Wednesday, November 5, 2014

Guru dan Saya

"Jika sang murid sudah siap, maka sang guru akan muncul"

Ada yang sudah pernah mendengar kalimat itu?

Ya kalimat itu adalah petikan dari Bhagavad Gita. No no no jgn langsung menilai tulisan ini akan penuh bahasa-bahasa rumit nan filosofis. Hahahaa. Tulisan ini akan amat ecek-ecek . Saya cuma meminjam satu kalimat itu saja.

Sewaktu pertama kali mendengar kalimat tersebut, terus terang saya berfikir. Apa iya? Apa memang semua tergantung murid? Apa disini posisi muridlah yang menentukan kapan pelajaran itu akan dimulai?

Saya merefleksi diri. Saya pastilah seorang murid. Siapa guru saya? Sepanjang hidup saya pasti saya telah menemui banyak guru. Lalu kapan kah saya menyadari pelajaran apa saja yg telah mereka berikan?

Terlalu banyak jika semua guru saya harus saya tulis disini. Saya akan mencoba untuk mengaitkan kalimat tsb dgn guru-guru yg saya temui 1 tahun terakhir ini.

Kita akan mulai dengan ini : kurang lebih setahun yang lalu, saya harus menjalani sebuah operasi. Dari operasi itu apa efek samping yg saya dapat? Saya jadi super ketakutan untuk menghadapi segala macam hal yg berbau belah membelah, bedah membedah ataupun jahit menjahit. Mungkin ada yg menganggap berlebihan. Tapi, sampai detik ini saya masih dapat membayangkan bagaimana rasanya. Badan sy sdh terbius lokal, td akan merasakan sakit, tapi saya masih bisa merasakan sayatan pisau yg merobek kulit saya, dan darah yg kemudian mengalir dari luka segar saya. Itu adalah salah satu hal yg tidak akan saya lupakan. Ketika proses operasi terjadi pun saya masih bisa merasakan kulit saya yg ditarik dan kemudian di jahit. Setelahnya beberapa malam kemudian sudah pasti saya akan selalu membayangkan hal itu. Luka saya mungkin cepat sembuh. Tapi secara psikologis saya tau ada sebuah luka yg terbentuk jauh di dalam jiwa saya. Saya trauma. Pada segala macam bentuk operasi.

Dari situ, saya tau segala macam bentuk operasi harus saya hindari. Jika Tuhan mengizinkan saya harap itulah operasi pertama dan terakhir yg akan saya rasakan. Saya berjanji akan melakukan apapun untuk menghindarkan diri dari hal itu.

Lalu ada satu hal yg menggelitik saya. Saya perempuan. Suatu saat saya akan hamil, suatu saat saya harus melahirkan, dan saya tau ada kemungkinan yg bernama caesar. Dan saya yakin caesar akan berkali-kali lipat horor nya dari operasi yg pernah saya alami sebelumnya. Saya pernah mendengar cerita teman-teman saya yg pernah caesar kalau mereka masih merasakan semua proses belah membelah-sayat menyayat-tarik menarik itu. Dengan kondisi yg amat sadar. Whaaat ! Saya adalah org yg sangat bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Saya yakin saya akan histeris begitu saya berada di situasi itu. Saya harus melakukan apapun. Apapun. Untuk tidak sampai merasakan hal itu. Saya tau Tuhan pun selalu berkehendak supaya kita manusia terus belajar, terus mencari. Dititik ini saya merasa saya harus mencari tahu jawaban ini.

"Ketika sang murid sudah siap, maka sang guru akan muncul".
Guru, sebenarnya sudah ada. Sudah terlebih dulu ada sejak kita murid-muridnya ini bahkan belum menyadari keberadaannya. Guru, masih tersembunyi, menunggu kita menyiapkan diri untuk pertemuan dengan nya. Untuk membuat kita tidak terkejut untuk menemukan bagaimanapun "wujud" guru kita ini nantinya.


Ditemani rasa trauma saya, kami mulai menjelajah dunia pengetahuan. Kami mulai mencari apakah kiranya yang bisa membuat kami berdua berdamai. Pencarian pertama membawa kami pada pengetahuan mengenai tree of life.  Saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan hal ini. Karena saya bukan pendoktrin. Silahkan temukan sendiri apa itu tree of life. Tapi dititik ini. Kami, saya dan rasa trauma saya menemukan mengenai keseimbangan hidup. Bahwa saya pada akhirnya harus berdampingan dengan trauma adl karena kami tidak sampai pada kondisi seimbang. Sampai disini kami menemukan awal, namun masih sangat jauh dgn penyelesaian mengenai anak dari trauma saya, si caesar.

