Akhir-akhir ini saya suka
kegerahan. Bukan karena musim hujan tak kunjung datang padahal udah bulan
ber-beran (halaaah, ketauan banget saya lahir nya kapan ), melainkan
karena sebuah pertanyaan yang umumnya pasti dihindari dan dimalesin hampir
semua pasangan di Indonesia yang baru nikah.
Yes friend, saya sampai pada fase ditanyain UDAH-ISI-BELOM??
Sekarang, tiap kali liat muka
saya ataupun Tohonan orang pastiiii hobi banget ngasih pertanyaan itu? Padahal saya
dan Tohonan baru merried 10 bulan. Iyaa saya ulang 10 bulan. Astagaaaa.
Meskipun orangtua dan adik-adik kami
tidak, namun pertanyaan ini jadi semacam pertanyaan wajib yang harus banget
diajukan kepada kami. Entah oleh saudara, ataupun teman, malah yang dialami suami
saya, dia sampi ditanya OB di kantornya yang DULU. Okelah, saya paham kalian
mungkin ga sabar ngeliat hasil perpaduan kece Zulka dan Tohonan ini (hahaha) , tapi cobalah untuk memikirkan
hal ini sebelum mengajukan pertanyaan “Kalau kalian aja sudah ga sabar banget
pingin liat baby kami (yaah saya menarik kesimpulan ini mengingat seringnya
kalian bertanya), coba pikirkan betapa LEBIH kepinginnya kami “
Oke sebenernya memang kami tidak
perlu bereaksi berlebihan dengan pertanyaan ini, anggap aja angin lalu ya kan? Belum
tentu juga orang yang bertanya itu benar-benar ingin tahu. Sejauh ini memang
yang biasa saya lakukan adalah pura-pura bego, menjawab “belom nih”. Titik. Mungkin
suami saya yang sedikit lebih nice, dia akan menjawab “Belum, doain aja yaa”, sambil tertawa. Meskipun drama pertanyaan
ini terus berulang, tapi saya dan Tohonan masih dalam fase belum terlalu ambil
pusing.
Tapi, dengan mengalami ini saya
jadi memikirkan satu hal, seringkali kita tanpa sadar terlalu sering untuk
ingin “masuk” ke dalam kehidupan pribadi orang lain. Sebenarnya pertanyaan itu
terkesan biasa, malah ada yang menafsirkannya memang sebagai ungkapan
kepedulian. Tapi pernahkah kalian memikirkan seandainya pertanyaan tersebut
diajukan kepada orang yang sudah bertahun-tahun melakukan segala cara untuk
hamil tapi tak kunjung hamil juga. Mungkin sekarang, dengan waktu 10 bulan,
saya baru sampai pada reaksi Haloooo-ada
pertanyaan lain ga- malesin banget sih- , tapi bagaimana dengan mereka? Coba
bayangkan kekecewaan yang mereka alami karena hal yang telah diusahakan tidak
juga didapat, dan harus kalian tambahi dengan pertanyaan yang menegaskan hal
yang belum mereka dapatkan itu. Tidak semua hal bisa diumbar ke ranah publik. Apa
semua hal yang telah mereka coba lakukan, dokter mana yang mereka datangi, obat
apa yang telah mereka minum harus mereka ceritakan untuk menjawab satu pertanyaan
kalian itu?
Ingin tahu kehidupan pribadi
orang terkadang keliahatannya memang menarik, apalagi mengomentarinya. Namun sekali
lagi cobalah lebih berempati, bahkan kalau boleh mendoakan dengan tulus dan
diam-diam. Bukannya diteriakkan dengan keras didepan orangnya “aku doain yaaa” , tapi setelah itu
tidak sedikitpun mengucap doa untuk dia.
Akhirnya, pernah mendengar
ungkapan sesuatu akan indah pada waktunya? Nah itulah, manusia tetap manusia. Bukan
Tuhan yang tau kapan saat yang indah itu. Jadi mari bantu kami menunggu waktu
itu tanpa terlalu banyak mengajukan pertanyaan
PEACE
![]() |

No comments:
Post a Comment