakah teman saya tersebut – meskipun salah – akan tergerak hatinya untuk berubah setelah diperlakukan dengan demikian? Saya dengan sepenuh hati meyakini bahwa hal itu tidak akan terjadi. Lalu bagaimana seharusnya pendidik dalam aktivitas pendidikan itu menegur ketika salah?

Jawaban saya dapat ketika saya memiliki pengalaman dengan adik bungsu saya. Suatu ketika dia ditegur untuk tidak terlalu banyak bermain. Ayah saya menegur dengan cara menghukum, ibu saya menegur dengan cara ngomel. Dan hasilnya, tidak ada. Adik saya tetap melakukan apa yang dia inginkan. Akhirnya, saya mencoba, mengajak dia berbicara sebagai dua orang yang setara. Pembicaraan kami dua arah, dan dia boleh untuk mengungkapkan apa yang ada difikirannya. Perbincangan diakhiri dengan kami menyepakati satu hal win-win solution. Dan cara itu berhasil. Menurut saya itulah cara mendidik. Sehingga pendidikan yang ideal harus meminta komitmen mereka yang terlibat untuk mau MENGHARGAI. Dengan mengajak siswa berbicara, meskipun mereka melakukan kesalahan,  itulah cara kita menghargai dan terbuka kepada mereka.

Di bangku kuliah, saya adalah seorang yang mengenyam pendidikan keguruan. Namun kebetulan jurusan yang saya ambil adalah pendidikan Sosiologi. Di dalam kegiatan perkuliahan apa yang saya pelajari bisa dikategorikan dalam dua kelompok. Pertama, mata kuliah bidang keguruan dan yang kedua mata kuliah bidang sosiologi.  

Untuk mata kuliah bidang keguruan, saya adalah seorang mahasiwa yang sangat rajin bolos. Hahaha. Jatah bolos untuk tiap mata kuliah ini pasti akan saya manfaatkan dengan baik. Kenapa? Karena selain materi untuk mata kuliah ini menurut saya terlalu normatif, tipe pengajarnya juga adalah tipe pendidik yang amat sangat otoriter. Kita tidak akan diizinkan untuk mengemukakan apa yang ada di pikiran kita secara bebas, kecuali hal itu sejalan dengan pemikiran mereka. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya.

Nah, disisi lain mata kuliah bidang sosiologi adalah favorite saya. Saya selalu menanti apa yang akan disampaikan dosen sebagai sesuatu yang sangat berharga. Tidak ada keterpaksaan dalam mengikuti perkuliahan.  Disini kami pun bebas mengemukakan pendapat. Seperti nya saya memang tidak salah memilih bidang sosiologi. Prinsip dasar ilmu sosiologi adalah hal yang memang sudah ada dalam diri saya, malah sebelum saya mengenal sosiologi. Apa yang paling saya suka dari ilmu sosiologi adalah pandangannya mengenai Non Etis.

NON ETIS, artinya tidak boleh menilai. Mengapa penilaian ini amat penting bagi saya. Karena realita yang kita lihat manusia adalah makluk yang amat sangat gampang menilai. Begitupun didunia pendidikan. Berapa banyak guru yang masih menggunakan penilaian subjektif pada siswa. Melabel bodoh siswa yang tidak pintar dalam matematika, meskipun siswa ini sangat pandai melukis. Bayangkan bagaimana jika penilaian itu dibuat oleh seorang guru SD. Tentu siswa tadi tidak akan menemukan sisi terbaik dari dirinya. Pendidikan, sejatinya harus menyadari hal ini. Setiap siswa pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Sehingga pada akhirnya, yang  bisa saya katakan adalah  pendidikan ideal merupakan sesuatu yang bisa disepakati. Artinya kita bisa merumuskan pendidikan ideal dengan merangkum hal-hal yang kita anggap penting dan ingin kita lihat ada dalam semua proses pendidikan yang berjalan. Jangan pernah khawatir tidak ada orang-orang yang sepaham dengan kita. Rumusan mengenai pendidikan yang ideal ini bisa menjadi sebuah kesadaran dan kesepakatan bersama. Yang perlu kita lakukan adalah mencari dan menemukan tempat yang tepat.

