Monday, October 13, 2014

drama Udah-Isi-Belom

Akhir-akhir ini saya suka kegerahan. Bukan karena musim hujan tak kunjung datang padahal udah bulan ber-beran (halaaah, ketauan  banget saya lahir nya kapan ), melainkan karena sebuah pertanyaan yang umumnya pasti dihindari dan dimalesin hampir semua pasangan di Indonesia yang baru nikah. Yes friend, saya sampai pada fase ditanyain UDAH-ISI-BELOM??

Sekarang, tiap kali liat muka saya ataupun Tohonan orang pastiiii hobi banget ngasih pertanyaan itu? Padahal saya dan Tohonan baru merried 10 bulan. Iyaa saya ulang 10 bulan. Astagaaaa.

Meskipun orangtua dan adik-adik kami tidak, namun pertanyaan ini jadi semacam pertanyaan wajib yang harus banget diajukan kepada kami. Entah oleh saudara, ataupun teman, malah yang dialami suami saya, dia sampi ditanya OB di kantornya yang DULU. Okelah, saya paham kalian mungkin ga sabar ngeliat hasil perpaduan kece Zulka dan Tohonan ini (hahaha) , tapi cobalah untuk memikirkan hal ini sebelum mengajukan pertanyaan  “Kalau kalian aja sudah ga sabar banget pingin liat baby kami (yaah saya menarik kesimpulan ini mengingat seringnya kalian bertanya), coba pikirkan betapa LEBIH kepinginnya kami “

Oke sebenernya memang kami tidak perlu bereaksi berlebihan dengan pertanyaan ini, anggap aja angin lalu ya kan? Belum tentu juga orang yang bertanya itu benar-benar ingin tahu. Sejauh ini memang yang biasa saya lakukan adalah pura-pura bego, menjawab “belom nih”. Titik.  Mungkin suami saya yang sedikit lebih nice, dia akan menjawab “Belum, doain aja yaa”, sambil tertawa. Meskipun drama pertanyaan ini terus berulang, tapi saya dan Tohonan masih dalam fase belum terlalu ambil pusing.  

Tapi, dengan mengalami ini saya jadi memikirkan satu hal, seringkali kita tanpa sadar terlalu sering untuk ingin “masuk” ke dalam kehidupan pribadi orang lain. Sebenarnya pertanyaan itu terkesan biasa, malah ada yang menafsirkannya memang sebagai ungkapan kepedulian. Tapi pernahkah kalian memikirkan seandainya pertanyaan tersebut diajukan kepada orang yang sudah bertahun-tahun melakukan segala cara untuk hamil tapi tak kunjung hamil juga. Mungkin sekarang, dengan waktu 10 bulan, saya baru sampai pada reaksi Haloooo-ada pertanyaan lain ga- malesin banget sih- , tapi bagaimana dengan mereka? Coba bayangkan kekecewaan yang mereka alami karena hal yang telah diusahakan tidak juga didapat, dan harus kalian tambahi dengan pertanyaan yang menegaskan hal yang belum mereka dapatkan itu. Tidak semua hal bisa diumbar ke ranah publik. Apa semua hal yang telah mereka coba lakukan, dokter mana yang mereka datangi, obat apa yang telah mereka minum harus mereka ceritakan untuk menjawab satu pertanyaan kalian itu?

Ingin tahu kehidupan pribadi orang terkadang keliahatannya memang menarik, apalagi mengomentarinya. Namun sekali lagi cobalah lebih berempati, bahkan kalau boleh mendoakan dengan tulus dan diam-diam. Bukannya diteriakkan dengan keras didepan orangnya “aku doain yaaa” , tapi setelah itu tidak sedikitpun mengucap doa untuk dia.

Akhirnya, pernah mendengar ungkapan sesuatu akan indah pada waktunya? Nah itulah, manusia tetap manusia. Bukan Tuhan yang tau kapan saat yang indah itu. Jadi mari bantu kami menunggu waktu itu tanpa terlalu banyak mengajukan pertanyaan

PEACE






No comments:

Post a Comment