Manusia tdk pernah boleh berhenti. Saya sdh bertemu guru tree of life , lalu perjalanan pun berlanjut. Guru berikutnya mulai menampakkan diri dalam wujud penemuan artikel penyembuhan holistik. Lagi-lagi disini saya tdk akan membahas apa itu penyembuhan holistik. Silahkan cari sendiri . Yang jelas guru kedua ini sejalan dgn guru pertama saya. Melalui guru kedua saya tau apa yg saya cari. Ada sebuah alternatif. Ada sebuah metode yg dengannya saya tetap bisa seimbang. Ada sebuah metode yg dengannya saya tidak usah lagi berhadapan dengan trauma.
Kemudian, guru kedua membimbing saya untuk betemu dengan guru ketiga. Sosok guru ke 3 ini datang dengan cukup spektakuler. Membuat saya cukup ternganga dan membolak balik kan perspektif saya. Guru ketiga ini membuka mata saya selebar-lebarnya tentang sebuah hal lama yg justru sangat modern.

Saya ingat, semasa kuliah saya dan teman-teman pernah melakukan sebuah penelitian mengenai pertanian organik. Di penelitian ini kami menyatakan bahwa pertanian organik yg mengesampingkan hal-hal modern dan kembali kepada alam adalah sesuatu yg justru menjadi sebuah alternatif yg lbh baik. Post modern. Justru lebih modern dari yg modern. Saya sdh memiliki pengetahuan ini. Guru ketiga saya cukup merecall pengetahuan ini

Adalah Gentle Birth. Sesuatu yg dibawa oleh guru ketiga saya ini. Melalui sebuah video yg berjudul birth as we know it (silahkan cari di youtube) saya terkesima. Saya pernah menonton video org melahirkan. Saya pun kerap dicekoki adegan-adegan persalinan. Dan semua hal itu mendatangkan gambaran horor. Dan melihat video itu semua hal yg sdh saya tau diputar balik kan. Namun mata saya terbuka lebar. Sebelumnya satu hal yg saya percaya , satu hal yg menggelitik saya, org sering berkata bayi sdh bisa mendengar dan merasa dari kandungan, lalu tidakkah persalinan yg penuh drama, teriakkan dan cakaran ala gambaran di film dan sinetron akan mempengaruhi mereka? Dan guru gentle birth saya menjawab semua ini. Terlebih lagi dia pun menawarkan kepada saya cara untuk menghindari trauma operasi dan segala atribut sayat menyanyat itu. Namun Guru ketiga saya ini meminta banyak. Banyak hal yang harus saya paham. Banyak hal yg harus saya pelajari, banyak hal yg harus saya latih. Tapi semenjak dia memperkenalkan diri kepada saya. Saya sdh memutuskan saya akan menjadi murid nya. Saya akan mengikuti apapun perkataannya. Saya menyerahkan diri kepadanya.

Guru pertama, kedua dan ketiga saya telah bersepakat . Mereka menginginkan saya menjadi muridnya. Mungkin dahulu mereka punya satu mahaguru dan mahaguru ini lah yg menetapkan urutan kapan mereka satu persatu akan menemui saya. Semua menunggu saya siap. Semua menunggu saya membuka diri untuk mereka

Ternyata, saya masih diperkenankan menemukan guru keempat dan kelima dalam waktu yg hampir bersamaan. Sebuah situasi lagi-lagi memaksa saya untuk menerima sebuah hal. Berbekal pengetahuan dr guru ketiga guu terdahulu  tentu saja penawar yg saya cari adalah yg sejalan dengan guru saya terdahulu.

Guru keempat sebenarnya pernah saya temui. Namun pada masa itu kesiapan saya belum cukup, sehingga guru pun tdk sempat menampakkan diri secara utuh kepada saya. Dan sekarang saya pun mencarinya lagi dan dia tau saya sdh siap. Guru keempat saya , yoga. Dia kembali menyapa saya.
Bersamaan dgn sang guru keempat datanglah juga karib nya, dalam wujud essential oil. Guru kelima ini kembali berkata, "kau harus seimbang murid ku, kembalilah pada sesuatu yg alami. Bukankah kau sdh belajar itu?" Dan tanpa ragu guru ini pun saya terima.

Mungkin, seiring dengan kesiapan saya, akan lebih banyak guru lain yg datang. Mereka hanya sedang menunggu tugas dari mahaguru untuk menghampiri saya. Ada banyak hal-hal yg belum saya siapkan. Ada banyak hal-hal yg belum saya terima. Namun seiring dgn kesadaran, seiring dgn pelajaran dari guru-guru terdahulu saya akan menerima dan membuka pintu selebar-lebarnya untuk guru-guru lain yg datang. Karena saya percaya, mahaguru tau siapa saya. Mahaguru tau guru mana saja yg tepat untuk saya...