Jadi, para guru, tidak perlu khawatir berada di tempat yang tidak tepat. Ada saatnya manusia akan tunduk pada proses, namun pada akhirnya kita akan dihadapkan pada banyak pilihan. Karena begitulah idealisme. Menunggu saat dan kesempatan yang tepat, sambil terus memperbaiki diri, menuju apa yang menjadi nilai ideal bagi masing-masing.



Apa kata mereka...

Hidup itu paradoks….

Paradoks antara kebebasan dan komitmen.

Kita semua terikat dengan kelompok. kelompok itu bisa saja keluarga kita, masyarakat di lingkungan sekitar, masyarakat agama kita, dsb.. jika kita telah terinternalize kedalam kelompok-kelompok kehidupan ini, itu artinya kita juga telah mengikat diri dengan komitmen yang telah disepakati oleh kelompok yang kita masuki itu. Ikatan kelompok ini mengikat erat kita dengan seperangkat aturan dan komitmen-komitmen yang sebenarnya pada awalnya dibuat oleh kita sendiri, yang akhirnya mau tidak mau harus kita patuhi juga. Jika kita melanggarnya resikonya adalah kita mendapatkan konfrontasi dari kelompok kita tersebut..

Sehingga dapat disimpulkan dengan singkat:  kelompok=komitmen yang mengikat..

Namun, setiap individu hakikatnya memiliki ”back stage”, dimana dia menjadi dirinya sendiri secara utuh, independent, ingin bebas dari tekanan dan juga aturan… bebas dalam artian bisa melakukan segala sesuatu berdasarkan kata hatinya, tanpa memikirkan apapun komitmen yang mengikat dirinya. Jika seseorang telah sampai pada posisi ini, maka dia akan mengalami dilema.. 

Disinilah Paradoks itu terjadi.  Sekali lagi, komitmen pada kelompok terkadang menghalangi kebebasan …..

Ada sebuah pertanyaan reflektif untuk anda,
Apa yang anda akan lakukan jika suatu saat apa yang benar-benar anda inginkan amat bertolak belakang dengan apa yang telah terkomitmen dalam kelompok yang anda masuki? Apakah anda akan menjunjung tinggi kebebasan individual anda? Atau tetap setia dengan komitmen yang telah anda taken dari kelompok anda meskipun itu amat menyiksa anda karena sangat bertentangan dengan apa yang otak anda fikirkan dan hati anda rasakan?
Silahkan jawab sendiri2….. 

Terkadang, kita harus mengacungkan jempol untuk orang-orang yang “berbeda” dan berani mengakuinya secara terbuka. Contohnya seseorang yang membuka dan berterus terang pada lingkunganya kalau dia adalah seorang gay. ini sangat tidak mudah. Bayangkan betapa banyak kecaman dari lingkungannya(kelompok) karena ia melanggar komitmen. Namun mereka berani menggambil resiko untuk mendapatkan apa yang disebut kebebasan individu itu…

Maka amat lebih baik, jangan pernah menghakimi orang lain… terlepas dari berapa banyak aturan dan komitmen yang telah dibuat, kita jangan pernah lupa, kita tidak pernah berada di posisi orang tersebut, dan kita tidak pernah tau apa yang telah dilewatinya. Peace.

Friday, July 11, 2014

hello !

a simply hello starts anything.
ceritanya ingin mencoba me-real kan kembali ide-ide abstrak yang kadang berseliweran di kepala.
tulisan-tulisan saya mungkin akan random, karena saya akan menulis apa yang terlintas di benak saja.
tulisan-tulisan saya juga pasti akan bermuatan pandangan pribadi, karena ya pasti ini sudut pandang saya, kacamata saya, yang saya dapatkan dari berbagai sumber yang saya olah, saya benturkan, dan terkadang saya campur.
feel free untuk diskusi, tapi dengan satu rule, kita harus sepakat untuk tidak sepakat.
kacamata saya mungkin berbeda dengan kacamata anda...
tapi bukan berarti saya benar atau anda salah,
atau saya salah tapi anda benar..
karena bisa jadi kita sama-sama benar,
atau sama-sama salah. hahaha